Perusahaan Asal China Pasok Listrik Hijau & Kelola Sampah Jakarta

pada dalam 43 menit - by
Advertising
Advertising

Uzone.id -Asia Tenggara kini lagi jadi "gadis jelita" yang diincar oleh raksasa energi dunia. Gimana enggak?Di tengah pesatnya pertumbuhan industri dan era digitalisasi yang makin masif, kebutuhan akan pasokan listrik yang stabil sekaligus ramah lingkungan otomatis ikut meroket.

Melihat peluang emas ini, perusahaan energi raksasa asal China,GCL Energy Technology (GCL ET), resmi menancapkan taringnya di Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai fokus utamanya!



GCL ET siap memperkuat transisi energi bersih lewat berbagai investasi proyek energi terbarukan yang ambisius


Komitmen Investasi GCL ET di Indonesia: PLTS 200 MW bareng PLN

Langkah GCL ET di tanah air terbilang sangat agresif.Mereka tidak sekadar berencana, tapi sudah resmi menandatangani dua perjanjian jual beli tenaga listrik (PPA) denganPT PLN (Persero).

Total kapasitas listrik yang bakal digarap mencapai200 MW, yang dibagi menjadi dua jenis proyek:

  • 100 MWuntuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Darat (ground-mounted).

  • 100 MWuntuk PLTS Terapung (floating solar).

"Kami melihat potensi besar di Indonesia untuk mempercepat transisi energi. Kemitraan kami dengan PLN dan anak perusahaan Pertamina merupakan langkah konkret untuk menghadirkan solusi energi yang tidak hanya efisien, tetapi juga berkelanjutan bagi masa depan industri di tanah air," ungkapFanzhong Zeng, Head of Strategic Development Center GCL Energy Technology.

Kolaborasi dengan Anak Usaha Pertamina: Kelola Sampah Jakarta Timur

Selain mengandalkan kekuatan matahari, GCL ET juga menggandengPPI, yang merupakan anak perusahaan dariPertamina.Kerja sama strategis ini bakal mengeksplorasi beberapa proyek masa depan, mulai dari sistemsolar-plus-storagehingga pembangkit listrik bertenaga gas.



Menariknya, salah satu proyek yang paling krusial adalah pengelolaan lingkungan, yaitu fasilitasWaste-to-Energy di Jakarta Timur.Proyek canggih ini dirancang mampu menyulap1.428 ton sampah per harimenjadi energi listrik! Solusi keren banget buat mengatasi masalah sampah di ibu kota, bukan?


Foto: Dok ist


Indonesia memang jadi titik berat, tapi radar ekspansi GCL ET mencakup negara tetangga lainnya di ASEAN:

  • Vietnam:GCL ET sudah ikutan mengembangkan energi angin lewat proyek Vina berkapasitas 30 MW yang berlokasi di Khanh Hoa.

  • Malaysia:Mereka sedang melirik peluang di sektor pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI), pasokan listrik hijau, hingga pengelolaan aset energi digital.

Integrasi Energi Hijau dan Teknologi Digital

Menurut Fanzhong Zeng, masa depan industri energi tidak bisa lepas dari teknologi digital.Di masa depan, integrasi antara energi hijau dan infrastruktur digital sepertidata centerbakal menjadi tulang punggung perekonomian modern.

Fokus GCL ET ke depan adalah mengawinkan teknologi manajemen energi dengan infrastruktur digital demi mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan yang lebih rendah karbon
.

Kehadiran GCL ET di pasar regional tentu membawa angin segar dan optimisme tinggi bagi transisi energi di Indonesia.

Melalui kombinasi proyek skala besar dan teknologi manajemen energi yang canggih, kebutuhan listrik untuk industri dan ekonomi digital di tanah air diharapkan bisa terpenuhi dengan cara yang jauh lebih ramah lingkungan
.