Pengguna E-commerce RI Pede Bisa Deteksi Phishing, Ini Buktinya
.jpg)
Uzone.id– Sebuah risetterbaru dari Kaspersky mengungkapkan bahwa mayoritas dari orang-orang yangbelanja online terlalu percaya diri dalam mendeteksi penipuan di ruangdigital.
Secara global, 65 persen dari mereka yakin bisa mengenalipenipuan online tanpa harus mengandalkan solusi keamanan, sementara sebanyak 42persen mengaku perlu menggunakan solusi keamanan agar transaksi mereka secaradigital aman dari tautan yang berbahaya.
Sementara di Indonesia, survei menemukan bahwa 83 persenpebelanja online di RI percaya diri kalau mereka bisa mendeteksi penipuansendiri, jauh di atas rata-rata global dan hanya 58 persen yang menggunakansolusi keamanan digital.
Melihat kepercayaan diri dari pengguna e-commerce, Kasperskymenilai bahwa kondisi ini memiliki risiko yang cukup besar.
Pasalnya, meskipun sebagian besar percaya bisa membedakanpenipuan online, tapi hal ini tidak menutup kemungkinan mereka lepas dariserangan penjahat digital. Apalagi, dalam kurun waktu satu tahun terakhir,Kaspersky mendeteksi hampir 6,7 juta serangan phishing yang menyamar sebagaitoko online, sistem pembayaran, dan layanan perbankan.
Dari jumlah tersebut, 55,6 persen diantaranya secaralangsung menargetkan pebelanja online.
Olga Altukhova, Analis Konten Web Senior di Kaspersky jugamengungkap bahwa pebelanja online terus menjadi target utama penipu, terutamasaat periode diskon.
Ia menyoroti meningkatnya penggunaan teknologi AI olehpelaku kejahatan untuk menciptakan phishing yang lebih canggih dan sulitdikenali.
“Sepanjang tahun ini, kami mengamati bahwa pebelanja onlinesecara konsisten menjadi salah satu target paling diinginkan oleh penipu.Selama periode diskon misalnya, penipuan mereka dapat menjadi lebih meluas,”katanya.
Di sisi lain, kesadaran soal risiko keamanan online jugaterus mengalami kenaikan. Sebanyak 97 persen pengguna menyadari soal haltesebut dan telah menerapkan setidaknya beberapa langkah perlindungan saatbertransaksi digital.
Langkah perlindungan mandiri yang paling umum dilakukankonsumen antara lain mewaspadai tautan atau hyperlink yang mencurigakan atautampilan situs yang tidak biasa (65 persen), serta memverifikasi keaslianpenjual (62 persen).
Langkah-langkah tersebut disebut masih bersifat dasar danbelum cukup untuk memberikan perlindungan menyeluruh tanpa dukungan solusikeamanan khusus.
Langkah lain yang bisa dilakukan seperti menggunakan kartuterpisah untuk transaksi online serta alamat email terpisah untuk mendaftar ditoko online yang tidak dikenal disebut masih relatif jarang dilakukan.
Selain menggunakan alat keamanan siber, hampir 30 persenpengguna e-commerce global mengaku berkonsultasi dengan teman atau keluargasebelum melakukan transaksi di platform belanja.
Untuk mengurangi risiko penipuan, Kaspersky mengimbau semuapengguna agar tidak menyimpan detail kartu kredit lengkap di situs web,menggunakan kartu terpisah untuk belanja online, tetap waspada terhadap flashsale, dan memakai kata sandi berbeda di setiap akun.