Bahlil Ngegas Bioetanol 50 Persen Biar Enggak Impor BBM Lagi
Presiden Prabowo menugaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menyiapkan pengembangan Bioetanol 50% (E50) guna menghentikan impor BBM.

Highlight Artikel
- Presiden Prabowo menugaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menyiapkan skenario pengembangan Bioetanol 50% (E50) guna menghentikan impor BBM.
- Program E50 terinspirasi dari keberhasilan penerapan biodiesel 50% (B50) secara nasional sejak 1 Juli 2026, yang diklaim sebagai campuran biodiesel terbesar di dunia.
- Implementasi E50 akan dilakukan secara bertahap mulai E10 pada 2027, E20 pada 2028, dan seterusnya, dengan penyesuaian kapasitas industri bioetanol dalam negeri.
- Saat ini, Pertamina sudah secara sukarela menjual produk Pertamax Green 95 dengan campuran bioetanol 5% (E5), yang direncanakan akan dimandatorikan pada 2026.
Uzone.id - Presiden Prabowo Subianto secara khusus memberi mandat kepada Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk menyiapkan skenario pengembangan Bioetanol 50 persen (E50). Langkah ini diambil agar Indonesia tak lagi impor BBM.
Tingginya rasa percaya diri pemerintah terhadap E50 sejatinya tidak lepas dari kesuksesan penerapan biodiesel 50 persen (B50) untuk bahan bakar solar, yang sudah resmi berlaku secara nasional sejak 1 Juli 2026.Skema B50 ini menggabungkan 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari olahan sawit dengan 50 persen solar murni.
Menurut Bahlil, ini adalah kali pertama di dunia sebuah negara menerapkan campuran biodiesel sebesar itu.
Apabila skenario E50 mampu mengikuti jejak keberhasilan B50, Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia punya peluang besar untuk menyetop impor bensin jadi sepenuhnya.
"Nah, kalau ini mampu kita lakukan ke E50, Insyaallah, Insyaallah target kita, kita tidak lagi melakukan impor bensin yang jadi, produk jadi. Nah, kalau ini mampu kita lakukan, itu pasti ketahanan energi kita tidak lagi kita menggantungkan ke luar secara besar. Itu kira-kira pikirannya," terang Bahlil dikutip oleh Uzone.id.
Kendati demikian, pemerintah belum bisa menjatuhkan tanggal pasti kapan target bebas impor bensin lewat E50 ini bakal terealisasi.
Pihak Kementerian ESDM saat ini masih berada dalam tahap menyusun roadmap atau peta jalan pengembangan bioetanol nasional.
"Nah, kapan ini dilakukan? Ini kan ada roadmap-nya. Kan baru diputuskan dalam DEN kemarin. Nah, tugas kami sekarang akan merancang dengan Dirjen Migas untuk merancang roadmap-nya gimana," kata Bahlil.
Tentu saja, E50 tidak dirancang sebagai lompatan yang serba mendadak. Mengacu pada Keputusan Menteri Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 tentang Penahapan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN), implementasi akan dilakukan secara bertahap: diawali dengan E10 pada tahun 2027, berlanjut ke E20 pada 2028, hingga akhirnya ditingkatkan menuju E50.
Bahlil juga memberi catatan penting bahwasanya eksekusi program ini wajib menyelaraskan dengan kemampuan industri bioetanol dalam negeri. Jangan sampai ambisi E10 hingga E50 justru malah memicu ketergantungan baru pada impor pasokan bioetanol.
"Tetapi kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50, tapi etanolnya diimpor dari luar, sama saja bohong. Jadi kita ingin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri," katanya.
Secara komersial, publik sebenarnya sudah bisa merasakan wujud nyata pencampuran bioetanol 5 persen (E5) pada BBM jenis Pertamax Green 95 milik Pertamina. Hanya saja, sifat penjualannya masih sebatas komersial biasa dan belum menjadi aturan wajib secara nasional.
"Sekarang Pertamina itu sudah secara voluntary menjual E5 dalam produk Green Pertamax 95 itu sudah sesuai dengan arahan dari keputusan dari Menteri ESDM," kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementrian ESDM, Eniya Listiani Dewi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII.
Status E5 kini dipersiapkan untuk bergerak dari sekadar produk sukarela menuju kewajiban resmi. Di saat yang sama, pengujian teknis untuk tahap lanjutan seperti E10 dan E20 juga terus dimatangkan.
"Dan selanjutnya pada tahun 2026 ini implementasi direncanakan untuk bisa dimandatorikan dan kita sedang mempersiapkan uji teknis E10 maupun E20 dan seterusnya," kata Eniya.
FAQ Artikel
Apa itu Bioetanol 50% (E50) dan tujuan pengembangannya?
E50 adalah campuran bahan bakar yang terdiri dari 50% bioetanol. Tujuannya adalah untuk menghentikan impor bensin jadi sepenuhnya dan meningkatkan ketahanan energi nasional.
Apa yang menjadi dasar keyakinan pemerintah terhadap E50?
Keyakinan pemerintah didasari oleh kesuksesan penerapan biodiesel 50% (B50) yang telah resmi berlaku secara nasional sejak 1 Juli 2026.
Kapan target bebas impor bensin melalui E50 ini akan terealisasi?
Pemerintah belum bisa menentukan tanggal pasti. Saat ini, Kementerian ESDM masih dalam tahap menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan bioetanol nasional.
Bagaimana tahapan implementasi Bioetanol 50% (E50) direncanakan?
Implementasi akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan E10 pada tahun 2027, dilanjutkan ke E20 pada 2028, hingga akhirnya ditingkatkan menuju E50, sesuai Keputusan Menteri Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026.
Mengapa penting untuk menyesuaikan program E50 dengan kemampuan industri dalam negeri?
Penting agar ambisi penerapan E10 hingga E50 tidak malah memicu ketergantungan baru pada impor pasokan bioetanol, melainkan memanfaatkan produksi dalam negeri.
Apakah sudah ada produk BBM dengan campuran bioetanol yang tersedia di pasaran?
Ya, Pertamina sudah secara komersial menjual Pertamax Green 95 yang mengandung campuran bioetanol 5% (E5), meskipun statusnya masih sukarela. E5 direncanakan menjadi mandatori pada 2026.
Brian Priambudi
Jurnalis

