Jual Ribuan Alat Phishing, Penjahat Asal NTT Bikin FBI Kelimpungan

Uzone.id— Sepasang kekasihberinisial GWL dan FYTP asal Nusa Tenggara Timur membuat Bareskrim Polri danFederalBureau of Investigation(FBI) kelimpungan karena berhasil menjual ribuanalat penipuan online atau phishing bernama W3llstore ke berbagai negara.
Perangkat tersebut diduga banyak digunakan untuk membobolakun ratusan korban di berbagai negara sehingga saat ini, Bareskrim menggaetFBI untuk memburu para pembeli alat yang kemungkinan besar sudah menyebar keberbagai lokasi, hingga luar negeri.
Dalam pernyataan Direktur Tindak Pidana Siber BareskrimPolri Brigjen Himawan Bayu Aji mencatat terdapat 2.400 pembeli alat phishingtersebut dan hingga saat ini, proses identifikasi masih terus didalami olehpenyidik.
“Ini sedang diidentifikasi mendalam anggota. Sehingga inikredensialnya diketahui dari mana saja, siapa, itu bisa ketahuan nanti dari2.440 (pembeli)," ujarnya, dikutip dari berbagai sumber, Jumat, (24/04).
Namun, Ia melanjutkan bahwa angka tersebut masih belum pastidan penyelidikan pun belum selesai sampai di 2.440 pembeli tersebut.
“Ini masih ada proses pendalaman. Sehingga nanti masih terusdilakukan pendalaman," tambahnya.
Kerjasama dengan FBI ini dilakukan demi memberantas jaringanpembeli yang kemungkinan berasal dari berbagai negara, begitupun denganpihak-pihak yang menjadi korban phising yang tersebar di belahan dunia.
"Ini adalah kegiatan transnasional di mana pelaku bisaada di satu negara, tetapi korban ada di berbagai negara. Tadi contohnya ada diAmerika, kemudian di Moldova itu bagian daripada korban. Sehingga itu bisaterjadi," tambah Bayu, dikutip dari CNN Indonesia.
Praktik jual beli alat phishing ini terbongkar di Kupang,NTT dimana alat-alat ini dijual ke mancanegara karena kemampuannya dalammenembus sistem keamanan berlapis atau MFA (Multi-Factor Authentication).
Kecanggihan alat tersebut ditemukan setelah penyidik mendatabahwa ada sekiranya ada 34 ribu korban yang teridentifikasi sejak Januari 2023sampai April 2024.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 ribu korban atausetengahnya bahkan mengalami peretasan. Alat ini disebut kerap digunakan untukmelakukan kejahatan siber, termasuk pencurian data pribadi hingga akses ilegalterhadap akun keuangan korban.
Sementara itu, untuk pelakunya sendiri Bareskrim Polrimengungkap bahwa mereka telah bekerja semenjak 2018 lalu dimana pelaku dengannama GWS menjual dan mendistribusikan alat ini semenjak saat itu. Sementaraitu, kekasihnya FYT bertugas mengelola keuangan termasuk menampung pembayarandari pembeli dalam bentuk aset kripto.
GWL membuat website bernama wellstore.com pada 2018, laluwebsite lain bernama well.store, dan well.shop pada 2020 silam.
Ketiga website ini terhubung dengan akun Telegram sebagaimedia komunikasi dan sarana pengiriman skrip kepada pembeli. Agar tak terlacak,dirinya juga menjalankan bisnis tersebut menggunakan layanan VPS (virtualprivate server) yang berada di luar negeri.
“Tersangka juga melakukan pemantauan atau monitoringpenjualan secara otomatis serta memberikan layanan dukungan teknis bagi pembeliskrip yang mengalami kendala," tuturnya.
Bareskrim bersama dengan FBI terus melakukan pelacakanpembeli alat ini karena peredaran alat tersebut disebut sangat membahayakan danberisiko karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai tindak kejahatan secaraonline.