TKDN Mobil Nasional Pindad Ditargetkan Lampaui Mobil Listrik

Uzone.id- Proyek mobil nasional yang sedang disiapkan oleh PT Pindad kini tengah jadi sorotan. Salah satu fokus utama pemerintah adalah memastikan kendaraan ini nantinya memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan harapannya agar mobil nasional rancangan Pindad ini unggul dari sisi kandungan lokal dibandingkan dengan mobil-mobil yang sudah ada saat ini.
"Kalau saya mengunjungi pabrik-pabrik, pabrik-pabrik apa pun itu, pasti yang saya tanya TKDN-nya berapa persen. Mobil listrik kita rata-ratanya TKDN-nya 30 sampai 70 persen. Walaupun memang nanti kita harapkan mobnas yang sekarang sedang didesain oleh Pindad itu akan memiliki nilai TKDN yang lebih tinggi," kata Agus dalam Raker dengan Komisi VII DPR RI, dikutip olehUzone.id.
Ambisi ini sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto yang ingin Indonesia mandiri dalam sektor otomotif.
Bahkan Presiden berharap Indonesia bukan hanya hanya menjadi pasar, tetapi juga bisa memproduksi mobil, termasuk juga motor, bus, hingga truk sendiri.
"Kita harus industrialisasi, kita harus bikin mobil sendiri, kita harus bikin motor sendiri, kita harus bikin televisi komputer handphone kita sendiri. Kita tidak boleh hanya dari pasar untuk pasar lain," ujar Prabowo dalam beberapa kesempatan.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah meninjau langsung perkembangan proyek mobil nasional di Subang pada yang dikutip dari keterangan resminya, Rabu (10/6).
Kunjungan ini bertujuan melihat progres pembangunan fasilitas manufaktur sekaligus memastikan kesiapan kawasan tersebut sebagai instalasi strategis nasional untuk memperkuat industri dan perekonomian tanah air.
Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa, memaparkan rencana pengembangan kawasan industri otomotif terintegrasi tersebut.
Pada tahap awal, fasilitas ini akan dibangun di atas lahan seluas 60 hektare dengan target kapasitas produksi mencapai 50 ribu unit kendaraan per tahun.
Ke depannya, kawasan ini ditargetkan berkembang menjadi ekosistem manufaktur terintegrasi seluas 539 hektare, dengan kapasitas produksi yang melonjak hingga 300.000 unit per tahun.
Menhan juga sempat meninjau langsung lokasi yang akan menjadi pusat rekayasa kendaraan, fasilitas pengujian, serta fasilitas produksi utama.
Proyek ini diproyeksikan bisa menjadi motor penggerak ekonomi di wilayah Subang, dengan menarik banyak investasi, memicu pertumbuhan industri pendukung, serta menyerap tenaga kerja hingga sekitar 2.000 orang.