Mobil PHEV Cuma Kedok Ramah Lingkungan, Emisinya Mirip Bensin?

Uzone.id-Tren mobil Plug-in Hybrid (PHEV) sedang menjamur di Indonesia berkat agresifitas pabrikan China. Mobil jenis ini dianggap jadi transisi terbaik karena dianggap ramah lingkungan.
Namun, studi terbaru Transport & Environment (T&E) membuka sisi lain dari citra hijau tersebut. PHEV disebut sebagaismoke screen atau kamuflase di jalan menuju netral karbon.
Soalnya di dunia nyata, kendaraan ini justru menghasilkan emisi karbon dioksida hampir setara dengan mobil bensin konvensional aliasinternal combustion engine(ICE).
Emisi Realnya Lima Kali Lipat dari Klaim Resmi
Dalam laporan bertajuk 'Smoke Screen: The Growing PHEV Emissions Scandal' yang dirilis pada Oktober 2025, T&E menemukan bahwa mobil PHEV yang terdaftar di Eropa pada 2023 memiliki emisi karbon hampir lima kali lebih tinggi dari klaim resmi pabrikan.
Data tersebut dikumpulkan lebih dari 800.000 unit mobil melalui sistem pemantau konsumsi bahan bakar (on-board fuel consumption monitoring atau OBFCM).
Hasilnya, emisi real dari PHEV tercatat rata-rata mencapai 135 gram CO2 per kilometer, sedangkan hasil uji laboratorium hanya menunjukkan sekitar 27 gram per kilometer.
Artinya, ada kesenjangan besar antara kenyataan di jalan dan hasil pengujian.
Pada 2021, selisihnya sekitar tiga kali lipat, tetapi dua tahun kemudian sudah meningkat hampir menjadi lima kali lipat.
“PHEV terlihat bersih di atas kertas, tetapi di jalan raya mereka mengeluarkan emisi hampir sama banyak dengan mobil bensin biasa,” tulis T&E dalam laporannya, dikutip Uzone.id.
Salah satu penyebab utama kesenjangan itu adalah asumsi penggunaan yang terlalu optimistis.
Dalam pengujian resmi, otoritas Uni Eropa menggunakan rumus utility factor (UF) untuk memperkirakan porsi jarak tempuh yang ditempuh dengan tenaga listrik.
Regulasi menetapkan bahwa sekitar 84 persen jarak dianggap ditempuh dalam mode listrik.
Namun, kenyataannya jauh dari itu, di mana data lapangan menunjukkan, rata-rata pengemudi hanya menggunakan mode listrik untuk 27 persen jarak tempuhnya. Sisanya tetap bergantung pada mesin bensin.
Masalah tidak berhenti di situ. Saat beroperasi dalam mode listrik pun, banyak PHEV yang tetap menyalakan mesin bensinnya karena motor listrik yang kurang bertenaga.
Mesin konvensional ikut bekerja saat mobil menanjak atau berakselerasi, membuat konsumsi bahan bakar tetap tinggi yaitu sekitar 3 liter per 100 kilometer. Padahal, pengemudi mengira mobilnya sedang berjalan tanpa bahan bakar fosil.
Jika dikonversi, tambahan bahan bakar ini berarti biaya sekitar Rp 4 juta per tahun, uang yang seharusnya tidak keluar ketika kendaraan dijalankan dalam mode listrik.
Kerugian yang Ditanggung Konsumen
Kesenjangan antara hasil uji dan kondisi nyata bukan hanya merugikan lingkungan, tapi juga konsumen karena mobil mengonsumsi lebih banyak bensin daripada klaim resmi.
Laporan T&E memperkirakan, rata-rata pengguna PHEV di Eropa membayar 500 euro sampai 900 euro (Rp 8 juta hingga Rp 15 juta) lebih banyak per tahun dibanding perhitungan pabrikan.
Bahkan untuk model populer seperti Ford Kuga, konsumsi bahan bakar di dunia nyata tercatat tiga kali lipat lebih tinggi dari angka resmi, setara dengan tambahan pengeluaran sekitar Rp 6 juta per tahun.
Padahal harga jual PHEV sendiri sudah cukup tinggi. Rata-rata dibanderol 55.700 euro (sekitar Rp 1 miliar), sekitar 15.000 euro (Rp 270 juta) lebih mahal dibanding mobil listrik murni (battery electric vehicle atau BEV).
Bagi banyak pengemudi, PHEV masih dianggap pilihan aman, bisa diisi listrik, tapi tetap punya cadangan bensin.
Namun jika hanya seperempat perjalanan benar-benar dilakukan tanpa emisi, manfaat terhadap lingkungan nyaris tak berarti.
Studi ini menegaskan, UE perlu bersikap tegas dan tak terjebak pada "teknologi peralihan" yang menipu.
Koreksi terhadap sistem penghitungan emisi harus tetap dijalankan, terutama pembaruan utility factor pada 2027–2028 agar data lebih mencerminkan kondisi di lapangan.