Perdana Jajal Vivo Vision di China, Gak Bikin Mual dan Ringan!

Uzone.id–Vivo Vision memangcuma dipamerkan di China, itu pun belum dijual resmi ke khalayak umum. Tapi,Uzone Indonesia bisa jadi salah satu media pertama yang nyobain perangkatmixedrealitypertama dari Vivo ini.
Bertempat di kantor pusat Vivo HQ di Dongguan, China, kamiakhirnya bisa menjajal langsung perangkat yang satu ini. Dari klaimnya, VivoVision ini punya bobot yang sangat ringan tapi tetap powerful dan mengedepankankenyamanan buat pengguna.
Kami kurang lebih mencoba Vivo Vision selama 20 menit dengansatu staff sebagai guide-nya. Lumayan lama mencoba headset canggih ini, berikutbeberapa point yang kami dapat.
Sekilas soal body luarnya
Vivo bilang kalau mereka melakukan riset hingga 4 tahununtuk mengembangkan perangkat mixed reality ini, salah satunya adalah untukmengurangi beratnya agar tidak seberat perangkat mixed reality biasanya.
Belajar dari perangkat sebelah yang banyak dikritik, Vivopun menggunakan material ‘alternatif’ agar tetap kokoh tapi tetap ringan.
Dilihat dari body-nya, Vivo Vision sendiri banyakmenggunakan bahan-bahan ringan, mulai dari logam, kain, plastik dan kaca. Takheran kalau bobotnya hanya sekitar 398 gram saja.
Bahan-bahan seperti kain ini terlihat di bagian luarlightsealdanstrap bandsebagai penyangga. sementara plastik digunakandi bagian bingkai headset.
Dari bagian depan, desain Vivo Vision ini memang terlihatfuturistik dengan warna hitam mengkilap dimana di masing-masing layarnyadibekali dengan kamera. Kemudian, di bagian kiri bingkai terdapat ‘crown’ atautombol untuk mengendalikan beberapa fitur di dalam layarnya.
Soal warna, Vivo Vision hanya tersedia dengan satu warnayang didominasi dengan warga hitam dan abu-abu. Menurut saya, hal ini yangmenambah kesan futuristik mereka, tapi kalau ada opsi warna lain, sepertinyaakan lebih baik.
Kesan pertama: Ringan!
Apa yang ditonjolkan Vivo dalam perangkat ini bukan‘omon-omon’ belaka, perangkat ini memang ringan, serius deh. Bahkan, beberapadari kami (yang mencoba perangkat ini) pun sepakat bahwa bobot si kacamatacanggih ini memang jauh lebih ringan dari yang dibayangkan.
Saat pertama kali disematkan di kepala, saya sudah‘mempersiapkan diri’ kalau kacamata ini akan membuat kepala saya terasa beratdan pegal (khususnya di leher). Tapi pada kenyataannya, saya tidak perlumenghabiskan tenaga berlebih untuk menyangga perangkat ini di kepala. Tidakterasa pegal sama sekali.
Bagian batang hidung juga tidak terasa sakit dalam pemakaian20 menit, hal ini berkat adanya foam padding yang memang bertujuan untuk bikinbagian wajah terasa nyaman, ditambah dengan dual loop strap yang adjustablesehingga bisa disesuaikan dengan ukuran kepala.
Vivo Vision menyediakan 8 opsi ukuran padding agarmenyesuaikan bentuk wajah pengguna. Nah, demi hasil yang sesuai, wajah kami pundi-scan lebih dulu oleh kamera depan Vivo Vision, lalu setelah itu muncul opsiukuran yang pas digunakan.
Setelah menggunakan kurang lebih 20 menit, ketika dilepasdari bagian mata dan dahi pun kacamata ini sama sekali tidak meninggalkan jejakalias tidak terlihat tekanan berlebih pada bagian yang tertutup oleh headset.
Comfy dan friendly buat mata rabun
20 menit rasanya kaya sebentar, bukan hanya karena nyamandigunakan tapi karena kacamata yang satu ini enak untuk dilihat. Layarbinokular-nya yang 8K terlihat jelas–meskipun kondisi mata saya yang minushampir 2 di masing-masing mata kanan dan kiri.
Hal ini karena Vivo menyediakan lensa optik dengan ratusanopsi yang menyesuaikan kondisi mata pengguna, baik itu rabun jauh hingga rabundekat sekali pun. Sayangnya, belum ada info resmi apakah nantinya penjualanuntuk lensa khusus ini akan dijual secara terpisah atau sudah include dalambundling.
Immersive dan Responsif!
Untuk mengendalikan layarnya, Vivo Vision menggunakankombinasi eye-tracking dan gerakan tangan ‘move-and-pinch’. Teknologieye-tracking ini bisa mengikuti arah pandangan mata pengguna dengan cukup akurat.
Salah satu yang saya rasakan dari eye tracking ini adalahketika saya ingin memilih satu aplikasi yang ingin dibuka. Saya cukup menatapikonnya hingga sistem menguncinya secara otomatis, lalu melakukan gerakan pinchuntuk membuka aplikasi tersebut.
Gerakan tangannya juga sangat responsif dan minim latensi,apalagi saat bermain game yang memang membutuhkan gerakan tangan yang cukupcepat. Sayangnya, pilihan game yang tersedia baru sedikit, tapi Vivo udahngumumin kalau nantinya akan ada game-game lain, bahkan game PC yang availabledengan perangkat ini.
Part yang sangat saya suka adalah saat menonton video,kalian bisa menonton film, konser, hingga tayangan olahraga di layar lebar Vivo Vision ini. Nontonnya udah kaya di bioskop pribadi dengan layar luas hingga 35meter, warna juga tetap menyala dan hidup begitupun dengan suara yang tetap ok.
Ketika menonton video atau tayangan 3D, saya merasa beradamasuk dalam dunia tersebut dan berada tepat di depan mereka apalagi kalian bisamelihat kondisi sekeliling hingga 180 derajat sehingga benar-benar masuk kedunia tersebut.
No Motion Sickness
Nah ini juga yang jadi highlight saat menjajal perangkatini. Walau baru pertama kali menggunakan perangkat ini, penglihatan saya samasekali tidak terganggu, tidak ada efek pusing dan mata yang cepat lelah.Rasanya sudah seperti terbiasa menggunakan perangkat ini alias sama sekalitidak ada motion sickness.
Jadi kesimpulannya....
Singkatnya, vivo Vision Discovery Edition ini jadi debutVivo yang mengesankan di pasar mixed reality. Nyaman tentu jadi yang palingutama, beneran ringan, UI yang sederhana, eye tracking dan hand gestureyang responsif dan tentunya gak bikin pusing.
Ini jelas lebih dari sekadar produk yang dipamerkan Vivo saatulang tahun saja, tapi kaya ngasih statement kalau Vivo benar-benar seriusmasuk ke pasar mixed reality. Jadi, kapan nih dijual resmi ke seluruh dunia,Vivo?