Rahasia Cita Rasa Gurih Olahan Chinese Food

pada 8 tahun lalu - by
Advertising
Advertising

KETIKA membicarakan chinese food atau makanan khas masyarakat Tiongkok, Indonesia memang tidak lagi asing dengan hal itu. Apalagi bila dirunut sejak kedatangan leluhur suku Tiongkok ke Indonesia, akulturasi budaya banyak terjadi termasuk untuk urusan dapur dan sajian di meja makan.

Melalui akulturasi itulah kita mengenal mi mulai dari mi goreng, bakmi, atau yamien, kemudian aneka sayur yang diolah dengan teknik cah atau tumis. Tidak lupa, penggunaan aneka kecap atau saus seperti kecap asin, kecap inggris, minyak wijen, kecap ikan, saus tiram, dan banyak lagi.

Olahan chinese food itu pun bukan hanya kita kenal di berbagai restoran, tetapi juga menjadi olahan makanan rumah. Oleh karena itulah, chinese food menjadi salah satu hidangan keluarga favorit dengan kekhasan rasa masing-masing sesuai dengan selera.

Ketika berbicara restoran chinese food, Kota Bandung memang memiliki puluhan restoran. Makanan yang sudah bersertifikat halal pun tersedia untuk kita memilih.

Salah satunya adalah Golden Chopstick, Jalan Trunojoyo Nomor 32 Kota Bandung. Ada banyak olahan chinese food yang kita kenal seperti capcay, fuyunghai, kangkung hotplate, ifumie, nasi tim, ayam goreng kecap, ayam goreng telur asin, dan tentunya berbagai sajian nasi goreng dan mi goreng.

Menurut Yunus Ciptawilangga, pemilik Golden Chopstick, restoran yang baru berdiri pada Agustus 2016 itu memang memiliki menu chinese food yang umum sudah dikenal cita rasanya oleh masyarakat. Sejak restoran berdiri, ia pun mengupayakan restoran itu memilikisertifikat halal MUI.

Ada beberapa menu yang menjadi favorit seperti cumi crispy saus mentega, udang gulung shanghai, kangkung hot plate sapi, serta kailan dua rasa. Ada pula menu baru yang muncul ketika telur asin sedang sangat digemari, yaitu ayam goreng telur asin yang juga menjadi favorit di Golden Chopstick.

Secara umum, chinese food memiliki cita rasa gurih, manis, dan asin yang menyatu dengan nikmat. Seperti ayam gulung shanghai yang disiram lagi dengan saus sehingga gurihnya lebih terasa. Kulitnya yang terasa garing berpadu nikmat dengan isian daging ayam yang gurih. Begitu pun dengan sup ayam jagung yang meskipun tanpa kepiting seperti sajian originalnya, tapi sup ini tetap memiliki aroma yang menggiurkan selera. Slurp!

Meskipun ada beberapa yang disajikan dengan cabai, rasanya tidak terlalu pedas. Seperti ayam goreng telur asin yang diberikan potongan cabai, rasa pedasnya hanya sebagai penambah rasa sehingga ayam bisa disantap dengan leluasa tanparasa kepedasan yang berlebih.

Ada pula olahan chinese food di Yami-Yami Noodle House, Jalan Sunda Nomor 53 Kota Bandung. Meskipun namanya seperti itu, sajiannya bukan hanya berbagai mi, meski mi sepertinya menjadi favorit.

Di restoran yang sudah berdiri sejak 1999 itu, ada berbagai olahan dan sajian mi. Misalnya yamien, yang bisa disajikan dengan ayam jamur, baso, atau pangsit. Beberapa tahun ke belakang, mi itu pun tersedia yang original, berwarna hijau dari daun gingseng, serta warna hitam yang didapat dari cumi.

Ada juga kwetiau dan bihun yang bisa disajikan dengan digoreng ataupun disiram sehingga berkuah. Lalu, ada mi hot plate yang memiliki aneka topping. Disajikan panas dengan asap mengepul tentunya sangat menggugah selera.

 

Bumbu khas, rahasia gurihnya olahan chinese food

Menurut Yunus, olahan chinese food memang memiliki bumbu-bumbu yang khas. Bumbu utamanya adalah bawang putih dengan aneka kecap atau saus. Yang paling sering digunakan adalah saus tiram, kecap asin, kecap ikan, kecap hitam, dan minyak wijen.

Sekilas, sajian chinese food itu mirip dengan menu peranakan ala singapore food dan malaysian food. Tetapi, teknik dan bumbunya berbeda. ”Bedanya, chinese food aslinya lebih sering dengan teknik cah atau steam, sangat sedikit yang digoreng. Kalau peranakan juga biasanya bumbunya dicampur terasi, santan, dan ada ikan asin atau ikan teri,” tuturnya.

Ia menambahkan, untuk satu sajian menu, biasanya dibutuhkan beberapa teknik masak. Seperti angsio kaki ayam yang digoreng sebentar, rebus, lalu dimasak lagi sausnya secara terpisah sebelum akhirnya digabung.

”Chinese food termasuk yang paling susah dari segi teknik. Beda teknik, akan beda rasa. Ketika memasukkan bumbu atau kecap dengan urutan yang berbeda, rasanya juga beda. Makanya ada olahan yang kok rasanya lebih gurih, ada yang lebih wangi. Saya beruntung masih dididik dengan cara chinese asli sejak usia 9 tahun,” ujarnya.

Ingin olahan mi, cah sayuran, ayam, udang, ikan, ataupun campurannya, aneka hidangan chinese food bisa memuaskan selera kuliner kita. Selamat makan, qing yong chan!***