
Mula-mula adalah dua kisah tentang kematian. Pertama, Siti Maswiyah yang meninggal di usia 60 tahun. Di Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, jenazahnya ditanam di kebun belakang rumahnya. Tata cara penguburannya amat sederhana.
“Tak ada karangan bunga. Tak ada prosesi panjang. Tak ada bunyi tangis sesenggukan. Tak ada wanita-wanita berkerudung hitam dengan kacamata ryben menutupi air mata menetes-netes. Tak ada ucapan dengan sambutan-sambutan panjang. Tak ada salvo…,” tulis Farid Gaban dalam esai bertajuk “Di Bawah Pohon Durian” yang terdapat dalam Belajar Tidak Bicara: Solilokui (1997).
Jasad Siti Maswiyah bersemayam di bawah lindungan udara Parung yang sejuk. Dilingkung pohon melinjo yang setiap pagi meneteskan embun dari daun dan bulir buahnya, pohon pisang yang menari-nari ditiup angin, dan pohon kelapa yang menjulang. Cahaya mentari jatuh di atas pusara lewat celah daun pohon durian dan rambutan.
“Persemayaman yang sempurna, yang membuat iri setiap orang Jakarta—tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran,” imbuh Farid.
Kisah kedua datang dari Bro, seorang eksil yang meninggal dunia di Paris. Setelah meninggal dunia jasadnya dikremasi. Sebagian abunya dibawa ke Indonesia, ke daratan Nantalu, Sumatera Utara. Kawannya membawa cawan berisi abu jenazah itu ke tepi sungai, hendak dilarung.
Bro dan kawannya tak pernah mengangankan istirahat panjang dengan cara seperti itu. Waktu kecil mereka mendambakan kelak dikuburkan di bawah langit biru jernih di sekitar hutan hujan.
Dari dalam kubur mereka bisa menyaksikan dan mendengarkan deru air yang jatuh meluncur membasuh tebing, dan menghanyutkan jutaan kiambang buih, serta meninggalkan jejak pelangi di pepohonan.
“Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami tak merasa nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis,” ujar kawan Bro.
Kisah tersebut merupakan penggalan dari cerpen bertajuk “Melarung Bro di Nantalu” karya Martin Aleida.
Kematian dan kuburan. Narator pada dua cerita tersebut mendambakan makam yang jauh dari bahaya yang ditimbulkan akibat aktivitas dan keputusan-keputusan manusia.
Farid Gaban menyebut Jakarta dengan cara yang amat tipikal. Ibukota negara digambarkan dari sudut pandang yang paling klise: “tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran”.
“Berimpitan” dan “penggusuran” adalah siksaan khas bagi masyarakat marginal di perkotaan yang hidup bagai kutu loncat, dan tak jelas kewarganegaraannya karena KTP pun kerap tidak punya.
Sedangkan Martin Aleida menyebut bahaya itu dengan “ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis”. Aktivitas manusia memang kerap merampok tempat mereka yang telah mati. Pekuburan Tionghoa yang tak pelit mendirikan tembok, tak jarang dijadikan sebagai tempat jemuran, tempat tidur, dan main kartu.
“Mana yang lebih penting, orang hidup atau orang mati?” kata Ali Sadikin ketika menggusur sebuah permakaman. Saat menjadi Gubernur Jakarta, ia menggusur sekitar 26 Tempat Permakaman Umum (TPU).
Selain mengoptimalkan makam tumpang dan sejumlah TPU di pinggiran kota yang relatif masih kosong, pemerintah juga bisa menjadikan TPU sebagai tempat wisata.
“Dinas TPU masih berkutat pada kegiatan rutin gali lubang tutup lubang, menguburkan jenazah, dan menguber-uber setoran retribusi makam,” tulis Nirwono Joga dan Yori Antar dalam Komedi Lenong: Satire Ruang Terbuka Hijau (2007).
Menurut mereka, menjadikan makam sebagai tujuan wisata masih jauh dari pemikiran aparat dan pejabat Pemprov DKI Jakarta. Padahal, imbuhnya, sejumlah kota di pelbagai negara seperti Sydney, London, Paris, Washington DC dan lain-lain, telah menjadikan makam sebagai salah satu penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di Jakarta, hal serupa mestinya bisa dilakukan. Sebagai contoh, TPU Karet Bivak seharusnya dapat dikelola secara baik sebagai tempat wisata makam karena di sanalah tempat dikuburkannya sejumlah tokoh terkenal seperti Bing Slamet, Benyamin Sueb, Pramoedya Ananta Toer, MH Thamrin, dan Ismail Marzuki.
Di TPU Karet Bivak juga “Si Binatang Jalang” Chairil Anwar dikuburkan sesuai dengan puisinya:
“di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin”.
Cita-cita tiap orang memang berbeda-beda, termasuk dalam soal kuburan. Ada cerita cukup legendaris di keluarga saya. Salah satu saudara kakek adalah seorang penakut. Kebetulan ia yang paling akhir meninggal dunia dibandingkan semua saudaranya. Konon setiap kali mengantar saudaranya yang hendak dikuburkan, atau saat ziarah setiap lebaran, ia selalu berpesan kepada anak-anaknya bahwa ia ingin dikuburkan dekat jalan raya.
“Kelak kalau emak meninggal dunia, jangan dikuburkan di ujung permakaman yang ada pohon beringin itu, di sini saja, dekat jalan raya,” ucapnya.
“Kenapa Mak?” tanya anak-anaknya.
“Di sini tidak akan terlalu menakutkan dan kesepian, sebab banyak tukang ojek yang lewat,” jawabnya.
Ya, cita-cita tiap orang memang berlain-lainan. Permakaman sebagai ruang perpisahan—karena kematian sekaligus ruang perjumpaan setiap kali ziarah—antara yang hidup dan yang mati, ternyata masih menjadi panggung pelbagai keinginan dan kecemasan.
Kota yang tumbuh bergegas dan menubruk-nubruk, kerap menyisakan pelbagai kekhawatiran termasuk bagi mereka yang masih hidup terhadap mereka yang telah mati. Kecemasan paling dasar tumbuh sebab permakaman tak imun terhadap ancaman penggurusan, banjir, polusi limbah, juga kondisinya yang sesak dan semenjana.
Lapisan berikutnya adalah kehendak untuk bisa mengakses permakaman secara mudah dengan memilih yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, juga keinginan untuk mengumpulkan semua kerabat dalam satu komplek permakaman.
Sebagai pengecualian, pada kasus di TMP Kalibata, kita barangkali boleh menduga, bahwa para pensiunan tentara dan polisi yang berbondong-bondong dikuburkan di sana adalah juga ejawantah atas cita-cita untuk menjadi pahlawan atau dianggap pahlawan.
Baca juga artikel terkait KUBURAN atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh