Internet 100 Mbps Bukan Favorit, Mayoritas Warga Masih Setia di Bawah 50 Mbps

Uzone.id— APJII (AsosiasiPenyelenggara Jaringan Internet Indonesia) melalui survei-nya berjudul “ProfilInternet Indonesia 2025” mengungkap bahwa saat ini kecepatan internet tetapyang banyak digunakan masyarakat Indonesia berkisar di range 10 Mbps hingga 30Mbps.
“Kalau digabungkan, 10-30 Mbps itu menjadi sekitar 54 persentuh, range yang dipakai oleh, masyarakat di sekitar kita itu. Atauindividu-individu yang menggunakan internet,” kata Sekretaris Jenderal APJII,Zulfadly Syam usai peluncuran Survei Profil Internet Indonesia 2025, Rabu,(06/08).
Bahkan dalam survei tersebut, kecepatan paket internet tetap yangdigunakan oleh masyarakat Indonesia masih didominasi oleh kecepatan di bawah 50Mbps.
Misalnya, masyarakat banyak menggunakan internet tetapdengan kecepatan 10-20 Mbps dan 20-30 Mbps dengan persentase masing-masing33,43 persen dan 21 persen. Sementara 11.76 persen menyatakan menggunakaninternet tetap dengan kecepatan 30-50 Mbps.
Angka ini jauh berbeda dengan kecepatan internet diatas 100Mbps, dimana hanya 2,31 persen saja yang menggunakan internet tetapberkecepatan 100 hingga 300 Mbps, dan hanya 0,58 persen yang menggunakaninternet tetap dengan kecepatan lebih dari 300 Mbps.
“Jadi memang pertanyaannya, kadang-kadang kita ngomong, kitaharus 100 Mbps, harus 100 Mbps, maka pengguna internet kita, rata-rata sudahcukup, atau berlangganan sudah cukup, di angka-angka di bawah 30 Mbps,” tuturSyam.
Lalu, bagaimana internet cepat 100 Mbps sebaiknyadilakukan?
Saat ini pemerintah tetap gencar mewujudkan internetterjangkau dengan kecepatanup to100 Mbps yang akan dirasakan olehsetiap masyarakat di Indonesia.
Selain mendorong pengguna internet ke seluruh wilayah,program internet terjangkau 100 Mbps ini akan mendongkrak ranking kecepatanIndonesia yang saat ini berada di paling bawah se-Asia Tenggara. Namun,implementasi soal internet murah 100 Mbps ini tentu perlu banyak pertimbangan.
APJII menjelaskan kalau penerapan internet murah 100 Mbps ini adalah program yangbagus tapi pemerintah juga diharapkan tidak memaksakan hal ini kepada seluruhmasyarakat.
“Kita mulai dari 100 Mbps, saya pikir itu cukup bagus selamapemerintah tidak terlalu memaksakan program 100 Mbps apabilacost-nyaitu masih tinggi di sebuah daerah,” kata Syam.
Ia menambahkan lagi bahwa untuk penerapan 100 Mbps ini harusada tindakan yang proporsional karena kembali lagi ke kondisi infrastruktur disetiap daerah. Saat ini, infrastruktur jaringan internet masih belum merata disetiap wilayah.
“Terutama di daerah-daerah Timur Indonesia, untuk memberikan100 Mbps harganya masih terlalu mahal jadi kita harus juga proporsional saja,”tambahnya.
Syam melanjutkan, “Selama tidak ada pemaksaan, masihmenyesuaikan dengan keadaan daerah dan providernya masing-masing, saya pikir100 Mbps ini cukup bagus untuk sebuah program.”