
Uzone.id - BBM nabati yang diciptakan oleh Bobibos belakangan ini menarik perhatian karena mampu menghasilkan bensin yang mendekati RON 98 hanya menggunakan limbah pertanian yaitu jerami.
BBM nabati Bobibos ditemukan oleh pemuda asal Jonggol, Jawa Barat, Muhammad Ikhlas Thamrin, usai melakukan riset selama bertahun-tahun untuk mengolah jerami menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan.Ikhlas melakukan riset BBM nabati ini tidak sendirian, dirinya bekerja sama dengan peneliti di PT Inti Sinergi Formula.
Inovasi ini juga menarik perhatian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar mengakui BBM nabati dari Bobibos memang ramah lingkungan.
"Kami belum melakukan diskusi langsung dengan tim Bobibos, namun menurut informasi dari media yang kami dapatkan Bobibos diproduksi menggunakan bahan baku jerami," ujar Supriyadi dikutip oleh Uzone.id.
Cuk Supriyadi mengaku BRIN pernah melakukan kajian bahan bakar dari jerami, kemudian produk akhirnya menghasilkan bioetanol.
"Kami memang pernah melaksanakan kajian bahan bakar dari jerami dengan produk akhir berupa bioetanol. Kami pun menduga bahwa produk Bobibos ini produk perantaranya adalah etanol yang mungkin diolah lebih lanjut menjadi biogasoline atau biohidrokarbon diesel, hal ini yang harus kami pastikan," lanjutnya.
Cuk Supriyadi menjelaskan sebenarnya bioetanol bisa diproduksi dari berbagai jenis biomassa seperti jerami, tandan kosong kelapa sawit, kelapa, nyamplung, dan sorgum.
Sementara jerami sendiri mengandung selulosa, hemiselulosa, glukosa, dan lingin yang memungkinkan untuk diolah menjadi energi dengan kandungan yang relatif seragam.
"Dengan bahan mentah berasal dari biomassa, maka emisi dihasilkan tentu akan lebih kecil atau ramah lingkungan dibanding dengan bahan bakar fosil, atau memiliki efek gas rumah kaca lebih kecil," jelasnya.
Cuk Supriyadi memaparkan, Bobibos akan menghadapi sejumlah tantangan untuk memproduksi jerami menjadi bioetanol. Salah satunya adalah biaya awal karena pengugnaan bahan kimia.
Selain itu perlunya bahan baku jerami dalam jumlah besar yang harus diesediakan, termasuk efisiensi produksi yang masih rendah.
"Untuk bisa digunakan sebagai bahan bakar pengganti BBM yang sekarang beredar, pemerintah telah memiliki mekanisme perizinan edar, pengawasan distribusi, dan regulasi teknis yang menuntut jaminan mutu bagi konsumen. Sehingga tahapan itu harus dilalui," pungkas Cuk Supriyadi.
Pihak BRIN mengaku siap mendampingi pengembang Bobibos untuk verifikasi, validasi, dan asistensi teknoekonomis agar inovasinya bisa dimanfaatkan lebih jauh lagi.
Meskipun untuk izin edar dan komersialisasinya masih tetap menunggu keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).