Piala Dunia 2026 Bukan Cuma Ujian Pemain, Tapi Juga Jaringan Seluler

pada dalam 28 menit - by
Advertising
Advertising

Uzone.id– Ketika orang membicarakan Piala Dunia 2026, perhatian biasanya tertuju pada para pemain bintang, stadion megah, dan persaingan 48 tim yang akan memperebutkan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.

Namun di balik gegap gempita tersebut, ada "pertandingan" lain yang tak kalah penting. Bukan di lapangan, melainkan di balik layar jaringan telekomunikasi.

Piala Dunia 2026 bisa dibilang akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah FIFA. Turnamen ini melibatkan 48 tim, 104 pertandingan, dan digelar di 16 stadion yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Skala yang sangat besar itu membuat konektivitas digital menjadi salah satu faktor penting yang ikut menentukan pengalaman para penggemar.

Jika dulu tantangan terbesar suporter adalah mendapatkan tiket pertandingan, kini tantangannya bisa jauh lebih sederhana sekaligus krusial: memastikan smartphone tetap terhubung ke internet.




Dari bandara hingga stadion,experiencefans kini bergantung pada koneksi

Menurut analisis terbaru Ookla, perusahaan di balik layanan Speedtest, pengalaman digital para penggemar tidak hanya ditentukan oleh jaringan di dalam stadion.

Mereka juga menyoroti sejumlah lokasi yang menjadi titik penting perjalanan fans, mulai dari bandara, kawasan kota, areafan fest,hinggavenuepertandingan.

Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman menonton sepak bola modern tidak dimulai ketika seseorang duduk di tribun stadion.

Pengalaman tersebut dimulai sejak mereka mendarat di bandara, mencari transportasi, membuka peta digital, berkomunikasi dengan teman, hingga membagikan momen perjalanan ke media sosial.


Foto ilustrasi: Dlxmedia Hu/Unsplash

Dengan kata lain, jaringan seluler kini telah menjadi bagian dari infrastruktur penyelenggaraan event olahraga global.

Tiket pertandingan kini ‘hidup’ di smartphone

Ketergantungan terhadap konektivitas semakin besar karena FIFA mendistribusikan tiket pertandingan melalui aplikasi resmi mereka. Tidak ada tiket cetak maupun alternatif offline yang bisa digunakan sebagai cadangan.

Artinya, koneksi internet yang bermasalah bukan hanya membuat penggemar kesulitan mengunggah foto ke media sosial. Dalam situasi tertentu, masalah konektivitas juga bisa menghambat akses terhadap tiket digital yang dibutuhkan untuk masuk ke stadion.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana internet telah berubah dari sekadar pelengkap menjadi kebutuhan utama dalam pengalaman menghadiri event olahraga internasional.


Foto ilustrasi: Dominik Kuhn/Unsplash

Dua orang di stadion yang sama bisa mendapat sinyal berbeda?

Salah satu temuan menarik dari Ookla adalah fakta bahwa pengalaman internet seorang pengunjung tidak hanya ditentukan oleh negara yang dikunjungi.

Banyak orang menganggap kualitas roaming akan sama selama mereka berada di negara tujuan yang sama. Kenyataannya tidak demikian.

Saat seseorang melakukan roaming ke luar negeri, koneksi yang digunakan bergantung pada perjanjian kerja sama antara operator asal dengan operator di negara tujuan.

Perjanjian tersebut menentukan berbagai hal, mulai dari jaringan yang dapat diakses, apakah pengguna mendapatkan layanan 5G atau hanya LTE, hingga bagaimana koneksi diprioritaskan ketika jaringan sedang padat.

Nah, karena hal tersebut, dua orang yang berasal dari negara yang sama, duduk berdampingan di stadion yang sama, bahkan menggunakan smartphone yang sama, bisa memperoleh pengalaman internet yang berbeda hanya karena menggunakan operator seluler yang berbeda di negara asal mereka.


