Kenapa 5G Indonesia Ketinggalan dari Kamboja? Ini Penjelasannya

pada 1 jam lalu - by
Advertising
Advertising

Highlights Artikel

  • Performa 5G Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Kamboja, baik dalam ketersediaan maupun kecepatan.
  • Menurut Opensignal, ketersediaan 5G Indonesia hanya 33,6% dan kecepatan unduh 85,2 Mbps, menempatkannya di posisi terbawah Asia Pasifik.
  • Penyebab utama adalah keterbatasan spektrum frekuensi; Indonesia belum bisa memanfaatkan pita 3,5 GHz yang menjadi tulang punggung 5G di banyak negara.
  • Operator di Indonesia masih mengandalkan pita 2.100 MHz dan 2.300 MHz yang sebagian besar (96% dan 82%) masih didominasi penggunaan 4G.
  • Pemerintah berencana melelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz untuk memperluas cakupan dan menambah kapasitas, dengan target berikutnya adalah pelepasan pita 3,5 GHz.
  • Peningkatan 5G membutuhkan investasi besar dari operator dan perangkat yang kompatibel dari pengguna.

Uzone.id– Indonesia memang sudah lebih dulu menggelar layanan 5G dibanding sejumlah negara di Asia Tenggara. Namun dalam praktiknya, pengalaman menggunakan jaringan generasi kelima di Tanah Air ternyata masih belum sebaik negara tetangga, bahkan kalah dari Kamboja.

Temuan tersebut diungkap Opensignal dalam analisis terbarunya mengenai perkembangan 5G di Indonesia. Menurut perusahaan analitik jaringan seluler itu, masalah utama bukan terletak pada operator ataupun teknologi yang digunakan, melainkan keterbatasan spektrum frekuensi yang selama ini tersedia untuk layanan 5G.

Data perbandingan Opensignal: ketersediaan dan kecepatan 5G

Data Opensignal periode 1 Maret hingga 29 Mei 2026 menunjukkan, 5G Availability Indonesia baru mencapai 33,6 persen, jauh di bawah Thailand (88,1 persen), Korea Selatan (87,9 persen), Hong Kong (83,5 persen), hingga Vietnam (67,3 persen).




Bahkan Kamboja yang baru beberapa tahun terakhir agresif mengembangkan 5G mencatatkan availability sebesar 30,1 persen, hanya sedikit di bawah Indonesia.

Sementara dari sisi kecepatan, kondisinya lebih mencolok lagi. Kecepatan unduh 5G Indonesia hanya 85,2 Mbps, berada di posisi paling bawah dalam daftar negara Asia Pasifik yang dibandingkan Opensignal.

Sebagai pembanding, Korea Selatan sudah mencapai 486,2 Mbps, Kamboja 306,9 Mbps, Vietnam 275,7 Mbps, Singapura 229,4 Mbps, hingga Malaysia 224,5 Mbps.



Spektrum jadi penghambat terbesar

Menurut Opensignal, lambatnya perkembangan 5G Indonesia selama ini disebabkan keterbatasan spektrum yang bisa digunakan operator.

Berbeda dengan sebagian besar negara Asia Pasifik yang mengandalkan pita 3,5 GHz sebagai tulang punggung 5G, Indonesia justru belum bisa memanfaatkannya karena frekuensi tersebut masih digunakan untuk layanan satelit.

Ketergantungan pada pita 2.100 MHz dan 2.300 MHz

Akibatnya, operator di Indonesia selama ini hanya mengandalkan pita 2.100 MHz dan 2.300 MHz untuk menggelar layanan 5G.

Masalahnya, kedua pita tersebut juga masih dipakai secara masif untuk jaringan 4G.

Data Opensignal menunjukkan, 96 persen penggunaan pita 2.100 MHz di Indonesia masih didominasi jaringan 4G, sementara hanya 4 persen yang digunakan untuk 5G.



Situasi serupa terjadi di pita 2.300 MHz, di mana 82 persen masih dipakai untuk 4G dan hanya 18 persen dialokasikan bagi layanan 5G.

Artinya, operator harus berbagi spektrum yang sama antara dua teknologi berbeda. Kondisi ini membuat kapasitas jaringan 5G menjadi terbatas sehingga sulit memberikan pengalaman maksimal kepada pengguna.

Negara lain sudah pakai 3,5 GHz

Sebaliknya, banyak negara di kawasan Asia Pasifik justru sudah membangun jaringan 5G menggunakan pita 3,5 GHz.

