Homeless Media, Saat Media Sosial Jadi Rumah Baru Informasi

pada 22 hari lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id -Media sosial kini bukan lagi sekadar tempat hiburan atau berbagi aktivitas pribadi. Platform seperti Instagram, TikTok, hingga X mulai dipenuhi akun-akun yang berfungsi layaknya media informasi, mulai dari membagikan berita terkini, rekomendasi tempat makan, hingga berbagai kejadian viral di suatu daerah.

Fenomena ini dikenal dengan istilahhomeless media, yaitu akun media digital yang menyebarkan informasi tanpa memiliki situs web sebagai kanal utama publikasi.

Istilahhomeless mediamuncul sekitar tahun 2017 dan terus berkembang hingga saat ini. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi di era digital.




Kehadiran ini diperkuat karena audiens cenderung lebih menyukai informasi yang singkat, cepat, praktis, dan mudah dipahami. Karena itu, banyak orang memilih memperoleh kabar terbaru langsung melalui media sosial dibandingkan membaca berita panjang di situs media konvensional.


Pertumbuhan homeless media di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari tingginya penetrasi internet. DataWe Are Socialper April 2026 mencatat Indonesia berada di urutan keempat dunia dengan sekitar 230 juta pengguna internet aktif. Internet kini dimanfaatkan masyarakat untuk mencari informasi, berkomunikasi, mencari hiburan, serta mengikuti berita dan berbagai kejadian terkini.

Kebiasaan inilah yang kemudian mendorong media sosial menjadi salah satu sumber informasi utama masyarakat.

Ketika Informasi Cepat Tak Selalu Tepat

Secara umum,homeless mediamenunjukkan bagaimana media sosial telah mengubah cara masyarakat memproduksi sekaligus mengonsumsi informasi. Dengan mengandalkan kecepatan, kedekatan dengan audiens, dan format konten yang ringan, mereka berhasil menarik hati audiens serta jadi salah satu sumber informasi yang diminati di era digital.

Konten yang paling sering menarik perhatian biasanya berkaitan dengan kriminalitas, fakta unik daerah, konflik antarwarga, hingga kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kota.

Untuk menarikengagement,homeless mediabiasanya menyajikan informasi dalam berbagai format, mulai dari berita singkat, infografis, hingga video pendek.



Namun, di balik kemudahan dan tingginya interaksi tersebut,homeless mediajuga menghadapi tantangan besar, terutama terkait akurasi dan proses verifikasi informasi.

Meski sebagian akun telah memiliki standar verifikasi tertentu, masih banyak akun kecil yang lebih fokus mengejar potensi viral dibandingkan ketepatan informasi. Akibatnya, risiko penyebaran informasi yang belum terverifikasi tetap cukup besar.

Secara keseluruhan, keberadaanhomeless mediamasih sangat bergantung padaplatformmedia sosial. Perubahan algoritma maupun pembatasan platform juga dapat mempengaruhi jangkauan dan keberlangsungan akun-akun tersebut.

Dari Akun Viral jadi Sumber Informasi

Besarnya pengaruhhomeless mediaterlihat dari jumlah pengikut yang dimiliki sejumlah akun populer di Instagram. Folkative misalnya memiliki lebih dari 7 juta pengikut, sementara USS Feed dan Cretivox juga berhasil membangun audiens besar lewat konten informatif dan gaya komunikasi yang dekat dengan pengguna media sosial.

Jika dilihat dari jenis unggahannya, akun-akun tersebut tidak hanya fokus pada satu kategori konten, tapi cukup bervariasi. Selain berita dan informasi terkini, mereka juga memuat konten seputar gaya hidup, kuliner, kutipan motivasi, hingga nostalgia yang dekat dengan pengalaman audiens.


Variasi konten ternyata lebih relevan dan mudah diterima oleh berbagai kalangan pengguna media sosial meskipun dari segi desain, template yang digunakan cenderung sederhana dan mudah dikenali.

Namun, kekuatannya ada di kemampuan menjaga interaksi dengan audiens karena hampir setiap postingan mendapat engagement yang tinggi, mulai dari jumlah likes, komentar, share, hingga repost. Ini menunjukkan kedekatan dengan audiens dan pemahaman terhadap tren media sosial menjadi faktor penting dalam perkembangan homeless media.

