Samsung Ingin AI tak Sekadar Fitur, tapi ‘Pendamping'

Uzone.id- Di panggung CES 2026, Samsung tidak sekadar memamerkan deretan perangkat baru. Tidak ada jargon spesifikasi yang terlalu teknis, tidak pula klaim “paling canggih di kelasnya” yang biasa ditemui di peluncuran produk teknologi.
Yang ditawarkan Samsung kali ini adalah sebuah gagasan, AI yang hidup bersama manusia, bukan sekadar melayani perintahnya.
Visi itu mereka sebut sebagai“Your Companion to AI Living”,yaitu sebuah pendekatan yang menggeser posisi kecerdasan buatan dari alat bantu menjadi pendamping yang adaptif. Bukan AI yang menunggu diklik, ditekan, atau dipanggil, melainkan AI yang memahami kebiasaan, rutinitas, bahkan preferensi pengguna dalam keseharian
Dari Teknologi ke Kebiasaan
Dalam beberapa tahun terakhir, AI sering diposisikan sebagai teknologi futuristik: pintar, cepat, tetapi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Samsung melihat titik baliknya ada di rumah—tempat kebiasaan terbentuk.
Melalui perangkat rumah tangga berbasis Bespoke AI, Samsung menunjukkan bagaimana AI mulai “belajar” dari aktivitas sederhana.
Mesin cuci dan pengering, misalnya, tidak lagi hanya menjalankan program berdasarkan tombol yang dipilih, tetapi mampu menyesuaikan prosesnya secara otomatis berdasarkan jenis pakaian, tingkat kotoran, hingga pola penggunaan sebelumnya.
Pendekatan ini bukan soal efisiensi semata, tetapi soal menghilangkan keputusan-keputusan kecil yang sering kali menguras perhatian manusia.
Hal inilah yang ditekankan oleh Harry Lee, Presiden Samsung Electronics Indonesia,ketika ditemui Uzone.id, di kantornya.Menurut dia, evolusi AI saat ini sudah bergerak melampaui sekadar kecanggihan teknis.
“AI sedang bertransisi dari konsep ilmiah menjadi pendamping adaptif. Tujuan akhirnya bukan lagi sekadar merespons perintah, tetapi mengantisipasi dan mengikuti pikiran pengguna agar pengalaman terasa mulus,” ujar Harry Lee.
Dalam konteks ini, AI tidak diposisikan sebagai “robot pintar”, melainkan sebagai sistem yang bekerja di latar belakang—nyaris tak terasa, namun selalu hadir saat dibutuhkan.
Dalam ekosistem rumah pintar Samsung, AI mulai ditempatkan di titik yang paling dekat dengan kebiasaan sehari-hari. Perangkat seperti mesin cuci dan pengering Bespoke AI menjadi contoh konkret bagaimana AI tidak lagi hanya menjalankan instruksi, tetapi ikut mengambil keputusan.
Bukan sekadar memilih mode, AI membaca pola: jenis pakaian, intensitas pemakaian, hingga kebiasaan pengguna. Tujuannya sederhana—mengurangi hal-hal kecil yang biasanya menyita perhatian.
Perangkat bertenaga AI seperti Bespoke AI tidak lagi hanya menjalankan perintah, tapi mampu mengantisipasi kebutuhan pengguna melalui kebiasaan yang terbentuk setiap hari,” tukas Lee.
Ketika Perangkat Mulai Mengerti Penggunanya
Konsep “pendamping” ini terasa kuat karena Samsung tidak membatasi AI pada satu kategori produk. Televisi, misalnya, kini tidak hanya soal layar besar dan resolusi tinggi.
Dengan dukungan AI, TV Samsung generasi terbaru dirancang untuk memahami konteks: siapa yang menonton, kapan waktu digunakan, hingga suasana ruang keluarga. Dari rekomendasi konten sampai pengaturan audio dan visual, semuanya diarahkan agar perangkat terasa lebih personal, bukan generik.
Samsung juga membawa pendekatan serupa ke ranah kesehatan. Dengan menggabungkan AI dan perangkat wearable, fokusnya bergeser dari sekadar pencatatan data menjadi pemahaman pola.
“Tujuan kami bukan membuat pengguna belajar teknologi, tapi membuat teknologi mengikuti cara berpikir pengguna. AI harus bekerja mulus, tanpa terasa rumit,” tegas Harry Lee.
Alih-alih menunggu pengguna merasa tidak enak badan, AI justru dirancang untuk membaca perubahan kecil yang sering terlewat. Dari sini, teknologi tidak lagi reaktif, tapi preventif, memberi sinyal lebih awal sebelum masalah muncul.
Bagi Harry Lee, inilah esensi AI companion: hadir lebih dulu, bukan datang saat semuanya sudah terlambat.