Intel ‘Diselamatkan‘ Suntikan Dana Rp32 T tapi Bukan dari Pemerintah AS

pada 9 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id –Intel makin terseok-seok. Tahun lalu, nilai saham perusahaan anjlok hingga 60 persen dengan catatan kerugian tahunan sebesar USD18,8 miliar atau setara dengan Rp306,16 triliun.

Di tengah tren ledakan kecerdasan buatan (AI) di sektor semikonduktor, langkah Intel dinilai masih tertinggal. Di sisi lain, perusahaan juga tengah menghadapi tantangan di mana bisnis manufaktur chip menyedot banyak biaya namun Intel belum menghasilkan basis pelanggan yang signifikan.

Beruntung, Intel baru saja mendapat sokongan dana dari perusahaan investasi global Softbank.Perusahaan tersebut menyuntikkan dana sebesar USD2 miliar atau sekitar Rp32,5 triliun melalui pembelian saham.





Dengan suntikan dana setara 2 persen saham, Softbank telah menjadi pemegang saham Intel terbesar kelima. Langkah ini juga menjadi bukti dukungan Softbank untuk pengembangan bisnis manufaktur chip Intel.

Kabar baik ini kemudian berimbas kepada saham Intel. Tercatat, saham Intel melonjak hingga 5,6 persen dalam perdagangan setelah jam pasar. Sayangnya, saham Softbank malah turun lebih dari 5 persen setelah pengumuman tersebut.

Di sisi lain, berita bahwa pemerintah AS ingin mengakuisisi saham Intel pun makin santer. Kabarnya, pemerintah tengah membahas kemungkinan pengambilalihan kepemilikan saham sebanyak 10 persen. Dengan kapitalisasi pasar Intel saat ini, 10 persen diperkirakan bernilai sekitar USD10,5 miliar atau Rp171,10 triliun.

Pemerintah tengah mempertimbangakan skema investasi dengan mengonversi sebagian atau seluruh hibah Intel dari program US Chips and Science Art menjadi saham. Apabila benar terjadi, maka pemerintah AS akan menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan produsen chip tersebut.





Rumor ini dimulai dari sebuah berita yang muncul kurang dari sepekan setelah Trump mendesak Lip-Bu Tan, CEO Intel, untuk mengundurkan diri. Pemerintah menilai Lip-Bu Tan memiliki potensi konflik kepentingan.

Dugaan tersebut bermula ketika Tom Cotton, senator Partai Republik, mengirim surat kepada dewan Intel untuk menanyakan keterkaitan Tan dengan pemerintah China. Menanggapi hal tersebut, Lip-Bu Tan kemudian bertemu dengan pejabat pemerintahan guna meredakan kekhawatiran sekaligus membahas peluang kerja sama.

Dari sinilah isu bahwa pemerintah AS berencana mengambil alih Intel mulai mencuat. Kesepakatan yang beredar kabarnya dirancang agar pemerintah dapat mendukung perusahaan dalam memperluas kapasitas manufakturnya di Amerika Serikat.

“Intel sangat berkomitmen untuk mendukung upaya Presiden Trump dalam memperkuat kepemimpinan teknologi dan manufaktur AS. Kami berharap dapat melanjutkan kerja sama kami dengan Pemerintahan Trump untuk memajukan prioritas bersama ini, tetapi kami tidak akan mengomentari rumor atau spekulasi,” ungkap juru bicara Intel, mengutip dariTechCrunch.