Kuota Mahal Jadi Alasan 55 Juta Warga Belum Terhubung Internet?

pada 10 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Dalam surveiterbaru dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia berjudul“Profil Internet Indonesia 2025”, pengguna internet di Indonesia hinggapertengahan 2025 mencapai 80,66 persen atau sebanyak 229 juta dari totalpopulasi saat ini.

Ini artinya, 19,34 persen dari populasi masyarakat diIndonesia (kurang lebih 55 juta) masih tertinggal dan tidak tersentuh olehinternet. Ada beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi, salah satunyakarena infrastruktur yang tidak merata.

“Ini yang menjadi PR kita bersama, sudah saya sampaikanbahwa salah satu kendala kita adalah infrastruktur telekomunikasi yang menumpukdan belum merata,” kata Muhammad Arif, Ketua Umum APJII dalam sambutannya,Rabu, (06/08).




Selain itu, APJII juga membeberkan mengenai alasan-alasanlainnya yang menyebabkan masyarakat Indonesia tidak terkoneksi internet.

Berdasarkan survei yang dilakukan di seluruh Indonesiatersebut, APJII menemukan bahwa sebanyak 43,62 persen mengaku tidak memilikiperangkat yang dapat menghubungkan mereka ke internet.

Selanjutnya, APJII juga menemukan bahwa 40,77 persen lainnyamengaku tidak tahu bagaimana menggunakan perangkat yang bisa terkoneksi denganinternet. 3,24 persen dari masyarakat juga tidak melihat manfaat menggunakaninternet sehingga memutuskan untuk tetap tidak terhubung ke internet.




Harga kuota juga menjadi salah satu yang banyakdipertimbangkan. Sebanyak 38.75 persen dari Gen Z–yang merupakan generasi yangcukup melek internet, mengaku bahwa kuota yang mahal menjadi alasan merekatidak terhubung ke internet.

Padahal, saat ini kuota internet di Indonesia termasuk dalam harga yang paling murah. Arif mengatakan bahwa kuota internet di Indonesia berada di paling bawah.

"Ya menurut saya sih udah cukup affordable ya. Apalagi di sisi broadband kalau saya disampaikan udah harga di internet broadband ini hampirbottom," tambahnya.

Sementara itu, dari segi penyedia internet, Zulfadli Syamselaku Sekretaris Umum APJII mengungkap bahwa salah satu yang menyebabkanpertumbuhan penetrasi di Indonesia terbilang stagnan adalah karena penyediainternet kebanyakan meningkatkan kualitas dari layanan internet mereka.

“Penambahan ini tidak signifikan naik karena di beberapawilayah, penyedia internet relatif meningkatkan kualitas daripada masuk kedaerah atau wilayah yang sulit,” ujarnya.