Aplikasi AI Siswa Tunanetra, Inovasi Mahasiswa UNIKOM Juara SFT 2026
NovaSight, aplikasi pembelajaran matematika berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi murid tunanetra buatan berhasil jadi juara SFT 2026.
.jpg&w=3840&q=75)
Uzone.id – Empat mahasiswa Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) dinobatkan sebagai juara dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 berkat aplikasi pembelajaran matematika berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi murid tunanetra. Inovasi ini diberi nama NovaSight.
Tim I-SEUNG sebagai juara dari UNIKOM beranggotakan Ratuayu Nurfajar, Regia Qolbu Rivita Atmowidjaja, Mohammad Zaki Zakiran, dan Damar Fikri Haikal. Mereka mengembangkan NovaSight sebagai solusi atas keterbatasan akses pembelajaran matematika bagi siswa tunanetra, khususnya ketika berhadapan dengan materi yang membutuhkan pemahaman visual.
Selama ini, grafik, diagram, hingga bentuk visual lainnya menjadi salah satu tantangan dalam pembelajaran matematika bagi siswa tunanetra. Mereka membutuhkan penjelasan tambahan dari guru agar bisa memahami informasi yang disajikan dalam bentuk visual tersebut.
Berangkat dari persoalan itu, tim I-SEUNG mencoba memanfaatkan teknologi AI untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih inklusif.
“Ide inovasi ini berawal dari kepedulian kami terhadap siswa tunanetra yang kesulitan memahami grafik dan diagram matematika. Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami belajar untuk mengembangkan ide tersebut menjadi solusi yang lebih matang, sekaligus memahami pentingnya kolaborasi dan pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ungkap Regia sebagai salah satu anggota I-SEUNG saat dijumpai Uzone.
Ia menyambung, “kemenangan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menyempurnakan NovaSight agar dapat memberikan manfaat nyata bagi lebih banyak siswa.”
5 Fitur NovaSight
Untuk mendukung kebutuhan pembelajaran, NovaSight dilengkapi lima fitur utama yang memiliki fungsi berbeda. Setiap fitur dirancang agar siswa tunanetra bisa mengakses materi, mengerjakan soal, hingga mengetahui kesalahan dalam proses belajar.
Fitur pertama adalah Annoter yang berfungsi mengubah modul matematika menjadi teks naratif. Dengan begitu, materi yang sebelumnya disajikan dalam bentuk visual bisa dibacakan melalui teknologi pembaca layar.
Selanjutnya, ada Scriber yang membantu siswa mencatat langkah-langkah penyelesaian soal menggunakan keyboard yang kompatibel dengan pembaca layar. Fitur ini memungkinkan siswa tetap bisa menuliskan proses pengerjaan soal secara lebih mudah.
NovaSight juga memiliki Clarifier, fitur yang dapat menjawab pertanyaan berdasarkan modul pembelajaran dan sumber terpercaya. Sementara itu, Quizzer untuk membantu guru menyusun soal sekaligus kunci jawaban.
Kemudian fitur Evaluaizer yang berfungsi menganalisis langkah pengerjaan siswa untuk menemukan letak kesalahannya.
NovaSight Bakal Dikembangkan untuk Siswa SD dan SMP
Meski berhasil meraih prestasi melalui Samsung Solve for Tomorrow 2026, tim I-SEUNG masih memiliki sejumlah rencana untuk mengembangkan NovaSight. Mereka ingin memastikan aplikasi ini semakin nyaman digunakan, baik oleh siswa maupun guru, sebelum diterapkan secara lebih luas.
Salah satu target berikutnya adalah memperluas implementasi NovaSight ke jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
“Untuk pengembangan NovaSight tentunya kita akan memperbaiki dan menyempurnakan dulu karena agar siswa dan gurunya dapat nyaman menggunakan aplikasi NovaSight dan juga untuk ke depannya akan kita implementasikan ke SD dan SMP juga,” tutur Regia.
Samsung Solve for Tomorrow Jadi Wadah Pengembangan Inovasi
Bagi tim I-SEUNG, Samsung Solve for Tomorrow 2026 bukan sekadar kompetisi, tapi kesempatan untuk mengembangkan ide, mendapatkan pembelajaran baru, serta memahami cara menghadirkan inovasi yang memiliki dampak sosial.
Ratuayu mengungkapkan, salah satu hal yang paling membantu selama mengikuti program ini adalah fasilitas pengembangan inovasi melalui berbagai kegiatan, termasuk bootcamp.
“Saya pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada Samsung Solve for Tomorrow 2026 ini karena dengan adanya program ini kami difasilitasi untuk bisa mengembangkan karya inovasi yang tentunya memang orientasinya ke social impact,” kata Regia lagi.
Ia menyambung, “SFT juga mendukung proses pengembangan juga melalui bootcamp bagaimana cara menyusun inovasi kemudian bagaimana cara ngedeliver ketika kita pitching ke audience.”
Melalui NovaSight, tim I-SEUNG berharap teknologi AI bisa membuka lebih banyak kesempatan bagi siswa tunanetra untuk mendapatkan akses pembelajaran yang setara.
Mereka juga ingin inovasi ini nantinya tidak hanya berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi bisa digunakan dan memberikan manfaat di lingkungan pendidikan.

