Muncul Tren Kejahatan ‘Dark AI’, Incar Pengguna di Asia Pasifik

pada 10 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Ancaman di ruang digital diprediksi bakal semakincanggih dan sulit terdeteksinihseiring bangkitnya sebuah trenkejahatan yang berlawanan dengan kegunaan AI saat ini. 

Tren ini bernama Dark AI. Seperti namanya, AI kini digunakanuntuk kejahatan siber. Pelaku kini memanfaatkan AI untuk melancarkan serangan,mulai dari phishing sederhana hingga operasi spionase siber yang didukungnegara.

“Kita memasuki era keamanan siber dan masyarakat di mana AIadalah perisai dan Dark AI adalah pedangnya,” kata Sergey Lozhkin, Kepala TimRiset dan Analisis Global Kaspersky.

Adanya modus kejahatan ini ditemukan oleh Kaspersky dan terus dipantau semenjakplatform chatbot AI seperti ChatGPT mendapatkan popularitas global pada tahun2023 lalu. Perusahaan keamanan siber ini mengamati beberapa adopsi AI yangbermanfaat, mulai dari tugas-tugas sederhana seperti pembuatan video hinggadeteksi dan analisis ancaman teknis.




Dark AI sendiri mengacu pada penggunaan model bahasa besar(LLM) yang dioperasikan di luar standar keamanan dan kepatuhan, sehingga bisadimanfaatkan untuk penipuan, manipulasi, peretasan, hingga pencurian data tanpapengawasan.

Bentuk Dark AI yang paling dikenal saat ini adalah Black HatGPT, yang mulai muncul sejak pertengahan 2023 lalu. 

Model AI ini sengaja dibuat atau dimodifikasi untuk tujuanberbahaya, seperti menghasilkan kode berbahaya, merancang email phishing yangsangat persuasif, membuat deepfake suara dan video, bahkan membantu operasiperetasan tingkat lanjut. 

Black Hat GPT ini berupa model AI privat atau semi-privat.Beberapa contoh dari model AI ini antara lain WormGPT, DarkBard, FraudGPT, danXanthorox. Semuanya dirancang untuk mempermudah kejahatan siber dan penipuanotomatis.

Kaspersky mengungkap bahwa tren ini kini bergerak ke levelyang lebih gelap. Aktor negara-bangsa mulai memanfaatkan Dark AI dalam kampanyesiber mereka. 




Baru-baru ini, OpenAI melaporkan pihaknya telah menggagalkanlebih dari 20 operasi terselubung yang mencoba menyalahgunakan teknologi AImereka.

 Dalam beberapa kasus, pelaku menciptakan persona palsuyang meyakinkan, merespons target secara real-time, dan memproduksi kontenmultibahasa untuk menipu korban sekaligus menembus filter keamanan tradisional.

“Kita dapat memperkirakan para pelaku ancaman akanmenciptakan cara yang lebih cerdas untuk mempersenjatai AI generatif yangberoperasi di ekosistem ancaman publik dan privat. Kita harus bersiapmenghadapinya,” jelas Lozhkin.

Yang membuat AI semakin rentan adalah karena teknologi initidak memiliki kemampuan alami untuk membedakan benar atau salah. 

AI hanya mengikuti perintah, sehingga ketika perlindungandilanggar, kelompok peretas canggih atau Advanced Persistent Threat (APT) tetapbisa memanfaatkannya. 

Oleh karena itu, di tengah ancaman Dark AI yang semakinmudah diakses dan kemampuan yang semakin mumpuni, organisasi maupun individu diAsia Pasifik harus memperkuat kesadaran dan pertahanan siber mereka.

Organisasi maupun individu yang sering berselancar di ruangdigital disarankan untuk menggunakan solusi keamanan untuk mendeteksi malwaredan ancaman berbasis AI, manfaatkan alat intelijen ancaman untuk memantaueksploitasi berbasis Ai, membatasi kontrol akses dan edukasi karyawan (bagiperusahaan) serta