Tim Produksi ‘Merah Putih: One For All’ Dituding Curi Aset 3D Junaid Miran

Uzone.id –Kritik soal film animasi ‘Merah Putih: One For All’ masih terus berlanjut di media sosial. Rasanya, setiap hari ada informasi baru yang buat diskusi makin memanas.
Sebelumnya, tim produksi ‘Merah Putih: One For All’ diduga membeli aset dari aplikasi Daz 3D, alih-alih memproduksinya sendiri.
Terbaru, muncul tuduhan bahwa tim produksi menggunakan aset 3D untuk karakter dalam ‘Merah Putih: One For All’ milik kreator bernama Junaid Miran tanpa membayar ataupun memberi kredit kepada pemiliknya.
Padahal, ia menjual aset 3D tersebut di platfom Reallusion dengan harga sekitar USD149 atau sekitar Rp2,4 juta.
Spekulasi ini bermula ketika banyak netizen meninggalkan komentar di video YouTube “Character Profile: Jayden – ‘Stylized Toon Boys’ Pack” pada akun Junaid Miran.
Mereka mempertanyakan biaya yang dibayarkan tim produksi ‘Merah Putih: One For All’ untuk menggunakan karakter Jayden dalam produksi mereka.Hal tersebut karena karakter utama dalam ‘Merah Putih: One For All’ memiliki kemiripan dengan karakter Jayden milik Junaid Miran.
Lewat kolom komentar YouTubenya, Junaid Miran kemudian menanggapi bahwa tidak ada pihak dari tim produksi 'Merah Putih: One For All' yang menghubungi maupun membayar atas penggunaan karyanya tersebut.
“Terima kasih atas apresiasinya, semuanya dari Indonesia! Untuk menjawab pertanyaan paling umum: Tidak, tidak ada satupun dari tim produksi yang menghubungi saya atau memberi saya penghargaan atas penggunaan karakter saya sebagai karakter utama dalam film ini. Mereka telah menggunakan total 6 karakter,” ungkap Junaid.
Merespon jawaban tersebut, banyak netizen yang kemudian menyuarakan dukungannya untuk Junaid Miran. Bahkan, tak sedikit yang menyarankan agar kreator asal Pakistan tersebut menuntut tim produksi.
Di sisi lain, dalam wawancara dengan Detik.com, Endiarto selaku eksekutif produser sekaligus sutradara 'Merah Putih: One For All' menanggapi komentar soal kemiripan karakter dalam filmnya dengan aset dari Reallusion.
Ia menjelaskan memang ada kemiripan, dan itu sah saja. Selain itu, menurut Endiarto, bahwa ada kebebasan style dan interpretasi dalam dunia animasi sehingga kerap terjadi kemiripan.
"Kalau ada kemiripan itu sah saja. Cuma pada awalnya bidang IT, animator kami membikin bukan bermaksud begitu. Tapi, dia mengeluarkan segala effortnya," kata Endiarto dikutip dariDetik.com.
Selain itu, menanggapi kritik soal filmnya—yang bahkan belum tayang—Endiarto mengungkapkan,
“Saya sih nyantai aja karena hak setiap orang untuk memberikan respons. Cuma kalau mau fair sesungguhnya kan nggak bisa memberikan review dengan melihat trailer yang cuma dua menit 1 detik trailer kami, sedangkan filmnya 70 menit. Mestinya kalau fair menyaksikan dulu film ini secara utuh baru bisa memberikan komennya, semestinya begitu,” ungkap Endiarto dalam wawancaranya bersamaNarasi.