Foto ilustrasi: Nelson Ndolanga/Unsplash

Fenomena ini pernah terlihat pada Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar. Pelanggan operator Personal dari Argentina, Telcel dari Meksiko, dan Vivo dari Brasil mendapatkan akses ke jaringan 5G Qatar.

Sementara itu, pelanggan Claro dan AT&T Mexico sebagian besar hanya dapat mengakses LTE.

Perbedaan akses tersebut menghasilkan pengalaman konektivitas yang berbeda meski seluruh penggemar berada di lokasi yang sama.





Tidak semua stadion Piala Dunia punya performa jaringan yang sama

Selain mengamati roaming, Ookla juga memetakan performa jaringan di stadion-stadion tuan rumah Piala Dunia 2026.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.

Amerika Serikat disebut menjadi negara dengan performa stadion terbaik. Kecepatan unduh median berkisar antara 242,19 Mbps di AT&T Stadium hingga mencapai 413,74 Mbps di Mercedes-Benz Stadium.

Sebagai perbandingan, stadion-stadion di Kanada mencatat kecepatan unduh median antara 140,61 Mbps hingga 143,37 Mbps.

Sementara itu, stadion di Meksiko berada di rentang yang lebih rendah, yakni antara 35,66 Mbps hingga 53,27 Mbps.

Data tersebut menunjukkan bahwa pengalaman digital para penggemar dapat berbeda tergantung lokasi pertandingan yang mereka kunjungi.

Meski demikian, kecepatan bukan satu-satunya faktor yang menjadi perhatian operator.




Bukan soalspeed, kapasitas menjadi tantangan terbesar

Dalam event sebesar Piala Dunia, tantangan utama bukanlah membuat internet menjadi sangat cepat. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga jaringan tetap stabil ketika puluhan ribu orang mencoba mengakses internet secara bersamaan.

Bayangkan puluhan ribu penonton secara serentak:

  • mengunggah video saat ada gol,
  • mengirim pesan ke grup percakapan,
  • melakukan live streaming,
  • membuka media sosial,
  • mengakses aplikasi pertandingan.

Momen seperti kick-off, jeda pertandingan, atau gol penentu kemenangan sering kali menjadi waktu tersibuk bagi jaringan seluler.

Karena itulah teknologi seperti 5G tidak hanya penting karena menawarkan kecepatan lebih tinggi, tetapi juga karena mampu menangani jumlah perangkat yang jauh lebih besar secara bersamaan dibanding generasi jaringan sebelumnya.





eSIM mulai jadi alternatif bagi wisatawan

Ookla juga menyoroti meningkatnya penggunaan eSIM sebagai alternatif roaming tradisional.
Teknologi ini memungkinkan pengguna membeli paket data lokal atau regional secara digital tanpa harus mengganti kartu SIM fisik.

Bagi banyak wisatawan, eSIM menawarkan sejumlah keuntungan seperti proses aktivasi yang cepat, biaya yang lebih terprediksi, serta kebebasan memilih jaringan yang dianggap memiliki performa terbaik di negara tujuan.

Dalam beberapa kasus, performa eSIM bahkan dapat lebih baik dibanding paket roaming internasional yang bergantung pada perjanjian antar operator.


Tren ini menunjukkan bahwa konektivitas kini menjadi salah satu aspek yang mulai direncanakan secara khusus oleh wisatawan internasional, sama pentingnya dengan memesan hotel atau tiket pesawat.

Ketika Piala Dunia 2026 resmi dimulai, perhatian dunia akan tertuju pada para pemain yang bertanding di lapangan.

Namun di balik sorotan kamera, ada sistem lain yang juga bekerja tanpa henti. Jutaan smartphone akan berpindah dari bandara ke pusat kota, dari fan fest ke stadion, sambil terus bergantung pada jaringan yang harus melayani lalu lintas data dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Piala Dunia 2026 pada akhirnya bukan hanya ujian bagi para pemain dan tim nasional, tetapi juga salah satu ujian terbesar yang pernah dihadapi industri telekomunikasi global.