Wacana Satu Akun Medsos, Komdigi: demi Ruang Digital yang Sehat

pada 8 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id –Wamenkomdigi, Nezar Patria, sedang mengkaji usulan agar satu orang hanya punya satu akun media sosial. Gagasan ini dianggap sejalan dengan program Satu Data yang sedang disiapkan pemerintah.

Usulan ini disebut dapat membantu pemerintah mengawasi ruang digital dan mencegah penipuan, misinformasi, serta hoaks. Hal serupa juga diungkapkan oleh Ismail selaku Sekretaris Jenderal Komdigi.

“Saya disclaimer dulu ya bukan apa-apa, saya memang nggak banyak ikut rapatnya tentang masalah ini. Jadi saya melihat filosofinya aja gitu, bahwa ini kan ikhtiar kita, upaya kita, untuk membuat ruang digital kita itu sehat dan aman,” ungkap Ismail, Jumat (19/9).





Ismail menjelaskan bahwa di internet orang bisa jadi anonim atau tidak dikenal. Alhasil, banyak yang merasa bebas untuk berbuat seenaknya. Ada yang menipu, menyebarkan berita bohong, atau melakukan hal-hal ilegal lainnya.

Oleh karena itu, dengan adanya kebijakan ini diharapkan agar setiap orang dapat bertanggung jawab atas tindakannya di dunia maya.

“Ikhtiar ini ingin dilakukan supaya ketika orang masuk di ruang digital dia tetap menjadi dirinya, tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan di ruang digital. Jadi di ruang konvensional, ruang biasa, maupun di ruang digital, itu sama saja,” jelas Ismail.





Saat ini, Kominfo sedang mempertimbangkan berbagai cara untuk mewujudkan kebijakan tersebut. Menurut Ismail, salah satu cara yang mungkin dilakukan adalah dengan menggunakan digital ID yang terintegrasi dengan pengenalan wajah atau sidik jari.

“Ini kan tools-tools yang bisa digunakan untuk membuat ketika orang masuk di ruang digital itu bertanggung jawab,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa program Satu Data ini masih dalam tahap pembahasan dan diskusi. “Pembahasannya masih berjalan. Jadi ini masih wacana yang sedang didiskusikan, mudah-mudahan bermanfaat buat kita semua,” ungkap Ismail.

Ia juga menegaskan bahwa ruang ini diciptakan bukan untuk membatasi kebebasan masyarakat untuk mengekspresikan diri, tetapi untuk menciptakan ruang digital yang sehat, produktif, dan aman.

“Saya mohon teman-teman wartawan juga membantu untuk tidak melihat ruang ini sebagai untuk membatasi kebebasan masyarakat untuk berekspresi. Bukan itu, tapi bagaimana membuat ruang ini menjadi sehat, produktif, dan aman yang kita dambakan bersama,” tutup Ismail.