Kamboja, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru hingga Taiwan hampir sepenuhnya mengandalkan frekuensi tersebut untuk layanan 5G.

Australia, Hong Kong, hingga Jepang bahkan menambahkan pita frekuensi lain agar kapasitas jaringan semakin besar dan cakupan layanan semakin luas.





Opensignal juga menyebut absennya spektrum 3,5 GHz menjadi alasan utama mengapa performa 5G Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara tersebut.

Langkah pemerintah dan prospek masa depan 5G Indonesia

Meski demikian, Opensignal menilai kondisi ini mulai berubah. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kini tengah menyelesaikan proses lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz yang akan menjadi tambahan spektrum baru bagi operator seluler.

Menurut Opensignal, kedua pita frekuensi tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi.
Pita 700 MHz akan memperluas cakupan jaringan sehingga sinyal 5G lebih mudah dijangkau, terutama di wilayah pinggiran maupun pedesaan.

Sementara 2,6 GHz akan menambah kapasitas jaringan di kawasan perkotaan yang selama ini mengalami kepadatan trafik data tinggi.

Dengan kombinasi tersebut, pengalaman pengguna diperkirakan bakal meningkat, baik dari sisi ketersediaan jaringan maupun kecepatan internet.

Namun Opensignal mengingatkan bahwa tambahan spektrum saja belum cukup untuk mengejar ketertinggalan.

Operator tetap membutuhkan investasi besar untuk membangun jaringan baru. Selain itu, masyarakat juga harus memiliki perangkat yang kompatibel dengan frekuensi-frekuensi tersebut agar manfaatnya benar-benar bisa dirasakan.

Tak kalah penting, Indonesia juga masih menunggu pelepasan pita 3,5 GHz yang selama ini disebut Komdigi akan menjadi target lelang berikutnya setelah proses 700 MHz dan 2,6 GHz selesai.

Jika seluruh rencana itu berjalan sesuai jadwal, Opensignal menilai dalam 12 bulan ke depan akan terlihat apakah Indonesia benar-benar mampu mengejar ketertinggalan 5G dari negara-negara tetangga.

Bagi pengguna, indikatornya sederhana: sinyal 5G semakin mudah ditemukan, kecepatan internet meningkat, dan pengalaman memakai jaringan generasi kelima tak lagi tertinggal dari negara seperti Kamboja maupun Vietnam.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Performa 5G Indonesia

Mengapa performa 5G di Indonesia masih tertinggal?

Menurut Opensignal, performa 5G Indonesia tertinggal karena keterbatasan spektrum frekuensi yang tersedia. Indonesia belum bisa menggunakan pita 3,5 GHz yang menjadi tulang punggung 5G di banyak negara lain. Operator di Indonesia masih mengandalkan pita 2.100 MHz dan 2.300 MHz yang mayoritasnya masih dipakai untuk jaringan 4G.

Seberapa jauh keterlambatan 5G Indonesia dibandingkan negara lain?

Data Opensignal (Maret-Mei 2026) menunjukkan 5G Availability Indonesia baru 33,6%, jauh di bawah Thailand (88,1%) dan Korea Selatan (87,9%). Kecepatan unduh 5G Indonesia hanya 85,2 Mbps, posisi paling bawah di Asia Pasifik, jauh di bawah Kamboja (306,9 Mbps) dan Korea Selatan (486,2 Mbps).

Spektrum frekuensi apa yang menjadi masalah utama bagi 5G Indonesia?

Pita 3,5 GHz adalah masalah utama karena belum bisa digunakan di Indonesia akibat masih dipakai untuk layanan satelit. Akibatnya, operator hanya bisa menggunakan pita 2.100 MHz dan 2.300 MHz yang 96% dan 82%-nya masih didominasi penggunaan jaringan 4G, sehingga kapasitas 5G terbatas.

Apa upaya pemerintah untuk mengatasi keterbatasan spektrum 5G?

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang menyelesaikan proses lelang pita 700 MHz (untuk cakupan luas) dan 2,6 GHz (untuk kapasitas di perkotaan). Setelah itu, pelepasan pita 3,5 GHz juga menjadi target lelang berikutnya.

Apakah tambahan spektrum saja cukup untuk meningkatkan 5G di Indonesia?

Tidak cukup. Opensignal mengingatkan bahwa operator membutuhkan investasi besar untuk membangun jaringan baru. Selain itu, masyarakat juga harus memiliki perangkat yang kompatibel dengan frekuensi-frekuensi tersebut agar manfaat 5G dapat dirasakan secara maksimal.