Rupiah Melemah, Harga Paket Internet Terancam Naik? Ini Kata Operator

Uzone.id– Nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat membuat banyak masyarakat bertanya mengenai kenaikan harga, tak terkecuali soal harga layanan telekomunikasi, termasuk paket internet.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Industri telekomunikasi masih bergantung pada perangkat jaringan, teknologi, hingga investasi infrastruktur yang sebagian menggunakan komponen impor dan bertransaksi dalam mata uang dolar AS.
Namun, berdasarkan penjelasan tiga operator seluler besar di Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan XLSmart, pelemahan rupiah saat ini belum menjadi alasan untuk melakukan penyesuaian harga layanan kepada pelanggan.
Ketiganya kompak menyebut dampak fluktuasi nilai tukar masih dapat dikelola karena sebagian besar bisnis mereka berjalan menggunakan rupiah.
Director and Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Reski Damayanti, mengatakan perusahaan terus memantau perkembangan ekonomi makro, termasuk pergerakan kurs rupiah sebagai bagian dari pengelolaan bisnis.
"Indosat senantiasa mencermati berbagai dinamika ekonomi makro, termasuk pergerakan nilai tukar Rupiah, sebagai bagian dari pengelolaan bisnis yang prudent dan berkelanjutan,” ungkap Reski kepadaUzonehari ini, Selasa (30/6).
Ia melanjutkan, “struktur keuangan perusahaan dikelola secara disiplin, dengan mayoritas pendapatan dan biaya operasional berada dalam mata uang Rupiah, sehingga fluktuasi nilai tukar dapat dikelola dengan baik dan tidak secara langsung berdampak pada kebijakan harga layanan kami."
Dengan kata lain, meski nilai tukar rupiah bergerak melemah, Indosat menilai kondisi tersebut belum memberikan dampak langsung terhadap harga paket internet maupun layanan digital yang mereka tawarkan.
Hal senada juga disampaikan XLSmart. Perusahaan mengakui pelemahan rupiah memang memberikan tekanan terhadap industri telekomunikasi, terutama untuk kebutuhan investasi jaringan yang masih bergantung pada komponen impor.
"Pelemahan nilai tukar rupiah memang dapat memberikan tekanan terhadap industri telekomunikasi, terutama karena sebagian kebutuhan investasi jaringan dan perangkat masih menggunakan komponen impor yang berdenominasi dolar AS,” tutur Group Head Corporate Communications & Sustainability XLSmart, Reza Mirza saat dihubungi Uzone secara terpisah.
Meski demikian, XLSmart memastikan tekanan tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola.
"Namun, hingga saat ini dampaknya masih dapat dikelola dengan baik oleh perusahaan. Sebagian besar biaya operasional XLSmart menggunakan rupiah, dan seluruh pinjaman perusahaan saat ini juga berdenominasi rupiah,” lanjut Reza.
Agar harga layanan tetap kompetitif, XLSmart mengandalkan berbagai langkah efisiensi di internal perusahaan.
Dari penjelasan Reza, XLSmart terus menjalankan berbagai inisiatif operational excellence untuk menjaga daya saing layanan sekaligus memberikan nilai terbaik bagi pelanggan.
"Langkah tersebut antara lain melalui integrasi dan efisiensi jaringan, disiplin dalam pengelolaan investasi dan prioritas capex, serta kolaborasi yang erat dengan mitra dan vendor untuk memperoleh skema kerja sama yang lebih optimal,” tegasnya.
XLSmart juga mengatakan, struktur pembiayaan perusahaan yang seluruhnya menggunakan denominasi rupiah turut membantu meminimalkan risiko langsung dari fluktuasi nilai tukar.
Sementara itu, Telkomsel juga memiliki pandangan serupa. Menurut VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Abdullah Fahmi, pergerakan kurs memang menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu diperhatikan oleh industri telekomunikasi.
"Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dikelola oleh industri telekomunikasi, mengingat sebagian kebutuhan seperti pengadaan perangkat jaringan maupun teknologi masih memiliki komponen berbasis valuta asing,” kata Fahmi.
Ia menyambung, “namun, secara umum, industri ini relatif lebih resilien karena didukung oleh permintaan layanan digital yang terus tumbuh dan bersifat kebutuhan utama bagi masyarakat."
Telkomsel mengatakan perusahaan telah mengantisipasi kondisi tersebut melalui berbagai strategi pengelolaan bisnis.
"Bagi Telkomsel, fluktuasi nilai tukar menjadi bagian dari dinamika bisnis yang kami antisipasi melalui perencanaan keuangan yang prudent, optimalisasi biaya, serta pengelolaan investasi yang lebih selektif dan terarah. Kami juga terus mendorong efisiensi operasional sekaligus memperkuat kualitas layanan agar tetap relevan dan bernilai bagi pelanggan,” lanjutnya.
Perusahaan juga menilai fundamental bisnisnya masih berada dalam kondisi yang sehat.
Hal tersebut diakuinya tercermin dari kinerja perusahaan yang tetap solid sepanjang 2025, dengan profitabilitas yang terjaga dan menunjukkan tren perbaikan pada paruh kedua tahun.
“Ke depan, kami akan tetap fokus pada penguatan layanan broadband, pengembangan ekosistem digital, serta pemanfaatan teknologi berbasis AI untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah berbagai dinamika eksternal,” tutup Fahmi.