Teknologi IoT Bantu Petani Sragen Pangkas Biaya Operasional

Uzone.id –Di Sragen, Jawa Tengah, penggunaan IoT untuk pertanian berhasil mengefisienkan biaya operasional para petani dengan menurunkan penggunaan pupuk secara signifikan.
Hal ini disampaikan oleh Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi saat bertemu di Kantor Komdigi, Jumat (14/11).
“Dengan menggunakan IoT kita mampu menurunkan penggunaan pupuk per hektarnya sekitar 40 sampai 50 persen. Jadi langsung dari petani yang mengatakan, biasanya penggunaan pupuk itu satu hektar itu satu ton lima puluh kilo. Nah, itu turun sampai dengan 650 kilogram saja per hektarnya, sekitar 40-an persen,” ungkap Edwin.
Edwin menjelaskan bahwa penggunaan IoT memungkinkan petani memantau unsur hara dan kandungan pH dalam tanah secara akurat. Hasilnya, mereka dapat mengatur jadwal dan takaran pemupukan dengan lebih baik.
“Karena dengan IoT itu mereka bisa melihat langsung unsur hara yang ada dalam tanah, termasuk juga pH tanah. Jadi mereka bisa mengatur jadwal pemupukan secara lebih baik,” jelas Edwin.
Melihat kesuksesan penerapan IoT pada sektor pertanian di Sragen, pemerintah melalui Komdigi menyatakan komitmen untuk melanjutkan program tersebut.
Edwin menyatakan bahwa perluasan program akan terus diupayakan, namun dalam pelaksanaannya masih perlu mempertimbangkan aspek anggaran.
“Tentu kita akan kerja sama dengan kementerian terkait untuk melanjutkannya. Yang penting kita sudah siapkan yang namanya piloting, dan itu bisa kita teruskan. Cuma nanti kita lihat secara anggarannya,” ungkap Edwin.
Selain itu, bukan hanya berkomitmen melanjutkan program IoT di sektor pertanian, Edwin menyampaikan bahwa program digitalisasi berbasis teknologi ini akan merambah ke sektor lain, seperti peternakan.
“Kita mau coba nanti untuk bagaimana meningkatkan hasil di peternakan, jadi jangan cuma satu sektor saja. Ke beberapa sektor yang memang itu adalah grassroot. Fokus kan nanti,” ungkap Edwin.
Wacana perluasan ini didasarkan pada perhitungan sektor-sektor yang menjadi kontributor terbesar bagi PDB nasional, termasuk manufaktur/perindustrian, agrikultur, dan perdagangan.
“Kontributor terbesar GDP kita itu apa sih? Manufaktur, perindustrian, agrikultur, sama perdagangan. Kita harus lihat itu juga, termasuk nanti di sektor-sektor yang lain,” jelas Edwin.