
Uzone.id - Pabrikan otomotif raksasa asal China, BYD, menambahka fitur dengan teknologi canggih pada citycar listrik andalannya, Atto 1 facelift, berupa teknologi sensor LiDAR.
Keputusan ini menjadi sorotan karena fitur bantuan mengemudi canggih berbasis LiDAR umumnya hanya ditemukan pada EV segmen premium dengan banderol harga tinggi.Dengan menempatkan sensor presisi tinggi ini pada atap Atto 1, menjadikannya yang pertama di kelasnya yang mengadopsi teknologi tersebut.
Langkah berani BYD ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk melakukan "demokratisasi" teknologi cerdas.
Tujuannya adalah memastikan fitur-fitur canggih dapat dinikmati oleh pasar yang lebih luas, melampaui batas konsumen kelas atas.
Inilah mengapa Atto 1 facelift menjadi penanda perangkat keras persepsi presisi tinggi hadir pada mobil yang diperkirakan berharga di bawah 100.000 Yuan (sekitar Rp 220 jutaan, dengan kurs 1 Yuan = Rp 2.215).
Bahkan, berdasarkan bocoran faktur diler, Atto 1 facelift diprediksi hadir dalam empat varian dengan rentang harga yang jauh lebih terjangkau, yaitu mulai dari 65.000 Yuan hingga 80.000 Yuan (setara Rp 144 jutaan sampai Rp 178 jutaan).
Sebagai simbol kehadiran hardware canggih ini, BYD menyematkan emblem khusus bertuliskan "God's Eye B" pada bagian buritan mobil.
BYD Atto 1 2026 juga mendapatkan peningkatan substansial pada sektor performa. Motor penggerak kini memiliki tenaga 60 kW, meningkat dari versi sebelumnya yang hanya 55 kW.
Jarak tempuh mobil melonjak dari 405 km pada versi terdahulu, menjadi 505 km dalam sekali pengisian daya penuh dan menjaga efisiensi baterai, kecepatan puncaknya dibatasi hingga 130 kpj.
Secara dimensi, merujuk data Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) China, mobil ini tetap ringkas dengan panjang 3.780 mm, lebar 1.715 mm, tinggi 1.550 mm, dan jarak sumbu roda 2.500 mm.
Sebagai tulang punggung penjualan BYD di seri Ocean, Atto 1 sukses menjadi mobil terlaris dengan penjualan sebanyak 529.537 unit sepanjang tahun 2025 di China.
Integrasi LiDAR pada model entry-level ini menunjukkan niat BYD untuk memaksa kompetitor meramu ulang fitur pada mobil murah agar tetap kompetitif di tengah perang harga yang semakin sengit.