Bot Meta AI Sebut Komdigi Takedown Konten, Komdigi Minta Klarifikasi
Komdigi membantah klaim Meta AI atas penghapusan konten demo, menyebutnya 'halusinasi AI' serta mengimbau masyarakat verifikasi.

Highlight Artikel
- Insiden Meta AI yang menyebut konten demo anti-presiden di-takedown oleh Komdigi memicu kontroversi.
- Komdigi membantah pernyataan Meta AI, menegaskan bahwa jawaban chatbot tidak dapat dianggap sebagai pernyataan resmi perusahaan dan seringkali merupakan 'halusinasi AI'.
- Masyarakat diimbau untuk 'trust but verify' (percaya tapi verifikasi) semua informasi, terutama yang berasal dari AI atau menyangkut kebijakan pemerintah.
- Pakar keamanan siber meminta masyarakat berhati-hati terhadap potensi manipulasi opini melalui AI dan mendesak pemerintah untuk lebih terbuka terhadap kritik.
Uzone.id — Insiden Meta AI
yang menyebut kalau konten-konten soal demo anti presiden di-takedown oleh
Komdigi terus berlanjut. Dalam pernyataan Kementerian Komdigi, pihaknya telah
meminta klarifikasi dari pihak Meta terkait jawaban Meta AI tersebut.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital
Kemkomdigi, Mediodecci Lustarini menyatakan bahwa jawaban yang dihasilkan
chatbot AI (dalam case ini, Meta AI) tidak dapat langsung dianggap
sebagai pernyataan resmi perusahaan.
Menurutnya, AI kini bisa menghasilkan informasi yang
terdengar meyakinkan meskipun tidak didukung fakta yang akurat. Biasanya, hal
ini disebut sebagai halusinasi AI.
“AI dapat membantu masyarakat mencari dan memahami
informasi, tetapi jawabannya tidak selalu benar. Karena itu, setiap informasi
penting tetap harus diperiksa melalui sumber yang kredibel, terutama jika
menyangkut kebijakan pemerintah atau tuduhan terhadap pihak tertentu,” kata
Mediodecci.
Komdigi pun meminta masyarakat untuk tetap objektif dan
menerapkan prinsip trust but verify dengan memeriksa sumber,
membandingkan informasi, dan tidak langsung menyebarkan jawaban AI yang belum
terkonfirmasi.
Sejalan dengan ini, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya turut meminta masyarakat tetap berhati-hati karena AI bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak dengan tujuan yang berbeda.
“Karena itu, dugaan penggunaan bot untuk membentuk opini
harus diperiksa secara objektif. Arah dukungan suatu akun tidak cukup untuk
membuktikan adanya manipulasi,” tambah Alfons.
Namun, di sisi lain Alfons tetap meminta pemerintah untuk
terbuka pada informasi dan juga kritik dari masyarakat.
Huru-hara ini sendiri terjadi setelah ada warganet di
Threads yang bertanya ke bot Meta AI mengenai pemblokiran akun instagram dan
konten demo anti presiden. Meta AI pun menjawab bahwa sebagian besar tindakan
pemblokiran yang mereka lakukan karena permintaan dari pihak Kementerian
Komdigi.
“Kasusnya bukan Meta anti-demo, sebagian besar pemblokiran itu karena Meta nurutin permintaan hukum di Komdigi,” kata chatbot Meta AI.
Mereka melanjutkan, “Di Indonesia lagi rame, riset SAFEnet +
Remotivi catat 73 tindakan takedown April-Agustus 2026, mayoritas konten kritik
program Presiden Prabowo, dan 90,4 persen karena permintaan Komdigi. Polanya
Instagram kena 12,3 persen dari kasus itu, dengan keterangan resmi
"Account not available in Indonesia. This is because we complied with a
legal request from KOMDIGI".
Pertanyaan dari salah satu pengguna sendiri merujuk pada
kasus pemblokiran akun demo anti presiden yang terjadi di AS. Dalam
keterangannya, Meta menyebut bahwa pemblokiran ini terjadi karena terkena
auto-moderasi sehingga mereka melakukan permintaan maaf.
“Kalau sampai ke-blokir kebablasan atau kena auto-moderasi,
Meta biasanya restore dan minta maaf—itu yang lu lihat kemarin,” tambahnya.
FAQ Artikel
Apa inti dari insiden Meta AI yang dibahas dalam artikel?
Insiden ini bermula dari jawaban Meta AI yang menyatakan bahwa konten-konten mengenai demo anti-presiden di-takedown atas permintaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi), yang kemudian dibantah oleh Komdigi.
Bagaimana tanggapan Komdigi mengenai pernyataan Meta AI?
Komdigi menyatakan bahwa jawaban yang dihasilkan oleh chatbot AI tidak dapat langsung dianggap sebagai pernyataan resmi perusahaan. Mereka menyebut informasi tidak akurat yang dihasilkan AI sebagai 'halusinasi AI' dan telah meminta klarifikasi dari Meta.
Apa yang dimaksud dengan 'halusinasi AI' menurut Komdigi?
Halusinasi AI adalah kemampuan AI untuk menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan meskipun tidak didukung oleh fakta yang akurat atau kebenaran.
Apa saran Komdigi dan pakar keamanan siber kepada masyarakat terkait informasi dari AI?
Komdigi mengimbau masyarakat untuk tetap objektif dan menerapkan prinsip 'trust but verify' (percaya tapi verifikasi) dengan memeriksa sumber kredibel. Pakar keamanan siber juga meminta masyarakat berhati-hati karena AI bisa dimanfaatkan untuk membentuk opini dan pemerintah harus terbuka pada kritik.
Bagaimana awal mula insiden ini terjadi di Threads?
Huru-hara ini bermula ketika seorang warganet di Threads bertanya kepada bot Meta AI mengenai pemblokiran akun Instagram dan konten demo anti-presiden. Meta AI kemudian menjawab bahwa pemblokiran tersebut sebagian besar karena permintaan dari pihak Kementerian Komdigi.
Vina Insyani
Jurnalis

