Jadi Target Empuk, Perusahaan RI Mulai Bangun ‘Pasukan Siber’

pada 2 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Serangan siber diIndonesia terus mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah serangan maupuntingkat kompleksitasnya. Perusahaan siber Kaspersky mencatat kalau sepanjangtahun lalu terdapat lebih dari 14,9 juta serangan berbasis web dan 39,7 juta ancamanterhadap perangkat yang berhasil terdeteksi dan diblokir di Indonesia.

Angka ini kemungkinan akan terus mengalami kenaikan di tengahkondisi geopolitik yang terus memanas serta perkembangan teknologi AI yangsemakin pesat.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, ancaman juga ikutberevolusi. Mulai dari serangan canggih seperti Advanced Persistent Threat(APT), pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga eksploitasi perangkat mobilemenjadi tantangan baru yang harus dihadapi perusahaan.




Tak hanya menyerang individu, sekitar 20 persen perusahaandi Indonesia juga dilaporkan pernah mengalami serangan rantai pasokan. 

Menghadapi lonjakan dan ancaman yang semakin kompleks,perusahaan-perusahaan di Indonesia pun mulai mempertimbangkan untuk membangunSOC atau Security Operation Center yang menjadi pusat operasi untuk memantau,mendeteksi dan merespons ancaman siber yang semakin berkelanjutan.

“Seiring dengan meningkatnya ancaman siber yang menargetkanperusahaan-perusahaan di Indonesia baik dari segi volume maupun kompleksitas,organisasi tidak dapat lagi mengandalkan sistem keamanan yang terfragmentasi,”kata Defi Nofitra, Country Manager untuk Indonesia di Kaspersky.

Ia melanjutkan, “SOC terintegrasi, yang didukung oleh SIEMdan intelijen ancaman real-time, sangat penting untuk memungkinkan deteksiancaman dini, respons insiden yang cepat, dan menjaga pertahanan bisnis yangberkelanjutan.

65 persen perusahaan berencana mengembangkan sistem inidengan dukungan AI untuk meningkatkan efektivitas deteksi ancaman.






Ini menjadi kabar yang cukup menggembirakan karenaperusahaan di Indonesia mulai melek pada pentingnya keamanan siber dilingkungan mereka. 

Tapi, Kaspersky mengungkap kalau penggunaan AI sendiri masihterkendala beberapa tantangan. Studi Kaspersky menunjukkan beberapa tantangantersebut meliputi 47 persen kekurangan data pelatihan berkualitas tinggi, 37persen kekurangan spesialis AI yang berkualitas dalam tim internal, dan 29persen kekurangan solusi yang sesuai di pasaran.

Bagi perusahaan yang mulai membangun Security OperationsCenter (SOC), Kaspersky pun memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, perusahaan perlu meningkatkan kemampuan karyawanmelalui pelatihan rutin, khususnya terkait sistem keamanan siber. Kemudian, lakukan evaluasi keamanan sistem secara berkala untukmendeteksi celah dan memastikan pembaruan berjalan tepat waktu dan manfaatkanteknologi SIEM(Security Information and Event Management) untuk memantau dan menganalisis ancaman secara terintegrasi.