Ramai Disorot usai Disebut Bermitra dengan Pemerintah

Belakangan, banyak yang mencari pengertianhomeless mediasetelah Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) melakukan pertemuan dengan Indonesia New Media Forum (INMF).

Dalam konferensi pers pada Rabu (6/5), Kepala Bakom Muhammad Qodari menjelaskan bahwa kehadiran INMF merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Tak hanya melalui media konvensional, tapi juga kanal-kanal digital.

"Tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realitas media atau realitas komunikasi kita, sebagai bentuk dari perkembangan teknologi dan sosial kemasyarakatan," jelasnya.

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, sempat memberikan tanggapan mengenaihomeless media. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu tanggap terhadap perubahan tersebut.

"Pemerintah kalau toh ada perhatian padahomeless media, kalau itu dianggap sebagai satu realitas masyarakat, itu kan bagus. Pemerintah itu harus tanggap pada realitas masyarakatnya, salah satunya munculhomeless media," ujarnya pada Minggu (10/5).

Ia juga mengingatkan jikahomeless mediatidak bisa diposisikan sebagai humas pemerintah.

"Jangan hendaknya mereka itu menjadi humas. Humas sudah ada lagi posisinya. Media massa itu bukan humas pemerintah, tapi mitra yang sejajar untuk saling berbagi informasi demi kesehatan tubuh masyarakat," tambahnya.

Disisi lain, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Firdaus, menilai keberadaanhomeless mediaini harus diterima oleh Dewan Pers dan perlu dilakukan penyesuaian regulasi agar lebih relevan dengan perkembangan teknologi.

“Yang terpenting adalah media tetap menjalankan fungsi pers secara bertanggung jawab, menjunjung etika jurnalistik, dan memiliki legalitas sesuai undang-undang. Regulasi harus mampu mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Di tengah polemik tersebut, sempat muncul narasi bahwa INMF menjadi mitra resmi pemerintah. Bahkan beredar daftar puluhan media yang disebut tergabung dalam forum tersebut. Namun, INMF membantah adanya kontrak maupun kerja sama dengan Bakom.


Di unggahan di akun Instagram @inmf.id, INMF menegaskan bahwa forum tersebut bersifat independen dan tidak memiliki kesepakatan kerja sama dengan Bakom.

"Terkait pemberitaan yang beredar, kami menegaskan bahwa tidak ada komitmen maupun kesepakatan antara INMF dan Bakom. Pertemuan yang terjadi merupakan bagian dari ruang dialog untuk saling bertukar perspektif terkait perkembangan ekosistem media digital, di mana kami lakukan juga ke antar ekosistem media massa, akademisi, figure publik, dan komunitas", dikutip dari unggahan Instagram @inmf.id.

INMF juga meluruskan bahwa daftar media yang beredar bukanlah daftar anggota resmi, melainkan dokumen pemetaan ekosistem industri dan media sosial yang digunakan sebagai bahan diskusi internal.

Pertemuan antara Bakom danhomeless mediaternyata mendapatkan kritik dari Forum Wartawan Kebangsaan (FWK). Koordinator FWK, Raja Parlindungan Pane, menilai kebijakan tersebut berisiko karena menyamakan media profesional denganhomeless mediayang belum memiliki kejelasan legalitas, struktur organisasi, redaksi, maupun kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

“Pers memiliki aturan, kode etik, mekanisme verifikasi, serta tanggung jawab hukum yang jelas. Ketika pemerintah merangkulhomeless mediatanpa parameter yang tegas, maka itu berpotensi merusak tatanan pers nasional,” ujarnya.

Ia juga meminta pemerintah tidak mengaburkan batas antara lembaga pers dengan pihak-pihak yang memproduksi konten digital tanpa standar jurnalistik yang jelas.

“Kalau semua dianggap pers, lalu di mana posisi perusahaan pers yang selama ini menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional dan mematuhi kode etik jurnalistik? Negara jangan sampai menghapus marwah profesi wartawan,” tegasnya.

Editor: Hani Nur Fajrina