
Medium berita boleh berubah. Koran dan majalah cetak disebut memasuki masa senjakala. Namun orang masih tetap butuh informasi, tetap mengonsumsi berita dalam medium berbeda. Aneka berita ini tidak sekadar menambah wawasan atau membentuk pola pikir, tetapi bisa juga memengaruhi tindakan keseharian.
Aulia Zita, seorang mahasiswi di Depok, sempat membaca unggahan media sosial salah satu selebgram tentang penculikan anak. Dalam unggahan tersebut, dilampirkan pula tautan berita yang mencantumkan informasi viral terkait modus penculikan anak yang terang-terangan di hadapan orangtuanya.
Cerita penculikan anak yang beredar di grup-grup aplikasi pesan serta imbauan untuk menjaga diri memengaruhi tindakan Zita ketika bertemu orang asing di KRL. Dalam perjalanan ke rumah kerabatnya di BSD, Tangerang Selatan, seorang laki-laki tak dikenal sekitar usia 30-an mengajaknya berbincang tentang hal-hal personal seperti tempat tinggal dan tempat kuliah serta jurusan yang diambil Zita. Jawaban-jawaban yang tidak sesuai fakta sengaja Zita berikan kepadanya. Kontak mata dengan si orang asing pun dibuatnya seminimal mungkin, ditambah gestur tak berminat bercakap-cakap seperti sibuk memperhatikan ponsel.
Awalnya, Zita tak begitu terpengaruh berita yang ia baca. Berita itu juga tak berpengaruh dalam tindakan sehari-hari. Untuk berita pelecehan seksual, misalkan. Zita tetap santai ketika naik kereta, baik itu di siang hari maupun malam hari. Entah itu sedang kosong atau padat.
"Tapi begitu membaca berita soal penculikan, saya merasa terdampak dari hal itu, khususnya pada interaksi saya dengan orang lain,” jabar Zita.
Apa yang dialami oleh Zita, bisa ditemukan pada banyak orang. Berita dari media massa ternyata bisa memicu stres bagi pembaca maupun penonton. Sebuah berita negatif bisa memicu ketakutan, kecemasan, bahkan prasangka buruk. Temuan itu dijabarkan dalam survei yang dilakukan oleh American Psychological Association pada 2017.
Dalam situs mereka disampaikan, survei dilakukan terhadap 3.440 warga AS berusia di atas 18. Beberapa hasil temuannya, sebanyak 95% responden membaca berita secara rutin. Dari persentase tersebut, 56 persennya menyatakan aktivitas tersebut memicu stres dalam diri mereka dan 72% responden merasa pemberitaan di media dikemas secara berlebihan.
Dari penelitian lain di Kanada, ditemukan kecenderungan orang-orang untuk lebih memilih membaca berita negatif atau berita buruk dibanding berita netral atau positif. Dilansir BBC, kecenderungan ini lebih terlihat pada mereka yang tertarik pada isu terbaru atau politik.
Terkait berita buruk seperti tentang bencana atau aksi terorisme, pakar psikologi juga menemukan efek lebih jauh dari hal ini. Dr. Pam Ramsden dari University of Bradford, Inggris, menyatakan sebagian orang yang mengonsumsi berita tragedi mengalami post-traumatic stress dan mesti menjalani perawatan khusus.

Soal efek berita negatif terhadap psikologi dan pilihan tindakan seseorang, Titut mengambil contoh dari pengalamannya semasa studi di Australia.
“Saya suka bushwalking --istilah bahasa Australia untuk menyebut jalan-jalan di daerah yang masih liar, banyak semak-semak-- sendirian dan tidak pernah terjadi hal-hal mengerikan apa pun. Lalu, suatu hari ada berita tentang pembunuh yang suka mengincar korban yang sedang bushwalking," kata Titut.
Sejak membaca berita itu, Titut lebih berhati-hati, tapi ia tak cemas. Seorang kawannya yang menggemari kegiatan yang sama, pernah mendapat serangan fisik di kampus. Walaupun bukan dilakukan saat bushwalking, hal itu meninggalkan trauma sehingga ia menghentikan kegiatannya. Pasalnya, pelaku penyerangan di kampus dan pembunuh pengincar bushwalker sama-sama berasal dari Libanon.
"Irisan ini yang memengaruhi pilihannya untuk tidak bushwalking lagi sama sekali," ujar Titut.
Ragam efek berita terhadap setiap individu membuat Titut meyakini bahwa media tidak melulu menciptakan efek. Ia lebih percaya pada teori yang menyatakan bahwa media hanya memperkuat efek yang sudah ada. Seperti pengalaman temannya, bila seseorang sudah punya pengalaman buruk terhadap sekelompok masyarakat tertentu, berita negatif yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu hanya akan menebalkan trauma atau rasa takutnya.
“Apa yang dimuat di media itu akan berefek kuat jika orang sudah memiliki nilai atau kepercayaan tertentu dari sumber lain,” tutup Titut.
Baca juga artikel terkait MEDIA atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita