
Uzone.id - Belum lama ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menetapkan kewajiban BBM dengan kandungan etanol hingga mencapai 10 persen alias E10 di Indonesia.
Jika nantinya ini sudah dilakukan, bagaimana dampaknya kepada motor keluaran lawas?Ferry Nurul Fajar selaku Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Mfg menyebutkan etanol perlu diperhatikan pada jumlah kandungan air yang ada di dalamnya.
Menurutnya, kandungan air pada BBM dengan etanol, bisa memiliki efek kepada mesin sebuah motor.
"Oksidasi etanol yang ditakutin itu air, tergantung jumlah kandungan air-nya. Lama-lama pasti ada efek ke mesin," ujar Ferry ketika dihubungi Uzone.id.
Ferry menilai, jika pada motor lama harus memperhatikan nilai oktan pada BBM yang digunakan, karena mesin-mesin jaman dahulu biasanya memiliki kompresi yang rendah.
"Kalau motor lama harus diperhatikan nilai oktan-nya, karena motor-motor lama biasanya kompresinya rendah," ucap Ferry.
Meski demikian, menurut Ferry BBM dengan kandungan etanol sampai 10 persen alias E10 masih aman untuk digunakan oleh motor keluaran lama yang saat ini masih banyak diandalkan masyarakat Indonesia.
"Kalau deposit harusnya aman, asal kadar etanol-nya tidak lebih dari 10 persen," jelasnya.
Ferry menjelaskan, untuk motor lawas dipatok dari yang tidak menggunakan teknologi pendingin radiator. Karena biasanya mesin motor yang tanpa radiator, memiliki kompresi mesin rendah.
"Paling gampang motor yang engga pakai radiator rata-rata kompresi pasti rendah, motor lama jarang pake radiator, klo Yamaha semenjak keluar mesin maxi baru kompresi tinggi," sebutnya.
Artinya motor yang lawas yang berkompresi rendah biasanya merujuk pada keluaran 2005 ke belakang. Meski demikian, masih banyak motor baru saat ini yang masih menggunakan pendingin udara, alias tanpa radiator dengan kompresi rendah.
Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung, Profesor Tri Yuswidjajanto mengatakan memang terdapat kekhawatiran mengenai etanol yang bisa merusak mesin. Menurutnya ini tidak berdasar, karena hanya berpengaruh terhadap tenaga mesin yang kecil sekali.
"Pengaruhnya terhadap tenaga mesin cuma sekitar 1 persen, tidak terasa, dan kendaraan tidak rusak," ungkapnya dikutip dari Antara.
Perlu diketahui, keputusan Bahlil mengenai implementasi E10 sudah disampaikan beberapa hari lalu. Menteri ESDM itu mengatakan Presiden Prabowo Subianto menyetujui mandatori campuran etanol 10 persen untuk BBM.
Alasannya, penggunaan etanol 10 persen adalah untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan terhadap impor BBM.