Internet Iran Lumpuh Usai Diserang AS-Israel, Akses Tinggal 1 Persen

Uzone.id— Kondisi internet di Iran saat ini menggambarkan kondisi digital yang lebih gelap daripada sekadar gangguan sinyal: hampir seluruh jaringan komunikasi negara itu runtuh.
Sejak serangan militer besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, baik akses internet maupun layanan telekomunikasi menjadi sangat terbatas, menyisakan hanya sebagian kecil yang masih berfungsi.
Menurut pemantau jaringan global NetBlocks, internet di Iran sempat turun ke sekitar 4 persen dari normal setelah serangan dimulai. Namun kemudian data yang lebih mutakhir memperlihatkan bahwa nasionalconnectivity“flatlining” atau berada pada sekitar 1 persen dari tingkat normalnya.
“Update: Iran kini telah terputus dari dunia selama 36 jam, dengan data menunjukkan konektivitas hanya tersisa 1 persen dari tingkat normal. Pemadaman internet yang diberlakukan sejak Sabtu pagi terus membatasi akses warga Iran terhadap informasi, seiring meluasnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel,” tulisa NetBlocks hari ini, Senin pagi (2/3).
Dan pembaruan paling terkini dari Netblocks mengatakan internet mati di Iran sudah masuk 48 jam sejak serangan AS dan Israel.
“Update: Pemadaman internet di Iran kini telah berlangsung lebih dari 48 jam, membuat 90 juta penduduknya terputus dari komunikasi saat perang meluas. Pemadaman internet adalah taktik andalan rezim, dengan kejadian sebelumnya pada bulan Januari berlangsung selama beberapa minggu dan menutupi pelanggaran hak asasi manusia yang berat,” cuit Netblocks.
Ini berarti hampir seluruh akses internet global di negara yang berpenduduk sekitar 90 juta jiwa itu benar-benar padam, dan hanya segelintir koneksi yang bertahan.
Fenomena pemadaman internet ini memang bukan pertama kali terjadi di Iran. Selama krisis politik dan protes besar pada awal 2026, pemerintah sudah pernah memberlakukan pemutusan akses digital untuk membatasi arus informasi.
Namun pemutusan yang sekarang terjadi muncul bersamaan dengan eskalasi militer eksternal, yang membuat dampaknya jauh lebih luas dan dramatis.
Mengapa internet dimatikan dan dampaknya ke warga sipil
Pemadaman internet skala besar semacam ini mencerminkan dua hal sekaligus: strategi kontrol informasi dan dampak langsung konflik militer terhadap infrastruktur digital.
Dalam konteks pemadaman sebelumnya, pemerintahan Iran telah menerapkan sistem yang memungkinkan akses terbatas ke jaringan domestik sementara memutus sebagian besar koneksi global sebagai respons atas protes dan situasi internal sensitif.
Sejak dipicu perang, pemadaman yang berlangsung jauh lebih intensif. Pemutusan layanan telepon seluler, jaringan data internasional, bahkan sebagian konektivitas internal menjadi tidak dapat diandalkan. Hal ini menunjukkan kemungkinan campur tangan siber dalam skala besar atau dampak langsung dari serangan terhadap pusat infrastruktur komunikasi.
Lembaga pemantau independen memperkirakan bahwa pemadaman ini mencakup baik lalu lintas internet domestik maupun akses keluar negara.
Bagi warga sipil, konsekuensinya sangat nyata dan meresahkan. Ketika akses internet turun drastis, kemampuan untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan dunia luar menjadi hampir mustahil.
Banyak orang tidak hanya kehilangan akses ke media sosial atau berita internasional, tetapi juga layanan dasar seperti panggilan internet, pesan teks, dan bahkan aplikasi perbankan online.
Dalam situasi normal, orang Iran sering menggunakan aplikasi instant messaging seperti Telegram atau WhatsApp untuk berkomunikasi dengan diaspora mereka di luar negeri. Namun saat ini, sebagian besar dari mereka harus mengandalkan VPN (Virtual Private Network).
Sayangnya, efektivitas teknik ini sangat tergantung pada sedikitnya titik koneksi yang masih hidup, sehingga hanya sebagian kecil pengguna berhasil tetap online.
Beberapa pengguna yang masih bisa tersambung melalui VPN atau layanan mesh jaringan juga melaporkan bahwa koneksi itu bersifat sangat lambat dan tidak stabil, tidak mampu mendukung panggilan video atau pengiriman file besar. Dalam banyak kasus, itu hanya cukup untuk bertukar pesan teks sederhana.
Situasi ini dipercaya menempatkan Iran di posisi yang sangat rentan secara digital. Ketika perang dan konflik militer berdampak pada jaringan telekomunikasi, bukan hanya pertahanan fisik yang terancam, akses informasi dan wawasan publik secara fundamental turut terganggu.