Ini Sebab Pencabutan Gelar Miss Myanmar Versi Penyelenggara Kontes

pada 9 tahun lalu - by
Advertising
Advertising

Gelar Miss Myanmar 2017 yang dimiliki Shwe Eain Si dicabut. Penyelenggara kontes, Hello Madam Media Group, mengumumkan pada Minggu 1 Oktober 2017 kemarin bahwa Shwe Eain Si telah kehilangan gelar dan mahkotanya karena ia tidak memiliki prilaku selayaknya seorang panutan.

Pada Selasa 2 Oktober 2017, beredar kabar kaitan antara pencabutan gelar Ratu Kecantikan dengan unggahan video yang dilakukan Shwe Eain Si di akun facebook miliknya.

Penyelenggara kontes membantah jika penyebab dicabutnya gelar Miss Myanmar ini karena gadis berusia 19 tahun itu mengunggah dan berkomentar tentang kekerasan yang terjadi di Rohingya. Penyelenggara mengatakan pencabutan gelar ini karena ia sudah melanggar peraturan kontrak. 

"Ya, Shwe Eain Si membuat video tentang teror yang dilakukan oleh ARSA di negara bagian Rakhine, tapi itu hal yang sulit untuk dikualifikasikan sebagai hal yang tidak memenuhi syarat kelayakan menjadi seorang kontestan (Ratu Kecantikan-red)," ungkap sebuah pernyataan yang diunggah di halaman Facebook Hello Madam Group. 

Ditambahkan bahwa adalah hak baginya (Shwe Eain Si-red) sebagai warga negara negara ini (Myanmar-red) untuk menggunakan popularitasnya dalam menyampaikan kebenaran yang terjadi di negaranya. 

Direktur Hello Madam, Soe Yu Wai, kemudian mengatakan kepada BBC, bahwa keputusan (pencabutan gelar Miss Myanmar terhadap Shwe Eain Si-red) tidak fokus pada soal video Rakhine (yang diunggah Shwe Eain Si-red). Menurut dia, Shwe Ean Si sudah dicabut gelarnya sebelum video itu dipublikasikannya.

Unggahan video

Dalam video yang diunggah Shwe Eain Si di akun Facebook miliknya, ia mengatakan dalam bahasa Inggris serangan-serangan ARSA yang terjadi sebulan terakhir ini sudah berlebihan dan disayangkan bahwa mereka dan pendukung internasional mempublikasikannya seolah-olah mereka adalah pihak yang tertindas. 

Video itu menyebutkan bahwa tentara Myanmar yang dituduh melakukan kekejaman dan pembersihan terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya, sebenarnya menargetkan militan. 

Wabah kekerasan Rakhine yang terbaru dimulai pada 25 Agustus ketika gerilyawan Arsa menyerang pos keamanan, memicu tindakan militer. Lebih dari 500.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.***