WFH Sehari Seminggu Cukup untuk Kurangi Subsidi BBM di Indonesia?

pada 2 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id-Kebijakan Pemerintah menerapkan Work From Home (WFH) untuk menekan subsidi BBM ditengah krisis BBM yang melanda dunia memunculkan pro dan kontra. Ada yang bilang efektif ada juga yang meragukan.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, transportasi merupakan sektor paling banyak mengkonsumsi bahar bakar minyak (BBM) secara nasional, bahkan menyentuh angka 52 persen dari konsumsi nasional.



"Yang terbesar penggunaan BBM adalah untuk transportasi sebanyak 276,6 juta barel atau 52 persen dari konsumsi nasional," kata Yuliot beberapa waktu lalu, dikutip Uzone.id

Yuliot merangkan, untuk neraca minyak Indonesia pada 2024 produksi minyak nasional totalnya sebesar 212 juta barel, sementara konsumsi BBM di dalam negeri mencapai 532 juta barel. 

"Untuk kekurangannya kita harus mengimpor minyak sebanyak 313 juta barel," ucapnya. 

Adapun konsumsi minyak Indonesia sendiri adalah sebesar 1,6 juta barel per hari. Sedangkan produksi hingga akhir 2024 saja sekitar 580 ribu barel per hari.

"Jadi sehingga kita masih perlu mengimpor kekurangan minyak bumi sekitar 1 juta barel oil per day," ucapnya. 

Peran kebijakan WFH menekan budget subsidi dan impor BBM

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, secara hitungan kasar, WFH satu hari dalam sepekan mampu menghemat konsumsi BBM nasional hingga 20 persen dari total konsumsi harian. 

"Ada hitungan kasar sekali… (WFH bisa menghemat) seperlima, kira-kira 20 persen penggunaan BBM," kata Purbaya. 

Penghematan ini diperoleh dari berkurangnya perjalanan komuter jutaan pekerja di kota-kota besar setiap harinya — termasuk di kawasan Jabodetabek, Bandung Raya, dan kota metropolitan lainnya. 

Selain hemat BBM secara nasional, kebijakan WFH juga berdampak langsung pada penghematan pengeluaran pribadi ASN setiap bulannya. 

Dengan tidak perlu commuting ke kantor satu hari dalam sepekan, ASN bisa menghemat biaya transportasi, biaya makan siang di luar, hingga biaya parkir yang selama ini rutin dikeluarkan. 

Jika dijumlahkan dalam setahun, penghematan ini bisa cukup signifikan bagi pegawai dengan gaji menengah, terutama yang setiap hari menempuh jarak pulang-pergi lebih dari 20 kilometer. 

Dua manfaat sekaligus inilah — hemat BBM nasional dan hemat anggaran ASN pribadi — yang menjadikan kebijakan WFH ini dipandang sebagai kebijakan efisiensi energi yang berdampak ganda.



Sejumlah pengamat meragukan efektifitas WFH

Namun rencana WFH satu hari seminggu dinilai belum tentu signifikan menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal mengatakan WFH memang bisa menjadi strategi yang cukup efektif untuk menghemat BBM, terutama di wilayah perkotaan.

MelansirCNN, kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya memiliki mobilitas tinggi dengan waktu tempuh panjang serta kemacetan yang membuat konsumsi BBM lebih boros.

Namun, ia menilai klaim penghematan hingga 20 persen seperti yang disampaikan pemerintah terlalu tinggi.

Faisal menjelaskan, dampak WFH terbatas karena tidak semua pekerja terdampak kebijakan tersebut. Ia menyebut hanya sekitar 40 persen tenaga kerja Indonesia berada di sektor formal, dan tidak semuanya bisa menerapkan WFH.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan konsumsi BBM lebih banyak didorong oleh sektor logistik, distribusi barang, dan mobilitas non-kerja.

"Jadi menurut saya efeknya lebih bersifat marginal, belum menyentuh perubahan struktural," ungkap Yusuf Rendy, dikutip dariBBC.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menuturkan meroketnya harga minyak dunia sudah pasti berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia.

Akan tetapi, masalahnya, tidak mudah mengarahkan seluruh ASN dan pekerja swasta untuk bekerja dari rumah satu hari dalam sepekan secara konsisten karena hal itu menyangkut perubahan perilaku kerja.

Belum lagi, sambungnya, kemungkinan para ASN dan pekerja swasta itu bukannya bekerja dari rumah, namun menerapkan work from everywhere di tempat wisata.

"Karena sekalian menikmati long weekend. Sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan," pungkasnya.