Menjadi Ahli atau Ditelan AI: Tantangan Talenta Muda di Era Digital

pada 9 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id– Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan harian kita. Digunakan mulai dari mencari informasi, bekerja hingga membentuk opini, AI hadir sebagai teknologi yang semakin lekat dengan kehidupan modern.

Namun, di balik kecanggihannya, muncul pertanyaan penting: bagaimana caranya memanfaatkan teknologi ini secara etis dan bertanggung jawab?

Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh LSPR Institute of Communication and Business lewat penyelenggaraan LSPR AI Festival 2025 pada 25–26 Agustus 2025 di LSPR Transpark Bekasi.





Mengusung tema “Smart Collaboration for Responsible & Creative AI”, acara ini menghadirkan beragam agenda mulai dari diskusi dengan wakil pemerintah, masterclass bersama pakar AI, Edutalk tentang bagaimana AI digunakan pada komunikasi harian, penampilan teatrikal dari mahasiswa, hingga kompetisi AI for Social Good yang menantang generasi muda menciptakan solusi teknologi bagi masyarakat.

Dr. (H.C) Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, FIPR, Founder & Director LSPR menegaskan bahwa AI tidak hanya dipandang sebagai alat, melainkan mitra strategis yang bisa memperkuat kapasitas manusia.

“Mahasiswa kami tidak hanya dibekali pemahaman teknis, tetapi juga didorong untuk menjadi kreator yang mampu menggunakan AI demi membangun bisnis lebih cerdas, memperkuat komunitas, dan menciptakan dunia berkelanjutan,” ujarnya.


Foto: Uzone.id


Pengunaan AI dalam kehidupan sehari-hari memang terbukti membantu membangun bisnis dan menggerakan roda ekonomi, hal ini selaras dengan penuturan dari Aju Widya Sari, Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Kementerian Komunikasi dan Digital, yang menyebutkan bahwa AI berpotensi menyumbang hingga USD366 miliar terhadap PDB Indonesia.

“Potensi sebesar ini hanya akan tercapai bila kita memiliki SDM yang terampil sekaligus beretika,” katanya.

Dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari akademisi, pemerintah, hingga siswa SMA acara ini menghadirkan lebih dari 10 pembicara untuk berbicara tentang AI khususnya bagaimana kita harus benar-benar paham tentang penggunaan AI yang bertanggung jawab atau kita sendiri yang akan tergantikan oleh AI.





Ibaratnya, AI bisa menjadi lawan atau kawan tergantung dari bagaimana kita menggunakannya.

Dr. Ayu Purwarianti, Wakil Ketua Umum KORIKA bidang Talenta AI, mewanti-wanti pentingnya talenta muda untuk serius menguasai bidangnya.

“Kita harus ahli di bidangnya atau akan ditelan mentah-mentah oleh AI, karena ke depannya AI tidak akan mengalami kemunduran,” tegasnya.

Sementara itu dari sisi pemerintah, perhatian lebih diarahkan ke pembangunan infrastruktur. Marudur Pandapotan Damanik, peneliti BRIN, menegaskan ada rencana jangka panjang di balik roadmap strategi nasional AI.

“Dari pemerintah kita mempunyai rencana jangka panjang yaitu berusaha membangun superplatform untuk mempercepat pelayanan publik kepada masyarakat,” ungkapnya.

Kedua perspektif ini jelas membuktikan kalau ingin ekosistem AI Indonesia maju, kita butuh kombinasi talenta yang siap dan infrastruktur yang mumpuni.

Selain Ayu dan Marudur, ada juga sederet pembicara lain yang mengisi panggung diskusi, mulai dari materi pembuatan prompt AI oleh Leonardi Anil, Lead Creative Business & Partnership di Anantarupa Studio, yang menekankan bagaimana prompt engineering bisa menjadi keterampilan baru yang wajib dikuasai oleh semua kalangan agar kita bisa bertahan di gempuran teknologi AI yang semakin canggih.


Foto: Uzone.id


Ada pula Brillian Fairiandi, seorang AI visual creator sekaligus Founder Imajik, yang membagikan pengalamannya mengembangkan bisnis advertising berbasis AI dan menunjukkan bagaimana karya visual yang kompleks bisa lahir hanya dari ide dan pemahaman terhadap kercerdasan artificial.

Sementara itu, Marchie Chen, PR Manager Coocaa Technology Skyworth Group China, menekankan pentingnya penerapan AI dalam meningkatkan produktivitas perusahaan, khususnya di lingkungan kerja modern yang menuntut efisiensi tinggi, seperti yang mereka lakukan di China.

Diskusi-diskusi ini memperlihatkan spektrum luas pemanfaatan AI, mulai dari industri kreatif, periklanan, hingga dunia korporasi.

Acara ini menunjukkan bahwa diskusi mengenai AI tidak bisa lagi dipandang sebatas agenda akademik atau percakapan teknis semata. AI jelas akan terus menjadi bagian dari masa depan. Pertanyaan utama yang muncul bukan lagi tentang seberapa canggih teknologi ini dapat berkembang, melainkan seberapa siap ekosistem—mulai dari talenta, regulasi, hingga infrastruktur—mengarahkan perkembangan tersebut agar tetap etis, inklusif, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.