icon-category Digilife

Bos Twitter yang Tinggalkan Twitter, Ujung-ujungnya Bitcoin?

  • 30 Nov 2021 WIB
  • Bagikan :
    Jack Dorsey/Foto: Wired

    Uzone.id -- Ke manakah Dorsey akan berlabuh? Apakah bio di akun Twitternya, yakni “#bitcoin” menjadi petunjuk gamblang?

    Mulai sekarang harus membiasakan diri bahwa CEO Twitter bukan lagi Jack Dorsey. Kursinya digantikan oleh Parag Agrawal per 29 November 2021 yang dulunya memegang peran CTO Twitter.

    Dalam surat pengunduran diri yang ia unggah ke Twitter, Dorsey mengatakan ia ingin perusahaan melepaskan diri dari visi dan kendali para pendirinya. Ia menyebut perusahaan-perusahaan yang dipimpin para pendirinya bisa “sangat membatasi”.

    Jika kita ingat perjalanan Dorsey, ia adalah CEO Twitter pertama dari 2006 sampai 2008, lalu sempat keluar dari perusahaan. Pada 2009 ia mendirikan perusahaan sendiri bernama Square. Kemudian pada 2015 ia kembali ke Twitter.

    Nah, sejak ia kembali ke Twitter, ia harus menjawab beragam pertanyaan mengenai komitmennya di Twitter, mengingat ia juga menjabat sebagai CEO Square hingga detik ini.

    Sekembalinya ke Twitter, Dorsey membawahi media mikroblog yang memiliki 211 juta pengguna harian ini yang sebenarnya tertinggal jauh jika dibandingkan dengan pengguna Facebook yang jumlahnya mencapai 2 miliar user.

    Baca juga: Profil Pengganti Jack Dorsey, Parag Agrawal

    Kendati begitu, selama ia memimpin, Twitter menjadi platform penting bagi berita, pembicaraan politik, hingga live streaming.

    Di tengah maraknya misinformasi, konten hate speech, dan para pemimpin dunia yang menyalahgunakan platformnya, Dorsey tetap berupaya meningkatkan kemampuan beriklan di Twitter, serta memperkenalkan produk baru seperti Space dan aliran pendapatan perusahaan.

    Bisa fokus penuh di Square
    Prediksi paling banyak tentu saja mempercayai bahwa Dorsey dapat kembali fokus ke Square, perusahaan fintech di San Francisco, Amerika Serikat, yang ia bangun sejak 12 tahun lalu.

    Bagi yang belum tahu, Square adalah perusahaan pembayaran yang mengelola transaksi point-of-sale untuk pelaku bisnis kecil dan menengah, atau UMKM di sana.

    Square termasuk perusahaan startup yang kini tumbuh besar. Square membawahi Cash App, aplikasi pembayaran peer-to-peer yang menyaingi Venmo milik PayPal. Belum lama ini Square memperluas jejak e-commerce dengan mengakuisisi Afterpay sebesar USD29 miliar, perusahaan Australia yang mempelopori konsep BNPL (buy-now, pay-later).

    Bahkan Square tercatat telah menaungi layanan hosting web Weebly, streaming musik Tidal, dan aplikasi pengiriman makanan, Caviar.

    Contoh pembayaran menggunakan Square. (Foto: Business Insider)

    Meski Twitter telah menghasilkan keuntungan di tiap kuartal 2021, perusahaan berlogo burung biru itu kehilangan USD1,14 miliar pada 2020.

    Lain halnya dengan bisnis Square. Fintech satu ini sukses menyabet keuntungan USD1,13 miliar sepanjang kuartal ketiga 2021, dan selama ini terus mengeruk keuntungan secara konsisten dari tahun ke tahun.

    Tantangan finansial Twitter memang kebanyakan terbatas dari kemampuan perusahaan dalam menjual iklan digital yang telah didominasi oleh Google dan Facebook. Sementara Square sendiri telah memegang kuat sistem pembayaran konsumen secara luas.

    Bisa dibilang, Square telah menangkap peluang di ranah penjualan toko offline, e-commerce, peer-to-peer, dan pasar kripto.

    Makin rajin main kripto
    Alasan selanjutnya yang membuat seorang Dorsey hengkang dari Twitter bisa saja memang personal, yaitu ingin menggencarkan investasinya di ranah kripto.

    Rasanya mudah membayangkan betapa cintanya Dorsey terhadap cryptocurrency sampai-sampai ia tergerak untuk menulis “#bitcoin” di bio Twitternya.

    Pada Agustus lalu, Dorsey sempat mengklaim kalau mata uang kripto, bitcoin, dapat menyatukan negara-negara yang pecah dan juga satu dunia. Dorsey juga meramalkan bitcoin akan menjadi mata uang tunggal dunia di dekade yang akan datang.

    Baca juga: 5 Fakta Jack Dorsey Selama Jadi CEO Twitter

    Ia tak ragu untuk mengumumkan bitcoin sebagai “bagian besar” dari masa depan Twitter kala itu.

    Namun, Twitter mungkin bukan rumah yang tepat bagi ambisi Dorsey terhadap kripto.

    Twitter masih tertinggal jauh di belakang kompetitornya di sektor e-commerce. Meski perusahaan telah membuat tim untuk fokus mengembangkan proyek blockchain dan kripto untuk pembayaran kepada kreator, CFO Twitter Ned Segal tidak setuju dengan ide investasi kripto tersebut.

    Sedangkan Square… sangat mungkin memberikan Dorsey platform finansial yang ia butuhkan dan merealisasikan mimpi kripto-utopianya.

    Square sendiri sudah mengarah ke kripto dan memegang 5 persen dari cadangan kasnya dalam bentuk bitcoin, setelah terakhir membeli USD170 juta dalam bitcoin pada Februari 2021.

    Tak lupa Cash App yang dinaungi Square juga mengizinkan para pengguna untuk membeli dan menjual bitcoin di dalam platformnya. Cash App juga bekerja pada platform finansial berbasis bitcoin yang terdesentralisasi, serta tengah mempertimbangkan untuk membangun sistem penambangan bitcoin.

    Melalui Square -- bukan Twitter -- Dorsey sangat mungkin dapat bertaruh untuk masa depan mata uang kripto.

    Cek berita dan artikel yang lain di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini