Telkom-PGN Kolaborasi, Data Center RI Makin 'Hijau'

pada 2 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Salah satu hal yang mulai menjadi perhatian serius dalam transformasi digital adalah energi yang efisien dan ramah lingkungan. Hal ini yang coba dijawab oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) lewat kolaborasi barunya dengan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN).

Keduanya resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengintegrasikan infrastruktur digital dengan pasokan energi rendah karbon, langkah yang bisa dibilang cukup strategis di tengah tren global menuju green data center.

Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ada misi besar di baliknya: membangun ekosistemgreen digital infrastructureyang terintegrasi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta digital regional.

Pertumbuhan data center memang lagi kencang-kencangnya. Mulai dari cloud, AI, sampai layanan digital harian, semuanya bergantung pada fasilitas ini. Tapi ada satu konsekuensi yang sering luput: konsumsi energi yang sangat besar.




Dalam kerja sama ini, PGN akan menyediakan pasokan energi rendah emisi, termasukbiomethane, energi yang berasal dari limbah minyak kelapa sawit, khususnya di wilayah Sumatra.

Sementara itu, Telkom berperan sebagai pengembang ekosistem digital dan data center yang membutuhkan suplai energi tersebut.

“Kolaborasi ini mendukung kesiapan energi yang bersih dan efisien untuk pengembangan data center yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kedaulatan digital Indonesia dan mendorong Indonesia sebagai regional digital hub. Hal ini sejalan dengan ambisi TelkomGroup untuk menjadidigital infrastructure powerhousedi regional,” ungkap Direktur Utama Telkom Dian Siswarini dalam keterangannya yang diterimaUzone.id.

Dengan kata lain, ini bukan cuma soal “hijau-hijauan”, tapi juga soal daya saing.




Kalau biasanya data center identik dengan konsumsi listrik dari sumber konvensional, kali ini pendekatannya mulai berubah. Biomethane dipilih sebagai salah satu alternatif energi karena dinilai lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto menegaskan bahwa langkah ini juga bagian dari transformasi bisnis PGN.

“PGN telah melangkah lebih jauh dari sekadar penyedia gas bumi konvensional, tetapi juga sebagai penyedia energi bersih yang menjadi fondasi bagi infrastruktur masa depan. Inisiatif biomethane untuk data center ini membuka peluang nilai tambah baru sekaligus mendukung transisi energi nasional,” jelas Arief.

Pemanfaatan biomethane ini juga membuka peluang baru, terutama dalam mengolah limbah menjadi sumber energi bernilai tinggi.

Telkom sendiri sudah mengidentifikasi beberapa wilayah strategis yang berpotensi untuk pengembangan data center berbasis energi hijau ini.

Setidaknya ada lima lokasi utama, yakni Cikarang, Batam, Serpong, Sentul, dan Surabaya.

Menariknya, wilayah-wilayah ini sudah terhubung dengan jaringan pipa gas PGN. Artinya, integrasi energi bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus membangun infrastruktur dari nol.




Langkah ini juga membuka peluang efisiensi, sekaligus mempercepat implementasi konsep green data center di Indonesia.

Selain kolaborasi domestik dengan PGN, Telkom juga tidak menutup diri dari kerja sama global. Salah satu mitra yang ikut terlibat dalam pengembangan ekosistem ini adalah Sembcorp Development Ltd.

Lewat entitas data center-nya, NeutraDC, Telkom sudah menjalin kerja sama dengan Sembcorp sejak 2025. Fokusnya adalah integrasi antara infrastruktur digital dan energi berkelanjutan, termasuk untuk kebutuhan pelanggan enterprise.

Kolaborasi antara Telkom, PGN, dan mitra global ini pada akhirnya mengarah ke satu tujuan besar: menjadikan Indonesia sebagai pusat ekosistem digital di kawasan.


Senior Director of Business Performance and Assets Optimization Danantara Indonesia Bhimo Aryanto menyebut kerja sama ini sebagai momentum penting.

“Sinergi yang dibangun tidak hanya akan menciptakan efisiensi, tetapi juga membuka peluang penciptaan nilai baru yang berkelanjutan, serta memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem digital regional,” ujar Bhimo.

Dengan kebutuhan AI, cloud, dan digital services yang terus meningkat, keberadaan data center yang efisien dan ramah lingkungan jadi faktor kunci.