
Rasa kaget penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU) belum hilang pasca-Infinity War. Keputusan sutradara Russo Bersaudara melenyapkan separuh lebih superhero yang terlibat di pertarungan itu masih bikin sesak napas. Melihat bibir bergetar Scarlett Witch (Elizabeth Olsen) saat mendengar permintaan kekasihnya, tangis depresi Okoye (Danai Gurira) mencari-cari rajanya, hingga rengekan Spider-Man saat memeluk Iron Man di ujung film adalah adegan-adegan kuat yang masih lengket di kening.
Namun, dari puluhan superhero yang terlibat—dan separuhnya yang mati—ketiadaan Ant-Man dan Hawkeye jelas tak lepas dari pantauan penggemar. Kita semua ingin tahu kenapa Russo Bersaudara tak merekrut dua superhero itu untuk ikut perang bersama Iron Man dkk melawan Si Nihilis-Bermasalah Thanos. Tentu saja pertanyaan itu sudah dilempar pada mereka dalam sejumlah interview, tapi demi menjaga umur panjang semesta MCU, jawabannya pasti dirahasiakan.
Teori-teori konspirasi kemudian berkembang, dan masih belum habis didiskusikan di sudut-sudut forum internet.
Salah satu teori percaya bahwa kita tak perlu menunggu setahun—sampai film kedua Avengers: Infinity War keluar—untuk tahu jawabannya. Ada Ant-Man and The Wasp yang keluar Juli ini, dan diharapkan membawa sebagian jawaban bagi rasa penasaran para penggemar.
Musuh kedua adalah Ava Starr alias Ghost (Hannah John-Kamen). Waktu kecil, ia pernah terkena ledakan dari dalam mesin Quantum Realm, yang menyebabkan sel dalam tubuhnya membelah dan menyatukan diri dalam kecepatan yang tinggi. Akibatnya, Ava bisa menembus semua benda bermateri solid, macam tembok atau bogam mentah Ant-Man. Keadaan itu tak sehebat kedengarannya, sebab Ava selalu merasa kesakitan setiap waktu. Dan umurnya diprediksi tinggal beberapa hari lagi.
Yup! Konflik dalam film ini memang terdengar receh dan terasa seperti dibuat-buat. Kematian Ava yang menjelang, hukuman Lang yang tinggal tiga hari lagi, ketamakan Burch yang juga tiba-tiba, semua datang bersamaan ketika Hope sedang berusaha menyelamatkan ibunya.
Maksud saya, ini memang tipikal film yang babak per babak dibangun dengan konflik yang cuma hadir supaya film tak kelihatan lempang belaka. Sehingga, pada akhirnya, solusi atas konflik-konflik itu juga akan terasa konyol. Ava sembuh dari konfliknya juga lewat solusi yang sekonyong-konyong, tanpa penjelasan apa-apa.
Sampai film tamat, tak ada yang menjelaskan adegan itu. Sehingga naskah film yang malas ini akan semakin terasa kemalasannya.
Karakter Sonny Burch dan Ava jadi kelihatan kecil dan… konyol, bila dibandingkan musuh-musuh utama dalam film MCU lainnya. Padahal Thanos dan Killmonger, dua karakter jahat dalam dua film MCU terakhir banjir pujian karena penggalian karakternya yang dalam.
Upaya Reed dan koleganya dari MCU untuk menjadikan The Wasp sebagai lambang pendobrak seksisme Marvel jadi terkesan tanggung-tanggung. Bahkan ironis. Nama The Wasp tetap dibikin setelah nama Ant-Man, padahal film ini tentang The Wasp yang sedang menyelamatkan ibunya.
Beruntung, naskahnya unggul dalam penyajian humor. Beberapa aktornya juga tampil mencuri pertunjukan, macam Michael Peña, Randall Park, dan Abby Ryder Fortson. Meski cuma pemeran pembantu, ketiga tokoh itu berhasil menghidupkan keadaan. Kredit lebih juga perlu disematkan pada Fortson yang berhasil bikin Cassie Lang jadi tokoh menonjol. Gairah menggebu-gebu Cassie jadi superhero pendamping ayahnya, juga jadi benang merah yang bikin motivasi Hope semakin kelihatan kuat dalam film ini.
Belum lagi kehadiran Michelle Pfeiffer, si megabintang yang akhirnya bergabung dalam semesta MCU. Jelas, aura bintangnya tak bisa ditampik. Ia jadi salah satu faktor yang meningkatkan level film ini.
Sebagai film tunggal, Ant-Man and The Wasp akhirnya memang bikin kita tertawa, dan pasti terhibur. Sayang, sebagai sekuel MCU, ia tak masuk dalam daftar film-film yang kuat. Tak mesti ditonton, tapi juga bukan tontonan yang merugikan.
Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam