icon-category Telco

Bisa Dongkrak Pendapatan Rp14 T di 2025, 5G Siap Upgrade 5 Sektor Ini

  • 07 Jun 2022 WIB
  • Bagikan :
    Foto: Unsplash

    Uzone.id – Semakin canggih perkembangan teknologi, maka tandanya masyarakat juga harus menyambut peningkatan jaringan generasi terbaru. Setelah 4G, Indonesia sedang di fase adaptasi dan sosialisasi jangka panjang mengenai pentingnya jaringan 5G.

    Menurut Direktur Telekomunikasi Ditjen PPI Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Aju Widya Sari, 5G adalah game changer, khususnya bagi infrastruktur dan realisasi Indonesia menuju Industri 4.0.

    “Dari 5G, kita bisa menuntut efisiensi dan produktivitas demi terwujudnya Industri 4.0, seperti memanfaatkan big data analytics, faktor keamanan, hingga efisiensi energi agar negeri ini sanggup menuju green dan eco-friendly,” tutur Aju di acara webinar ‘5G Private Network sebagai Game Changer bagi Kota Industri’ pada Selasa (7/6).

    Secara umum, 5G memang menjadi gerbang utama dari harapan bahwa industri Indonesia dapat didukung penuh oleh teknologi serba otomasi, Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang lebih memadai, hingga konektivitas machine to machine.

    Namun, sebenarnya seberapa besar potensi 5G ini? Berangkali masih ada yang merasa bahwa jaringan 4G sudah lebih dari cukup, nyatanya 5G dapat mendongkrak pendapatan industri Indonesia begitu besar.

    Seperti yang dipaparkan Country Director Qualcomm Indonesia, Shannedy Ong, 5G sifatnya penting, baik untuk individu maupun industri.

    “5G dapat meningkatkan kemampuan sektor privat dan melahirkan potensi baru yang mungkin tidak dapat didukung oleh sistem lain. Sementara dari sisi consumer dan enterprise, ternyata ada incremental revenue di 2025 sebanyak 9 sampai 12 persen,” ungkapnya di acara yang sama.

    Ia melanjutkan, “Indonesia sangat tinggi potensi revenue-nya jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lain. Dari data A.T. Kearney Analysis, pendapatan 5G di sektor B2B2C [business-to-business; business-to-consumer] jika digabungkan mencapai USD1 miliar di 2025.”

    Perkiraan pendapatan industri di Indonesia berkat 5G tersebut setara dengan Rp14 triliun. Shannedy mengakui, ini menjadi peluang yang sangat besar dan layak digencarkan karena manfaatnya bersifat jangka panjang.

    Dari use case global yang pernah diterapkan pihak Qualcomm terhadap jaringan 5G ini beberapa di antaranya dapat menunjang smart factory, smart education, utility monitoring, smart logistics, smart building and automation, smart safety and security, smart healthcare, dan agriculture.

    Baca juga: Samsung Ngebut Siapkan 6G, Bakal Ada Hologram

    Bagaimana dengan Indonesia?

    Menurut penelitian yang dipaparkan Aju, setidaknya ada 5 sektor industri di Indonesia yang akan menyerap manfaat paling besar dari jaringan 5G.

    Pertama, residensial. Menurut Aju, perumahan di masa depan akan dilengkapi dengan infrastruktur berupa fixed wireless access.

    Kedua, kawasan industri, pabrikasi dan automasi. Sejauh ini, sektor satu ini memang dikenal membutuhkan teknologi canggih demi mempercepat proses manufaktur dan membuat kinerja lebih efisien.

    Ketiga, pertambangan dengan risiko sangat tinggi. Sama seperti kawasan industri dan pabrikasi, industri mining atau pertambangan juga sangat berpotensi dalam memanfaatkan 5G.

    Baca juga: 5G di Indonesia Kurang Greget?

    Keempat, kesehatan. Dari penuturan Aju, sudah saatnya sektor kesehatan di Indonesia semakin meningkatkan pengobatan dan monitoring jarak jauh.

    “Komunikasi keandalan tinggi yang dapat menyokong teknologi jarak jauh untuk sektor kesehatan ini sangat diperlukan. Dengan 5G, aspek visual untuk mendeteksi kesehatan pasien juga pasti dapat terwujud,” kata Aju.

    Kelima, pariwisata. Pihak pemerintah, diakui Aju, juga berharap bahwa pariwisata Indonesia bisa kecipratan 5G. Hal ini bisa dimaksimalkan melalui konsep virtualisasi objek wisata sebagai daya tarik para calon wisatawan untuk melihat destinasi yang akan mereka kunjungi.

    “Fundamental 5G di Indonesia terletak di perluasan 4G secara merata. Ini masih menjadi PR pemerintah untuk terus memperluas 4G di desa-desa di wilayah 3T dan non 3T. Ketika jaringan 4G sudah kuat, baru 5G bisa dimanfaatkan sesuai impian industri. Ini cukup menantang, dan semoga bisa segala upaya bisa dilakukan,” tutup Aju.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini