
-
Uzone.id - Nama adalah doa. Dan inspirasi membuat nama oleh orangtua kepada anaknya bisa datang dari mana saja.
Bagaimanapun juga nama pasti mempunyai arti, walaupun posisi penempatannya tak sesuai.
Setidaknya ini yang dialami oleh sejumlah orang yang mempunyai nama terkesan unik dan malah menjadi bahan pergunjingan hingga menghebohkan.
Di Palembang, Sumatera Selatan, ada seorang pria yang diberi nama Saiton dan tertulis di Kartu Tanda Penduduknya.
Tercatat sebagai warga di Perumahan Taman Mekarsari Blok D2 Desa Sugirawas, Kelurahan Talang Jambi, Kecamatan Sukarami Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).
Saiton lahir di Paldas Banyuasin, 10 Febuari 1976. Nama tersebut, kata dia, merupakan pemberian kedua orang tuanya, Cik Nang dan Saimubah.
Asal muasal diberi nama tersebut karena dari 12 saudaranya yang lahir, hanya dua orang yang bisa bertahan hidup. Sepuluh saudaranya hanya bisa hidup di usia 5-7 tahun. Saat Saiton lahir, kedua orang tuanya pesimis jika anak bungsunya ini akan bertahan hidup seperti kedua saudaranya.
Orangtuanya pun berpikir anak mereka tidak bertahan hidup karena diganggun Syetan, kemudian diberilah nama Saiton. Sempat berganti nama menjadi Iskandar, Saiton malah sakit-sakitan. dia pun berganti nama lagi.
Aril
Tidak ada yang berbeda dari bocah laki-laki yang lahir di Banyuwangi pada 16 Juni 2007 ini. Seperti kebanyakan teman seusianya, ia senang sekali bermain bola bersama dengan teman sekelasnya.
Namun, yang istimewa, siswa kelas II tersebut memiliki nama yang unik, yaitu Aril Piterpen.
Namanya mirip dengan nama penyanyi band Noah, Ariel, yang sebelumnya terkenal dengan band Peterpan.
Usut punya usut saat ibunya akan melahirkan, Ariel dan bandnya Peterpan sedang manggung di Banyuwangi.
Tuhan
(Sumber: Kompas.com)
Nama pria di Banyuwangi ini membuat heboh karena di KTP tertulis Tuhan.
Ya, lelaki kelahiran tahun 2973 asal Kecamatan Licin, Banyuwangi, yang bernama Tuhan.
Tuhan, warga Dusun Krajan, Desa Kluncing, Kecamatan Glagah, bersikukuh untuk tidak mengganti namanya. Dia meyakini nama itu adalah pemberian orangtuanya dengan tujuan yang baik.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah meminta namanya diganti. Namun, dia tidak mau.
Polisi
Polisi, pemuda 22 tahun asal Dusun Pangarengan, Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, mendadak menjadi perbincangan.
Namanya memang tak lazim karena identik dengan nama profesi yang bertugas melindungi dan mengayomi masyraakat.
Karena namanya yang tak lazim itu, Polisi menjadi perbincangan saat surat tilang atas namanya beredar di media sosial.
Belakangan dia diangkat oleh pihak Kepolisian sungguhan untuk bekerja sebagai staf di kantor Polisi Pasuruan.