Menavigasi Masa Depan Pariwisata di Era Kecerdasan Buatan
Uzone.id - Industri pariwisata apakah salah satu yang tersentuh oleh kecepatan perkembangan teknologi kecerdasan buatan? Jawabannya tentu saja iya.
Hal ini diungkap saat Telkomsel bersama Uzone Indonesia mengupas soal tantangan, peluang, serta etika pemanfaatan AI di depan ratusan mahasiswa Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, Jakarta.
Dr. Meizar Rusli, M.Sc., CHE, selaku Wakil Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, mengatakan ketakutan terbesar di era modern ini bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan ketertinggalan manusia dalam mengadopsinya.
Dia mengibaratkan teknologi cerdas ini seperti satwa yang kuat namun tidak terprediksi. "AI ibarat kuda liar, gimana caranya kita bisa memastikan kudanya tidak lari kemana-mana.,” tukasnya.
Oleh karena itu, edukasi di tingkat perguruan tinggi menjadi krusial agar mahasiswa mampu memegang kendali penuh atas pemanfaatan teknologi tersebut secara positif.
Hal ini sejalan dengan data dari Indonesia AI Report 2025, karena fakta menyebutkan bahwa Indonesia menempati posisi ke-3 di dunia dalam hal penggunaan AI. Sebanyak 96 persen warga Indonesia sudah menggunakan layanan digital yang tersemat AI , dan 97 persen masyarakat merasa bahwa AI memiliki peran nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Namun, seperti disampaikan oleh Rahma Wulan, Officer Corporate Communication Telkomsel, di balik tingginya adopsi tersebut, terdapat urgensi besar dalam hal literasi.
Rahma mengungkapkan bahwa 42 persen masyarakat Indonesia masih belum bisa membedakan antara konten buatan AI dan konten riil di media sosial. Selain itu, 65 persen publik menjadi target penipuan digital berbasis AI.
"Di era AI, kita tidak cukup hanya punyahard skillsdansoft skills, tapi jugaessential skillsetuntuk menavigasi AI," tegas Rahma.
Telkomsel sebagai operator, tentu saja mendukung hal tersebut, salah satunya dengan Visi Indonesia Digital 2045. Dimana Telkomsel secara aktif mendorong peningkatan literasi digital masyarakat melalui pilar Internet BAIK,sebuah gerakan kepatuhan siber yang mengajak publik untuk berselancar secara Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif.
Tidak hanya itu, sebagai wadah nyata pengembangan talenta dan ekosistem inovasi nasional, Telkomsel bekerja sama dengan ITB telah meresmikan AI Innovation Hub pertama di Indonesia bernama Hitakari AI pada Desember 2025. Hub ini mencakup program AI Academy, Platform LMS, hingga AI Labs.
"AI tidak akan menggantikan manusia yang memiliki kapabilitas tentang AI, tapi manusia yang tidak memiliki kapabilitas tentang AI bisa digantikan dengan AI,” Rahma mengingatkan.
Antara Efisiensi dan "Halusinasi" AI
Berangkat dari pengalaman bertahun-tahun di ruang redaksi media digital, Editor in Chief Uzone Indonesia, Trisno Heriyanto menyoroti bagaimana AI secara radikal memangkas waktu produksi konten kreatif. Berdasarkan survei Adobe, sebanyak 86% kreator kini mengandalkan generative AI dalam proses harian mereka.
Dalam sektor pariwisata, AI kini telah bergeser menjadi "teman perjalanan" baru bagi para pelancong. Mengutip Traveloka Travel Redirection Report 2025, sebanyak 98 persen wisatawan Indonesia sudah memanfaatkan AI di berbagai tahapan perjalanan,mulai dari mencari referensi, menyusun itinerary, hingga menentukan tempat makan.
Namun, Trisno mengingatkan para mahasiswa untuk selalu waspada, karena dalam penerapannya, AI bisa sangat membantu sekaligus menipu.
AI masih jauh dari sempurna, manusia butuh naluri untuk membedakan mana informasi yang benar dan tidak benar,” tegasnya.
Trisno merujuk pada riset empiris dari Prof. Anne Hardy (Southern Cross University) yang menyatakan bahwa 90 persen rencana perjalanan (itinerary) yang dihasilkan oleh AI masih mengandung kesalahan atau 'halusinasi'.
Fenomena ini terbukti nyata lewat kasus fiktif Weldborough Hot Springs di Tasmania pada awal tahun 2026 yang mengecoh banyak turis akibat menelan mentah-mentah rekomendasi konten buatan AI.
Kasus lain juga terjadi di Phuket pada akhir 2025, di mana oknum turis memanipulasi foto kapal menggunakan AI demi mendapatkan pengembalian dana sepihak.
Peluang Baru bagi Mahasiswa Pariwisata
Kendati memiliki risiko akurasi, era digital ini membuka keran peluang karier yang sangat luas bagi generasi muda pariwisata. Trisno menjabarkan beberapa profesi baru yang kian dicari industri, antara lain:
1. Travel Creator & Digital Storyteller: Mengemas pengalaman otentik destinasi menjadi konten visual yang memikat.
2. AI Content Creator: Memanfaatkan AI sebagai alat akselerasi skrip, takarir (caption), dan penyuntingan konten pariwisata tanpa kehilangan sentuhan manusiawi.
3. Digital Marketer & Community Builder: Menggerakkan promosi berbasis data sekaligus merajut hubungan dengan audiens digital.
Trisno menegaskan bahwa AI hanyalah sebuah perkakas atau alat bantu. Konten pariwisata yang sukses tidak sekadar menjual visual yang megah, melainkan narasi emosional yang tepercaya.
"AI dapat membantu menghasilkan konten, tetapi ide, empati, pengalaman, dan kemampuan bercerita tetap berasal dari manusia," pungkas Trisno sebagai penutup materi.