Mengarungi Sungai Menuju Asmat

pada 8 tahun lalu - by
Advertising
Advertising

Suara mesinlong boatmemantul dari pepohonan dan hutan mangrove saat mengiringi perjalanan menuju distrik-distrik di pedalaman Kabupaten Asmat, Papua. Sungai yang berkelok nan panjang dengan anak-anak sungainya menjadi jalur penghubung utama untuk menembus Asmat. 

Dikepung oleh hutan tropis dan rawa-rawa yang mengandung rasa waswas akan buaya menjadi salah satu tantangan bagi orang non-Papua untuk berkunjung ke sana. Sementara bagi masyarakat asli, sungai adalah kehidupan dan halaman rumah--bagian yang tak terpisahkan dari keseharian mereka. 

Hutan bakau, sagu, dan kayu besi menjadi salah satu contoh sumber yang menghidupi warga Asmat. Menurut Rene Wassing dalam bukunyaAsmat Art, sungai merupakan jantung transportasi bagi warga Asmat. 

 

Kondisi geografis yang didominasi oleh rawa-rawa membuat kampung-kampung yang berdiri seolah melayang. Jalan-jalan dari papan yang menjembatani area perkampungan dibangun dengan beton komposit. Rumah-rumah yang didirikan berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Semuanya seolah serba "melayang" alias tidak melekat di tanah.  

Medan yang terjal dan sulit ditempuh menjadi salah satu alasan sulitnya akses akan kesehatan di sana. Pada Januari lalu, tragedi campak dan gizi buruk mendera warga Asmat. Setidaknya, tercatat 651 anak mengidap campak, 228 anak menderita gizi buruk, dan 72 di antaranya meninggal di dunia. 

Kabupaten seluas 31.984 kilometer persegi itu terdiri dari 23 distrik. Namun, hanya 16 distrik yang memiliki puskesmas. Sementara rumah sakit hanya satu, di ibu kota Asmat, Agats--yang memerlukan waktu tempuh 2-12 jam dari distrik-distrik lain. 

Hidup di atas rawa-rawa dan tanah berlumpur dianggap menjadi penyebab mewabahnya penyakit di sana. Namun, pernyataan ini tentu saja dengan mudah dibantah karena sungai dan rawa sejak dulu akrab melekat dalam kehidupan mereka. 

"Menurut saya, itu sesat pikir ketika terjadi wabah seperti itu yang disalahkan adalah cara hidup masyarakat atau pola makannya," ujar Laksmi A. Savitri, antropolog UGM, kepadakumparan, Kamis (15/2). Lebih jauh ia menjelaskan bahwa, "mereka itu sakit karena lingkungan di sekitar mereka berubah". 

Di balik kelok sungai itu, tersimpan asa masyarakat Asmat untuk bisa lepas dari jerat segala wabah dan persoalan sosial yang melingkupinya.