Kenapa Jalan Tol Sering Diperbaiki? Ternyata Gara-gara Truk ODOL

Highlights Artikel
- Perbaikan jalan tol yang sering terjadi disebabkan oleh masalah sistemik truk Over Dimension Over Load (ODOL).
- Truk ODOL menyebabkan kerusakan dini pada infrastruktur jalan tol dengan faktor kerusakan hingga pangkat empat, meningkatkan biaya operasional.
- Tingkat pelanggaran ODOL sangat mengkhawatirkan, mencapai 17,62% di jalan tol Jasa Marga dan 21,29% di Trans Sumatera.
- Selain kerusakan fisik, truk ODOL juga berdampak pada penurunan kecepatan, kemacetan, peningkatan risiko kecelakaan fatal, serta polusi udara.
- Pengelola jalan tol menghadapi dilema antara menjaga operasional jalan dan menangani kerusakan prematur yang terus-menerus.
Uzone.id-Kalian pasti ngeh kalau pas lewat jalan tol, perbaikan jalan selalu ada, seolah gak kelar-kelar dan pastinya suka bikin macet. Ternyata ada alasannya!
Fenomena perbaikan jalan tol yang seolah tidak pernah usai sering kali memicu kekecewaan di kalangan pengguna jalan.
Penyebab Utama: Truk Over Dimension Over Load (ODOL)
Namun, di balik intensitas pengerjaan tersebut, terdapat permasalahan sistemik yang sulit diputus, yaitu pelanggaran truk kelebihan muatan atau over dimension over load (ODOL).
Dampak Kerusakan Dini dan Beban Biaya Operasional
Plt. Sekretaris Jenderal Asosiasi Tol Indonesia (ATI), Kristianto, menegaskan bahwa kerusakan dini yang dialami infrastruktur jalan tol berkaitan erat dengan aktivitas truk ODOL yang terus beroperasi di jalan bebas hambatan.
Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI, dikutipUzone.id, Kristianto menjelaskan bahwa secara teknis, beban berlebih dari kendaraan ODOL menciptakan faktor kerusakan jalan hingga pangkat empat.
Hal ini memicu konsekuensi biaya operasional yang sangat besar bagi badan usaha jalan tol (BUJT) untuk terus melakukan perbaikan.
"Kami mencermati adanya suatu lingkaran yang memang tidak bisa diputus saat ini, antara kerusakan lebih dini jalan tol yang tentu saja hal ini terjadi akibat adanya ODOL," ujar Kristianto.
Ia menambahkan bahwa persepsi masyarakat mengenai perbaikan yang tidak pernah selesai muncul karena pengelola jalan tol berada dalam posisi dilematis.
Di satu sisi jalan harus tetap beroperasi, sementara kerusakan prematur akibat ODOL terus terjadi dan memerlukan penanganan berkelanjutan.
Data Pelanggaran ODOL yang Mengkhawatirkan
Situasi di lapangan pun tergolong mengkhawatirkan berdasarkan data weight in motion (WIM) tahun 2025. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Ni Komang Rasminiati, mengungkapkan bahwa tingkat pelanggaran ODOL sudah mengancam ketahanan aset infrastruktur nasional.
Data mencatat bahwa rata-rata pelanggaran ODOL pada ruas jalan tol yang dikelola Jasa Marga mencapai 17,62 persen untuk kendaraan non-golongan satu.
Bahkan di ruas jalan tol Trans Sumatera yang dikelola PT Hutama Karya, angka tersebut lebih tinggi, yaitu mencapai 21,29 persen, yang berarti lebih dari seperlima kendaraan non-golongan satu yang melintas terindikasi melakukan pelanggaran ODOL.
"Ini tentunya menjadi ancaman yang nyata bagi ketahanan aset infrastruktur jalan tol," ujar Komang.
Konsekuensi Lebih Luas dari Pelanggaran ODOL
Dampak buruk dari pelanggaran muatan berlebih ini tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik jalan semata.
Komang menjelaskan bahwa truk ODOL berkontribusi signifikan terhadap penurunan kecepatan kendaraan, penghambat kelancaran lalu lintas, serta peningkatan risiko kecelakaan dengan tingkat fatalitas yang tinggi.
Selain membebani biaya preservasi jalan, pelanggaran ini juga berdampak negatif pada kualitas lingkungan.
"Pelanggaran muatan berlebih ini sangat berdampak sangat signifikan pada kerusakan dini perkerasan jalan, yang mengakibatkan peningkatan biaya preservasi dan penurunan kecepatan kendaraan. Kemudian peningkatan risiko kecelakaan tingkat fatalitas, serta juga polusi dan emisi udara," tutupnya.
FAQ
Mengapa perbaikan jalan tol sering terlihat tidak pernah selesai?
Perbaikan jalan tol sering terlihat tidak pernah selesai karena adanya masalah sistemik dari truk Over Dimension Over Load (ODOL). Truk-truck ini menyebabkan kerusakan dini pada infrastruktur jalan, yang memerlukan penanganan dan perbaikan berkelanjutan.
Apa itu ODOL dan bagaimana hubungannya dengan kerusakan jalan tol?
ODOL adalah singkatan dari Over Dimension Over Load, yaitu truk kelebihan muatan atau dimensi. Beban berlebih dari truk ODOL secara teknis menciptakan faktor kerusakan jalan hingga pangkat empat, yang memicu kerusakan dini dan membutuhkan biaya perbaikan yang sangat besar.
Seberapa parah tingkat pelanggaran ODOL di Indonesia?
Dataweight in motion(WIM) tahun 2025 menunjukkan bahwa rata-rata pelanggaran ODOL pada ruas jalan tol Jasa Marga mencapai 17,62% untuk kendaraan non-golongan satu. Bahkan di ruas Trans Sumatera, angkanya lebih tinggi yaitu 21,29%, menandakan lebih dari seperlima kendaraan non-golongan satu melakukan pelanggaran ODOL.
Selain kerusakan jalan, dampak negatif apa lagi yang ditimbulkan oleh truk ODOL?
Selain kerusakan fisik jalan, truk ODOL juga berkontribusi pada penurunan kecepatan kendaraan, penghambatan kelancaran lalu lintas, peningkatan risiko kecelakaan dengan tingkat fatalitas tinggi, serta polusi dan emisi udara.
Siapa saja pihak yang menyoroti masalah ODOL ini?
Masalah ODOL ini disoroti oleh Plt. Sekretaris Jenderal Asosiasi Tol Indonesia (ATI), Kristianto, dan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Ni Komang Rasminiati, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI.