Nvidia Dapat Lampu Hijau Jualan di China, Trump Minta ‘Jatah’ Segini

Uzone.id—Presiden ASDonald Trump akhirnya luluh juga dan memberi lampu hijau bagi produsen chipNvidia untuk kembali berjualan di China.
Pada Senin, (08/12), Trump mengumumkan bahwa dia akanmengizinkan raksasa chip AI Nvidia untuk menjual chip canggih mereka yaitu H200kepada beberapa perusahaan China “yang sudah dipilih".
Tak hanya Nvidia saja, keputusan ini juga akan berlaku untukperusahaan chip AS lainnya seperti AMD.
Keputusan ini diambil setelah lobi ekstensif yang dilakukan bos Nvidia Jensen Huang yang mengunjungi Washington minggu lalu.
"Kami menyambut baik keputusan Presiden Trump yangmemperbolehkan industri semikonduktor Amerika bersaing guna mendukung lapangankerja bergaji tinggi dan manufaktur di Amerika," kata Nvidia dalampernyataannya, dikutip dari BBC News, Selasa, (09/12).
Nvidia menambahkan, “Menawarkan chip H200 kepada pelanggankomersial yang disetujui dan telah diverifikasi oleh Departemen Perdaganganmemberikan keseimbangan yang bijak bagi Amerika.”
Terkait keputusan ini, Trump menyebut bahwa ini merupakanbagian dari strategi mereka dalam mempertahankan kepemimpinan Amerika serikatdalam hal teknologi AI.
"Kami akan melindungi Keamanan Nasional, menciptakanPekerjaan Amerika, dan mempertahankan kepemimpinan Amerika dalam AI," ujarTrump.
Trump menyebut kalau izin tersebut sudah disambut baik olehPresiden China Xi Jinping.
Ia menyebut kalau Jinping telah "meresponspositif" keputusan terbaru soal ekspor chip H200 tersebut.
Meski begitu, izin penjualan chip H200 ini tidak diberikansecara cuma-cuma. Donald Trump memberikan syarat yang cukup berani denganmeminta ‘jatah’ tarif yang lebih tinggi yaitu sebesar 25 persen daripenjualannya.
Chip H200 sendiri merupakan chip canggih dari Nvidia yangberada satu tingkat dibawah chip Blackwell yang masih di-gatekeepolehAmerika Serikat. Chip H200 merupakan chip AI yang memang dikembangkan Nvidiasecara khusus untuk pasar China.
Sebelumnya, gara-gara perang Chip AS-China memanas, Nvidiajadi salah satu perusahaan yang paling terkena dampak. Dengan adanya keputusantersebut, perusahaan yang punya valuasi tertinggi di dunia ini berpotensimendapatkan kembali pendapatan mereka senilai milyaran dolar yang sempat hilangdari pasar global.