Profesi AI Developer & Data Analyst Jadi Pekerjaan Paling Dicari

Uzone.id –Riset World Bank dan McKinsey memperkirakan lebih dari 9 juta talenta digital yang akan dibutuhkan pada 2030. Terkhusus di bidang AI, data, dan otomasi industri. Pada saat yang sama, nilai pasar AI di Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar USD 2,4 miliar pada 2025.
Melihat kebutuhan tersebut, terlihat bahwa talenta digital yang memiliki keahlian spesifik menjadi aset yang berharga. Keahlian yang berkaitan dengan bidang AI dan data ini bukan hanya dibutuhkan di masa depan, tetapi juga banyak dicari saat ini.
“Yang paling dicari sekarang adalah yang sudah settle seperti AI developer, machine learning, data analyst, data engineer, yang segera dibutuhkan,” ungkap Irsyad Sahroni, Director & Chief Human Resources Officer, pada Rabu (24/9).
Sejalan dengan pernyataan Irsyad Sahroni, Narenda Wicaksono yang merupakan Founder & CEO Dicoding Indonesia ungkap bahwa banyak CEO perusahaan yang percaya pada potensi AI. Namun, mayoritas dari mereka menghadapi masalah serupa, yaitu data yang berantakan dan tersebar di mana-mana.
“Jadi, kalau ditanya digital talent apa yang dibutuhkan menurut AI generation ini? Yang pasti mereka yang bisa menata data, mengambil data, mengolahnya, sehingga bisa dipakai oleh AI sebagai basis untuk mengambil keputusan. Dan tentunya, nanti mengintegrasikan dengan existing system,” jelas Narenda Wicaksono, Founder & CEO Dicoding Indonesia.
Meskipun saat ini sudah banyak talenta digital di Indonesia, ada fenomena di mana sebagian besar dari mereka lebih memilih bekerja untuk perusahaan asing, atau bahkan ke luar negeri.
Menurut Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, Google Developer Expert & IDCamp 2025 Curriculum Design ungkap bahwa kesempatan untuk bekerja dari rumah (WFH) menjadi salah satu alasan utama mengapa talenta digital Indonesia lebih tertarik untuk bekerja dengan perusahaan asing, atau pergi ke luar negeri.
“Kadang anak-anak itu memang gak selalu mereka mengejar haji yang tinggi. Jadi terkadang mereka suka dengan company luar yang bisa memberi option WFH misalkan. Itu mungkin salah satu yang disediakan oleh company-company di luar yang menyebabkan anak-anak kita agak tertarik,” jelas Prof. Esther.
Selain karena fleksibilitas yang kerap diberikan oleh perusahaan asing atau bekerja di luar negeri, Narenda Wicaksono ungkap faktor lain seperti mendapat kesempatan untuk berdampak jadi faktor yang membuat pilihan untuk bekerja dengan perusahaan asing di luar negeri tampak lebih menarik.
“Saya mau ambil perspektif kalau banyak orang juga bekerja itu karena dampak. Karena impact. Kami di Dicoding salah satunya. Karena hasil yang memberikan dampak yang nyata. Karena dengan progresif mereka mendapatkan satisfaction,” jelas Narenda.
Pada akhirnya, Irsyad Sahroni ingatkan bahwa apapun bidang pekerjaannya, kunci untuk dapat terus bertahan adalah dengan memiliki bekal dan kapasitas yang memadai. “Pada saat ini sebenarnya semua profesi if you're not equipping yourself dengan capability and proper, tidak akan jadi apa-apa. That's the key,” ungkap Irsyad.