Indonesia Tambah Pabrik Baterai Mobil Listrik Baru di 2026

pada 5 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id- Indonesia akan ketambahan satu pabrik baterai mobil listrik lagi di awal tahun 2026 ini. Bahkan pabrik yang dibangun di Karawang, Jawa Barat, ini ditargetkan bakal resmi pada semester pertama.

Ini disampaikan pertama kali oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil lahadalia dalam konferensi pers Capaian Kinerja kementerian ESDM yang tayang di Youtube.

Pabrik baterai baru di Indonesia ini dikembangkan oleh Antam, konsorsium Indonesia Battery Corporation (IBC), serta konsorsium perusahaan China yan terdiri dari CATL, Brunp, dan Lygend.

“Ekosistem baterai mobil yang di-groundbreaking oleh Bapak Presiden Prabowo di Karawang kemarin, direncanakan diresmikan pada semester I 2026,” ujar Bahlil dikutip dari Youtube Kementerian ESDM.




Dengan berdirinya pabrik baru baterai mobil listrik ini, Indonesia akan memiliki dua pabrik ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis nikel yang terintegrasi.

"Artinya, nanti sudah ada dua pabrik baterai kita di Indonesia yang berbasis ekosistem nikel," jelas Bahlil.

Hadirnya pabrik baterai nikel di Indonesia merupakan bagian dari agenda hilirisasi mineral strategis yang diarahkan oleh pemerintah.





Hal ini memiliki fokus utama dalam meningkatkan nilai tambah nikel melalui industri manufaktur baterai kendaraan listrik.

Sebelumnya Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan proyek ini berpotensi menciptakan nilai tambah yang besar bagi perekonomian nasional.

Dengan adanya investasi pabrik baterai nikel baru di Indonesia, pemerintah memperkirakan potensi dampak ekonominya bisa mencapai 48 miliar dolar AS atau sekitar Rp776 triliun.




Prabowo berpendapat nilai tambah yang dihasilkan diperkirakan bisa mencapai delapan kali lipat dari nilai investasi awal. Bahkan manfaat ekonominya juga bisa dirasakan di Jawa Barat, Maluku Utara, dan wilayah lain yang terlibat dalam rantai pasok ekosistem baterai.

Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diperkirakan menciptakan sekitar 8.000 lapangan kerja langsung dan sekitar 35.000 tenaga kerja tidak langsung.

Pabrik baterai ini memiliki kapasitas produksi maksimal hingga 15 GWh. Kapasitas tersebut diproyeksikan mampu memasok kebutuhan baterai untuk sekitar 250.000 hingga 300.000 kendaraan listrik.

Selain itu, keberadaan pabrik baterai ini juga berpotensi menghemat impor BBM hingga sekitar 300.000 kiloliter.