Tren Serangan Siber Diprediksi Bakal Makin Panas, Gara-gara Perang?
.jpg)
Uzone.id— Di tengah kondisibeberapa negara yang sedang memanas, ancaman di dunia digital masih terusberlangsung, bahkan semakin sengit karena gejolak geopolitik gak cuma terjadidi dunia nyata saja tapi juga di ruang digital.
Efeknya juga gak tanggung-tanggung, layanan-layanan danplatform yang cukup penting bisa saja ikut lumpuh karena serangan dan peretasanyang dilakukan kelompok nasionalis masing-masing negara.
Perang AS-Iran misalnya, selain unjuk kekuatan rudal dansenjata militer, kedua negara ini juga unjuk kebolehan soal serangan siber yangmenargetkan sistem-sistem fatal.
Iran bahkan sempat membobol file penting FBI, begitupun ASyang sukses memanfaatkan teknologi sibernya untuk melacak dan menargetkaninfrastruktur militer Iran.
Adrian Hia Managing Director APAC Kaspersky melihat bahwasituasi geopolitik yang terus bergejolak ini akan membuat setiap negara baikitu yang berkonflik maupun tidak akan menjadi lebih waspada dan melindungi diridi ruang digital.
“Salah satu hal yang pasti adalah bahwa setiap negara akanmenjadi lebih-lebih melindungi diri,” katanya saat bertemu dengan awak media,Rabu, (08/04).
Ia pun memprediksi ada beberapa hal yang kemungkinan terjadidi dunia siber saat situasi politik di belahan dunia semakin memanas. Yangpertama, prediksi bahwa peraturan soal data-data akan semakin diperketat danakan banyak dipindahkan dari cloud ke infrastruktur lokal.
“Semakin banyak peraturan cyber security yang meminta kalianuntuk menyimpan data. Saya memprediksi bahwa banyak perusahaan yang akanmemindahkan data mereka,” katanya.
Jika sebelumnya banyak data disimpan di cloud, maka untukinfrastruktur kritikal seperti telekomunikasi, listrik, air, bandara, hinggaperbankan, data tersebut akan mulai dikembalikan ke operator atau dikelolasecara lebih lokal alih-alih mengandalkan cloud.
Prediksi kedua adalah jumlah serangan siber yang akansemakin meningkat. Adrian memperkirakan bahwa tahun ini akan menjadi tahundengan serangan siber tertinggi sepanjang sejarah.
“Prediksi kedua yang saya lihat adalah, jumlah serangancyber security akan menjadi, tahun ini, akan menjadi tahun tertinggi dalamsejarah. Tetapi tahun ini juga akan menjadi tahun tertinggi jumlah serangansiber,” tambahnya.
Tapi, peningkatan ini tidak sepenuhnya disebabkan olehkondisi geopolitik, Adrian menyebut bahwa peningkatan tersebut juga disebabkanoleh perkembangan AI yang semakin meluas bahkan di sektor serangan siber.
“Bukan hanya karena situasi geopolitik, tetapi juga karenapenggunaan AI yang mudah. Karena AI mudah digunakan oleh semua orang sekarang,setiap pelajar, setiap guru, semua orang bisa menggunakan AI sekarang. Iniartinya, penjahat siber juga bisa menggunakan AI dengan mudah,”tambahnya.
Ia memberi perumpamaan, ketika seorang penjahat sibermenciptakan satu virus, maka dengan bantuan prompt AI, penjahat siber bisameminta teknologi tersebut untuk menggandakan virus tersebut menjadi ribuanbahkan puluhan ribu.
Maka dari itu, Andrian meminta semua pihak untukmempersiapkan sistem keamanan yang mumpuni untuk menghadapikemungkinan-kemungkinan tersebut.
“Saya meminta semuanya untuk meningkatkan kepentingan soalkeamanan siber. Misalnya, jika Anda adalah sebuah perusahaan bank, pesawathingga telekomunikasi dan sedang meningkatkan skala bisnis hingga 20 persen,maka Anda perlu meningkatkan kepentingan soal keamanan siber sebesar 20 persenjuga,” tambahnya.
Sejalan dengan ini, Defi Nofitra selaku Country ManagerKaspersky Indonesia menambahkan bahwa saat ini semua pihak termasuk perusahaanharus memiliki resiliensi atau sikap bertahan.
“Ketika sebuah perusahaan menaruh 100 persen datanya dicloud, saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sistem bisa terganggu atauterdisrupsi,” katanya.
Maka dari itu, sekarang perusahaan mulai berpikir ulang.Mereka mulai memilah, mana data yang tetap disimpan di cloud dan mana yangperlu dikembalikan atau dikelola secara lebih lokal.