Nasabah Bank Kehilangan Rp200 Miliar, Ada Dugaan Celah di BI Fast?

pada 6 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Kasus pembobolanatau serangan siber kembali mencuat. Gak main-main, serangan ini menargetkansistem teknologi perbankan dan menyebabkan kerugian hingga Rp200 miliar.

Kasus ini pertama kali mencuat saat adanya gangguanpada sistem Bank Jakarta (Bank DKI) beberapa bulan lalu. Melansir dari Tempo,Rabu, (10/12), peretasan ini terjadi beberapa kali dan terakhir terjadi pada 29Maret 2025.

Dari hasil terbaru penyidikan Bareskrim Polri, peretasanyang menimpa Bank Jakarta terjadi kurang lebih selama setahun terakhir, yaitusemenjak 2024 hingga Maret 2025.




Diketahui, transaksi tak normal tersebut dilakukan sebanyak807 kali dengan total nilai pembobolan mencapai Rp227,1 miliar. Akan tetapi,jumlah ini berbeda-beda dengan yang tercatat dari core banking Bank Jakarta.

Di bank tersebut, transaksi anomali ini tercatat Rp18,721miliar sementara itu dari log sistem yang mencatat settlement statement, angkatransaksi tersebut lebih besar yaitu Rp245,8 miliar.

Penyidikan yang lain menyebut bahwa peretasan ini tidakhanya terjadi melainkan beberapa bank, dimana delapan bank menjadi korban darimodus peretasan melalui sistem BI-Fast.

PPATK juga menyatakan bahwa peretasan ini dilakukan dengancara mengimitasi script server yang digunakan untuk mengakses BI-Fast. Modusimitasi script ini menyebabkan dana dari bank bisa dipindahkan ke akun laintanpa perlu verifikasi dari pihak bank itu sendiri.

Terkait peretasan ini, pihak kepolisian masih terus menggalidan telah melakukan penutupan pada akun-akun rekening yang menerima dana. 




Tak hanya itu, Dittipidsiber Bareskrim Polri juga dilaporkantelah menetapkan enam orang tersangka kasus ilegal akses sistem Bank Jakartayang menerima uang hasil dari kejahatan tersebut.

Sementara untuk sindikat peretasan yang menjadi pelaku utamaperetasan sistem di delapan bank ini masih berkeliaran secara bebas.

Apa kata Bank Indonesia?

Terkait sistemnya yang disebut menjadi celah peretasan danpembobolan bank, Bank Indonesia menyebut kalau pihaknya tengah memantau kasusini. BI juga sedang berkoordinasi dengan OJK dan pihak berwajib untukmemastikan langkah pemulihan dan juga penguatan keamanan mereka.

“Proses ini penting dalam menjaga agar fraud ini tidakmengganggu stabilitas sistem pembayaran serta perlindungan konsumen terpenuhi,”kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dikutip dariberbagai sumber, Rabu, (10/12).

Terkait layanan BI-Fast yang dimiliki oleh Bank Indonesia,Denny menyebut bahwa layanan ini dikembangkan dan dioperasikan sesuai denganstandar internasional dan keamanan yang berlaku saat ini.

Ia melanjutkan, “Pengiriman instruksi transaksi dari bank BItelah dilengkapi dengan pengamanan yang memadai melalui jaringan komunikasiyang aman.”

Namun, Denny juga mengingatkan bahwa para peserta BI-fastperlu memperhatikan pengamanan di sisi internal sesuai dengan prinsip keamananteknologi informasi. Ia juga menghimbau masyarakat untuk selalu memeriksakembali data transaksi, menjaga kerahasiaan PIN dan OTP dan fitur notifikasiuntuk memantau aktivitas dalam rekening.