Polri Ungkap Anak Diburu Kelompok Bersenjata Lewat Game & Chat

pada 7 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Sebuah fakta yangcukup mengkhawatirkan disampaikan oleh pihak Kepolisian RI (Polri) khususnyaDensus 88 Antiteror Polri, dimana mereka menyebut kalau saat ini perekrutankelompok bersenjata atau terorisme telah memasuki ruang digital.

Dalam keterangan yang disampaikan oleh Karopenmas PolriBrigjen (Pol) Trunoyudo Wisnu Andiko, Selasa, (18/11), perekrutan tersebutmenargetkan anak-anak di media sosial game online hingga aplikasi pesan instan.

“Modus perekrutan anak dan pelajar dengan memanfaatkan ruangdigital, termasuk diantaranya media sosial, game online, aplikasi perpesananinstan dan situs-situs tertutup,” katanya, dikutip dari Metrotvnews, Selasa,(18/11).




Penemuan ini merupakan hasil dari investigasi Polri selamasatu terakhir. Dalam temuan tersebut, jaringan terorisme tersebut memakaifasilitas komunikasi atau chat di dalam game online untuk merekrut anak.

Modusnya, mula-mula mereka melakukan game online, laluterdapat sarana komunikasi chat. menyebut jaringan terorisme ini memakaifasilitas komunikasi atau chat di dalam game online untuk merekrut anak.

"Ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak-anak kitaini ya, bermain game online. Nah di situ mereka juga ada sarana komunikasichat, gitu ya," kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP MayndraEka Wardhana, dikutip dari berbagai sumber.

Ia menerangkan bahwa terduga jaringan terorisme initerbangun dari interaksi yang terbangun saat bermain game online tersebut.Setelah itu, mereka mulai melakukan komunikasi yang lebih intens dengan targetmereka (which is anak-anak), melalui platform yang lebih privat yaitu aplikasipesan online, salah satunya Telegram bahkan WhatsApp.




Kemudian, perekerut ini memasukkan korban-korbannya ini kedalam grup yang lebih khusus, yang lebih terenkripsi, yang lebih tidak bisaterakses oleh umum.

Mayndra juga menyebut proses doktrinasi oleh jaringanterorisme dilakukan secara bertahap kepada anak-anak dan dimulai dengan menarikperhatian mereka.

"Intinya, ada beberapa proses, itu yang dari awalmemang tidak langsung menuju kepada ideologi terorisme, tetapi anak-anakdibikin tertarik dulu, kemudian mengikuti grup," tambahnya.

Selanjutnya, mereka kembali dimasukkan ke grup yang lebihkecil dan private lalu dari situlah proses doktrin berlangsung.

Modus ini terungkap setelah Densus 88 Antiteror Polrimenangkap lima orang yang berperan merekrut anak-anak dan pelajar untuk masukke dalam jaringan terorisme.

Densus 88 juga telah mengidentifikasi 110 anak yang telahmerencanakan aksi teror di sejumlah wilayah sepanjang tahun 2025 ini. Jumlahini meningkat signifikan imbas masifnya penyebaran doktrin di media sosial.