Review Scomadi Technica 200i: Senyaman Apa buat Cewek Sehari-hari?

pada dalam 4 jam - by
Advertising
Advertising

Uzone.id - Jujur, setiap kali lihat motor klasik keluaran Inggris ini di jalan, yang pertama terlintas di kepala adalah: keren. Desainnya beda dari motor matik pada umumnya. Bentuk bodinya khas skuter klasik Eropa, lengkap dengan lekukan retro yang bikin motor ini gampang curi perhatian.

Tapi sebagai cewek, pertanyaan pertamanya bukan soal desain. Yang lebih penting justru, "motor klasik seperti ini nyaman nggak sih buat dibawa harian? Atau cuma enak dilihat doang?"

Setelah beberapa waktu nyobain langsung Scomadi Technica 200i, ternyata kesimpulan yang kami dapat cukup menarik.

Kesan pertama: kelihatan besar, tapi nggak seseram itu

Dari luar, Technica 200i memang terlihat cukup bongsor. Dimensinya lebih besar dibanding kebanyakan skutik 125 cc atau 160 cc yang sering ditemui di jalan. Ditambah lagi desain bodinya yang penuh panel dan lekukan membuat motor ini terlihat padat.

Awalnya sempat khawatir bakal susah mengendalikan motor ini, terutama saat harus manuver pelan atau parkir. Tapi begitu duduk di atas jok, kesan itu hilang.

Dok. Uzone

Posisi duduknya cukup natural dengan jok yang lebar dan empuk. Setangnya juga berada di posisi yang nyaman sehingga tangan nggak cepat pegal meski digunakan berkendara cukup lama.

Buat postur tubuh perempuan dengan tinggi sekitar 160 cm, posisi berkendaranya masih terasa ramah meski memang perlu sedikit adaptasi saat pertama kali naik.

Mesin 171,7 cc yang cocok buat santai
Scomadi Technica 200i dibekali mesin 171,7 cc satu silinder 4-tak dengan sistem injeksi elektronik. Tenaga yang dihasilkan berada di kisaran 11,5 hp dengan torsi sekitar 12 Nm.

Kalau melihat angka tersebut, memang nggak bisa dibandingkan dengan skutik 160 cc modern yang tugasnya kejar performa tinggi. Saat digunakan di dalam kota, tarikan awalnya terasa halus dan mudah dikontrol. Karakter seperti ini justru cocok buat pengendara yang lebih mengutamakan kenyamanan dibanding sensasi akselerasi agresif.

Dok. Uzone

Respon gasnya cukup linear. Ketika membuka throttle, tenaga keluar dengan halus tanpa membuat motor terasa liar. Buat pengendara perempuan yang baru pertama kali mencoba motor bergaya klasik premium, karakter seperti ini terasa cukup bersahabat.

Handling yang lebih ringan dari ekspektasi

Awalnya, salah satu hal yang paling buat penasaran adalah soal handling-nya. Karena biasanya, motor dengan desain klasik biasanya identik dengan bobot yang cukup berat.

Technica 200i memang memiliki bobot sekitar 130 kg. Saat motor digeser atau dipindah dalam kondisi mesin mati, bobot tersebut cukup terasa. Tapi menariknya, begitu motor mulai berjalan, rasa beratnya hilang.

Bobotnya terasa cukup seimbang sehingga motor tetap mudah diajak bermanuver di jalan perkotaan. Saat melintasi jalanan yang padat atau harus berpindah jalur, motor ini nggak kerasa merepotkan. Justru karena bobotnya cukup berisi, Technica 200i terasa stabil ketika melaju pada kecepatan menengah.



Suspensi empuk dan posisi riding santai

Hal lain yang bikin pengalaman berkendara terasa menyenangkan adalah sektor kenyamanan.
Suspensi depan dual shock absorber dan suspensi belakang single shock absorber-nya bekerja cukup baik buat redam berbagai kondisi jalan. Ketika lewat jalan bergelombang atau sambungan aspal, hentakannya nggak terlalu terasa sampai ke tubuh pengendara.

Posisi riding yang tegak juga buat badan nggak cepat capek. Bahkan setelah digunakan dalam perjalanan cukup jauh, area punggung dan bahu masih terasa nyaman. Dan kami rasa, ini jadi salah satu nilai plus dari Technica 200i.

Fitur dan detail yang bikin motor ini punya karakter

Selain desain retro yang kuat, Technica 200i juga dibekali sejumlah fitur modern. Lampunya sudah pakai teknologi LED, panel instrumen-nya juga menggabungkan nuansa klasik dengan informasi digital, serta pengereman menggunakan cakram di roda depan dan belakang.

Dok. Uzone

Yang paling menarik tentu identitas desainnya. Motor ini bukan tipe kendaraan yang hanya dipakai buat berpindah tempat. Menurut kami, Technica 200i punya karakter yang bakal buat orang menoleh ketika lewat.

Konsumsi BBM, boros atau irit?

Pertanyaan yang pasti muncul berikutnya adalah soal konsumsi bahan bakar. Dari pengalaman berkendara dan klaim yang beredar di komunitas pengguna, konsumsi BBM Scomadi Technica 200i berada di kisaran 35 sampai 40 km per liter, tergantung gaya berkendara dan kondisi lalu lintas.

Angka ini tergolong cukup baik buat motor dengan kapasitas hampir 200 cc dengan karakter touring santai. Ditambah kapasitas tangki sekitar 11 liter, motor ini bisa diajak perjalanan jauh tanpa terlalu sering mampir ke SPBU.

Jadi, nyaman nggak buat cewek?

Kalau harus menjawab pertanyaan di awal, menurut kami jawabannya, nyaman. Memang ada sedikit adaptasi karena dimensinya lebih besar dibanding skutik harian pada umumnya. Tapi setelah mulai terbiasa, motor ini justru menawarkan pengalaman berkendara yang santai dan stabil.

Posisi duduk nyaman, handling mudah dipahami, tenaga cukup buat kebutuhan harian, dan konsumsi BBM masih masuk akal. Ditambah lagi, desain klasiknya punya daya tarik yang sulit ditemukan di motor lain.

Dok. Uzone

Jadi kalau kalian para ladies mau tampil beda dari pengguna skutik mainstream, Scomadi Technica 200i mungkin cocok jadi pilihan kalian.

Soal harga, Scomadi Technica 200i memang bermain di segmen premium. Untuk pasar Jakarta, varian standarnya dibanderol mulai Rp85 juta (OTR Jakarta). Sementara Turismo Technica 200i dijual mulai Rp88 juta (OTR Jakarta), Carbon Edition sekitar Rp90 juta (OTR Jakarta), dan varian tertinggi Urban serta Adventure dipasarkan mulai Rp92 juta (OTR Jakarta).

Simak juga video kami saat coba jajal Scomadi Technica 200i buat dipakai jadi kendaraan hariandi sini!