Kepercayaan adalah Fondasi yang Tidak Bisa Dibangun dalam Semalam

pada dalam 5 jam - by
Advertising
Advertising

Kolom oleh: Shieny Aprilia, CEO Agate.

Uzone.id– Dalam banyak cerita tentang perusahaan yang berhasil bertahan dalam jangka panjang, orang sering berfokus pada strategi, inovasi, atau keputusan bisnis yang tepat. Padahal dari pengalaman saya, tantangan yang paling sulit sering kali bukan berasal dari pasar, teknologi, atau kompetitor.

Tantangan terbesarnya justru datang dari dalam: bagaimana sekelompok orang dengan karakter, ambisi, dan cara berpikir yang berbeda dapat terus berjalan bersama selama bertahun-tahun.

Ketika masih muda, kita cenderung memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap ide dan pandangan kita sendiri. Kita ingin membuktikan bahwa cara kita adalah cara yang benar. Kita memiliki energi besar, ambisi besar, dan sering kali ego yang juga tidak kecil.

Dalam banyak hal, karakter seperti ini justru menjadi modal penting untuk memulai sesuatu. Tanpa keberanian, optimisme, dan keyakinan yang tinggi, mungkin tidak banyak orang yang bersedia mengambil risiko untuk membangun sesuatu dari nol.





Namun seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa kualitas yang membantu seseorang memulai perjalanan tidak selalu sama dengan kualitas yang dibutuhkan untuk mempertahankannya. Memulai sesuatu membutuhkan keberanian. Menjalankannya bersama dalam jangka panjang membutuhkan kedewasaan.

Dalam sebuah tim, perbedaan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Perbedaan pandangan, prioritas, gaya komunikasi, hingga cara mengambil keputusan akan selalu ada. Semakin banyak orang berbakat yang berkumpul dalam satu organisasi, biasanya semakin banyak pula perspektif yang muncul.

Di satu sisi, hal ini menjadi kekuatan. Namun di sisi lain, hal tersebut juga dapat menjadi sumber konflik apabila tidak dikelola dengan baik.

Dulu saya berpikir bahwa tim yang kuat adalah tim yang memiliki kesamaan cara berpikir. Hari ini saya justru percaya sebaliknya. Tim yang kuat bukanlah tim yang selalu sepakat, melainkan tim yang mampu tetap bergerak meskipun tidak selalu sepakat. Asalkan didasari oleh tujuan dan nilai-nilai yang sejalan, perbedaan bukan masalah, ketidakmampuan mengelola perbedaan itulah yang sering menjadi masalah.


Foto ilustrasi: Antonio Janeski/Unsplash

Saya melihat banyak organisasi gagal bukan karena kekurangan talenta. Mereka gagal karena setiap orang terlalu sibuk mempertahankan sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun masa depan justru habis untuk membuktikan siapa yang paling benar.

Di titik tertentu, saya menyadari bahwa organisasi mulai bertumbuh ketika anggotanya berhenti bertanya, “Apa yang saya inginkan?” dan mulai bertanya, “Apa yang terbaik untuk tujuan yang sedang kita bangun bersama?

Perubahan cara berpikir tersebut terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya membutuhkan proses yang panjang. Ia tidak muncul dari satu rapat, satu pelatihan, atau satu kebijakan. Ia terbentuk melalui pengalaman bersama, keberhasilan yang dirayakan bersama, kegagalan yang dihadapi bersama, dan kepercayaan yang dibangun sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu.

Dari situlah saya belajar bahwa kepercayaan adalah aset yang jauh lebih berharga daripada kesepakatan.

Kesepakatan bisa berubah. Strategi bisa berubah. Struktur organisasi bisa berubah. Namun ketika kepercayaan sudah terbentuk, orang akan tetap bersedia duduk di meja yang sama untuk mencari solusi, bahkan ketika mereka memiliki pandangan yang berbeda.




Banyak orang menganggap kepercayaan lahir ketika semuanya berjalan baik. Pengalaman saya menunjukkan hal yang berbeda. Kepercayaan justru dibangun ketika organisasi menghadapi masa-masa sulit. Ketika keputusan tidak populer harus diambil. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai. Ketika arah yang harus dipilih tidak selalu jelas.

Pada momen-momen seperti itulah kualitas hubungan benar-benar diuji. Semakin lama saya memimpin organisasi, semakin saya percaya bahwa keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh seberapa sedikit konflik yang dimiliki sebuah tim.

Keberhasilan ditentukan oleh bagaimana tim tersebut mengelola konflik, menjaga rasa hormat, dan tetap berkomitmen pada tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi masing-masing.

Pelajaran lainnya adalah bahwa kedewasaan organisasi sering kali berjalan seiring dengan kedewasaan individu-individu di dalamnya.


Foto ilustrasi: Christina Wocintechchat/Unsplash

Saat masih muda, kita ingin menjadi orang yang paling didengar di dalam ruangan. Seiring bertambahnya pengalaman, kita mulai memahami bahwa nilai terbesar tidak selalu datang dari berbicara lebih banyak, tetapi dari kemampuan mendengarkan lebih baik. Tidak selalu datang dari memenangkan perdebatan, tetapi dari menemukan titik temu yang memungkinkan semua orang bergerak maju.

Dalam dunia yang semakin kompleks, tidak ada satu orang yang memiliki seluruh jawaban. Karena itu, kemampuan untuk mendengarkan, menghargai perspektif yang berbeda, dan membangun keputusan bersama menjadi semakin penting.
Pada akhirnya, organisasi tidak dibangun oleh strategi semata. Organisasi dibangun oleh kualitas hubungan antar manusia yang ada di dalamnya.

Teknologi akan berubah. Industri akan berubah. Model bisnis akan berubah. Namun kemampuan untuk membangun kepercayaan, menjaga rasa hormat, dan terus berjalan bersama di tengah perbedaan akan selalu menjadi fondasi yang relevan.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya pelajari selama bertahun-tahun membangun organisasi: bahwa keberhasilan jangka panjang bukan tentang menemukan orang-orang yang selalu sepakat dengan kita, melainkan tentang menemukan orang-orang yang memiliki komitmen yang sama untuk terus tumbuh dan melangkah bersama, bahkan ketika mereka tidak selalu melihat dunia dengan cara yang sama.