
WHO sebagai Badan Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan, setidaknya seperempat dari seluruh kematian anak usia di bawah 5 tahun disebabkan oleh polusi udara yang buruk. Bahaya polusi udara yang buruk tersebut antara lain memengaruhi kualitas kebersihan air dan udara, di mana keduanya merupakan unsur penting kebutuhan pokok hidup manusia.
Polusi udara ini dihasilkan oleh dampak pemakaian kendaraan, limbah udara industri, atau gas sisa pembakaran zat yang digunakan demi kepentingan manusia.
Bahaya polusi udara terhadap kesehatan manusia nyatanya sangat kompleks. Masalahnya, dari sumber polusi yang terhirup, dampak dan gangguan kesehatannya akan berbeda pula satu sama lain. Bahayanya antara lain, dapat memengaruhi sistem pernapasan (paru-paru), dan sistem peredaran darah tubuh, seperti diare, malaria, dan radang paru atau pneumonia.
Margaret Chan, sebagai Dirjen WHO menyatakan, polusi udara merupakan salah satu bahaya mematikan bagi manusia, khususnya anak-anak. Anak-anak, pada dasarnya belum punya sistem kekebalan tubuh yang kuat. Selain itu, saluran napas yang pendek, memudahkan mereka untuk menerima dampak dari bahaya polusi udara itu sendiri.
Sebetulnya, janin yang sedang dikandung saja sudah bisa terkena paparan polusi udara yang dihirup. Paparan udara yang buruk ini, akan berlanjut hingga usia anak-anak. Tidak jarang, sakit pernapasan seseorang sudah terdeteksi sedari bayi, contohnya seperti radang paru-paru dan asma. Paparan polusi yang akut, dapat menyebabkan respon paru terhadap udara bersih jadi berkurang, dan akhirnya menghambat jalannya udara yang masuk.
Selain itu, senyawa karbon monoksida yang dihasilkan polusi udara, mampu memengaruhi kadar oksigen dalam darah, di mana oksigen penting untuk melancarkan peredaran darah menuju jantung hingga sistem saraf seluruh tubuh. Akibatnya, manusia masa kini rentan terhadap kerusakan sumsum tulang, rusaknya fungsi, ginjal dan juga saraf. Intensitas dan lamanya waktu terkena paparan polusi udara, juga berpengaruh terhadap tingkat bahaya kesehatan yang diterima.
Mungkin selama ini, Anda mengira kalau polusi udara hanya ada di jalan raya atau di ruang terbuka pada luar rumah Anda. Nyatanya, bahaya polusi udara dari dalam rumah bisa 5 kali lebih tinggi untuk dihasilkan. Beberapa contohnya adalah asap pemakaian kayu bakar ketika masak, kotoran kasur yang terhirup ketika tidur, penggunaan produk rumah tangga (semprotan berbahan gas, lem, cat warna) yang terbuat dari bahan kimia, asap rokok, dan ketika Anda suka memanaskan kendaraan di dalam rumah.
Bahaya polusi dari rumah tangga seperti di atas, rentan diterima oleh anak-anak karena mereka adalah kelompok yang banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Terlebih lagi, jika emisi karbon yang dihasilkan tinggi dan ventilasi rumah yang buruk, hal tersebut sangat memengaruhi kualitas udara dalam ruangan.
Mungkin akan sulit untuk menutup pabrik, atau tidak menggunakan kendaraan umum sehari-hari. Dengan begitu, bukan berarti Anda menjadi sama sekali tidak bisa mengurangi polusi udara. Berikut ini, merupakan langkah kecil untuk dicoba, yang akan membawa perubahan besar untuk kesehatan dalam mengurangi polusi udara yang dihasilkan:
The post Bahaya Kesehatan Akibat Polusi Udara di Luar dan di Dalam Ruangan appeared first on Hello Sehat.