Imbas Tren AI: Harga RAM 'Digoreng' 300%, Pedagang & Pembeli Menjerit

Uzone.id-Dampak dari krisis chip global sudah dirasakan langsung oleh para pedagang maupun konsumen di pasar komputer dan laptop di Indonesia. Kenaikan harga RAM dan SSD di Indonesia jadi tak terkira, bahkan bisa lebih dari 300 persen.
Situasi ini tidak lepas dari pesatnya permintaan dan penggunaan AI secara global, fenomena yang bahkan punya ‘panggilan resminya’ sendiri, yakni AI Bubble.
Dari pantauan kami di Harco Mangga Dua, Jakarta Pusat, keluhan soal harga initerdengar nyaringdari lapak ke lapak.
Saubi misalnya, seorang Admin Sales di salah satu toko rakitan mengatakan, bahwa kenaikan harga ini sudah terprediksi sejak pertengahan tahun lalu dan baru benar-benar mempengaruhi pasar di akhir tahun 2025. Ia yakin, harga tinggi ini bakal terus terjadi setidaknya sampai tahun 2027.
"Sebelum ada kenaikan karena AI-AI itu ya, nah sekarang itu dia di harga hampir Rp1 jutaan,” ungkapnya.
Ia memberikan contoh seperti harga RAM merek Lexar yang dulunya dijual seharga Rp350 ribuan, kini harganya sudah nyaris Rp1 juta. Katanya, rata-rata RAM 8 GB DDR4 yang dulu murah meriah di angka Rp250 ribu, sekarang dibanderol dengan harga Rp975 ribu.
“Jadi lebih dari sekitar 300 persen kenaikan harganya. Jadi jualannya agak susah ya, sedangkan kebanyakan yang kesini kan dari kantor,” keluh Saubi.
Kondisi kenaikan harga RAM dan SSD ini makin parah dampaknya di segmenhigh-end. Rifaldi, sales toko komputer lainnya, menunjuk varian DDR5 sebagai komponen dengan kenaikan harga paling brutal.
Merek Corsair salah satunya, harganya melambung hingga 200 persen. Menurutnya, satu set RAM kit 32 GBx2 yang tadinya bisa ditebus dengan Rp10 jutaan, sekarang harganya naik drastis ke angka Rp30 jutaan.
Tak cuma RAM, harga SSD pun ikut naik. Varian SSD 1 TB yang biasanya stabil di kisaran Rp1 jutaan, kini rata-rata sudah menyentuh Rp2 jutaan, tergantung mereknya.
Toko jadi sepi, pembeli syok
Lonjakan harga komponen ini bikin pasar langsung lesu. Saubi blak-blakan menyebut penjualan di tokonya anjlok sampai 65 persen. Rifaldi pun mengamini hal serupa, kalau tokonya kini jauh lebih sepi dari biasanya.
Demi terus bertahan, para pedagang ini harus memutar otak dengan menggenjot penjualanonlinedan memanfaatkan voucher diskon agar stok barang tetap jalan.
Kekacauan harga ini juga bikin pusing konsumen, terutama klien korporasi. Saubi sering mendapatkan keluhan dari kantor-kantor yang sudah mengajukan anggaran dari beberapa bulan sebelumnya, mendadak harga komponen yang akan mereka beli naik di bulan berikutnya.
“Pengadaannya misalnya dari bulan Januari, nah PO-nya turun di bulan Februari. Atau sebelumnya kayak di Desember, turun PO-nya di Januari. Jadi ketika PO turun, mereka jugashockkan, kok naik mbak? Sebenarnya kita juga nggak mau naikin kan, karena kan dari sananya kan naik kita juga harus naikin,” jelas Saubi.
Hal ini juga terjadi di toko lainnya. Agres.id misalnya, Lala, seorang sales laptop menuturkan bahwa kenaikan harga yang paling terasa di segmen laptop gaming.
Dulu, biayaupgradeRAM paling sekitar Rp500 ribu, tapi sekarang per kepingnya bisa di atas Rp1 juta. Alhasil, banyak pembeli yang memilih pasrah dan memakai spesifikasi bawaan pabrik daripada harus keluar uang jutaan rupiah hanya untukupgrade.
“Biasanya bisa di harga Rp500 ribu, untuk sekarang perkepingnya bisa sentuh di atas Rp1 juta. Jadi untuk orang yang mau upgrade laptop dibuat mikir dua kali. Jadi banyak yang pilih langsung spesifikasi bawaan dibanding upgrade mandiri,” katanya.
Barang bekas jadi solusi
Saat RAM dan SSD baru harganya makin tak masuk akal, komponen bekas pun jadi solusi terbaik untuk saat ini. Taufiq, pemilik toko spesialis RAM bekas, mengakui kalau sekarang tokonya kian ramai didatangi pembeli.
"Harga RAM baru melonjak dari Rp300 ribuan ke Rp700 ribuan. Sedangkan RAM bekas naiknya cuma dikit, paling dari Rp150 ribu jadi Rp200 atau Rp250 ribu," jelas Taufiq.
Walaupun garansinya cuma satu bulan, konsumen seolah tak peduli. Varian RAM laptop 4 GB dan 8 GB menjadi item yang paling laris manis diburu.
Fenomena ini bahkan ikut mengerek harga laptop bekas, yang mana unit yang biasanya dijual Rp3 jutaan kini naik jadi Rp3,5 juta karena nilai komponen di dalamnya ikut mahal.
Hal ini juga diakui oleh Saddam, seorang mahasiswa yang ditemui di lokasi. Dengan budget terbatas Rp3-5 juta, ia memutuskan membeli laptop bekas Lenovo dengan RAM 8 GB.
Baginya, memaksakan beli baru sudah tidak mungkin, sementara bertahan dengan RAM 4 GB sudah tidak sanggup untuk kebutuhanmultitaskingzaman sekarang.
"Kenaikan harga RAM jadi pertimbangan banget, karena RAM 4GB udah nggakworth it," pungkas Saddam.